Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 10 LAMPU IJO


__ADS_3

Suara khas jangkrik dan hewan yang biasa kudengar di malam hari pada saat di desa ini sudah mulai terdengar menandakan malam kian larut.


Dan aroma khas Getah karet yang sudah kering dan baru saja keluar dari gudang belakang rumah buk kades masih menyengat. seperti biasa di akhir bulan pak kades akan menjual hasil getah karet yang telah disadap dan dikeringkan oleh buruh tani nya. Tidak tanggung-tanggung hasil panen nya dalam satu bulan bisa sampai 2 mobil truk.


Tiba-tiba terdengar suara knalpot motor yang sangat nyaring dari arah depan posko.


"Assalamualaikum"


"Tok tok tok" terdengar salam dan suara pintu diketuk tak lama setelah suara knalpot motor itu berhenti. terdengar seperti suara pak Ujang perangkat desa yang rencana mobilnya besok kami sewa untuk mengantar kami kembali ke kota. karena jarak tempuh dari desa ini ke kota tempat kami hampir 4 jam kurang lebih.


"Waalaikumsalam"


"Owh pak Ujang, masuk pak." Baskoro yang membuka pintu langsung mempersilahkan pak Ujang untuk masuk dan duduk di kursi kayu yang terbuat dari anyaman rotan.


"Baik mas terima kasih," tidak lama setelah duduk pak Ujang melanjutkan maksud dan niatnya keposko kami.


"begini mas Baskoro sebelumnya bapak minta maaf karena harus Kemari malam-malam jadi ganggu waktu istirahatnya"


"Ga apa-apa kok pak, kebetulan kita lagi kumpul sekalian perpisahan karena kalau sudah kejora kita sudah sibuk dengan urusan sendiri-sendiri pak"


"Bapak minta maaf seperti nya besok bapak ga bisa antar mas ke kota soalnya ini baru dapat kabar dari Bandarlampung Mbah saya meninggal dan saya akan langsung berangkat malam ini mas, tadi saya sudah telpon pak kades dan sekalian izin karena 2 hari lagi ada Musrenbang di desa kita. jadi tadi pak kades bilang biar besok diantar pak kades pakai mob Pak kades mas"


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, turut berduka cita ya pak. baik pak kalau begitu. harusnya telpon saja pak. kan kasihan bapak jadi repot2 kemari"


"Ya Ndak sopan to mas kalau lewat telpon terus Ndak jentel sama Ndak profesional ngono loh mas"

__ADS_1


"Kita juga kan selama disini sering ngerepoti bapak juga loh pak"


"Baiklah terima kasih ya den sudah mau mengerti dan hati-hati dijalan besok. jangan putus tali silahturahmi kita ya mas. kalau pas lewat desa sini. mampir wae, wes tak pamit dulu ya mas mbak2"


"Iya pak, hati-hati dijalan juga buat bapak mudah2an selamat sampai tujuan dan ini ada sedikit buat bantu beli bensin untuk pulang ke sana pak" Baskoro menyelipkan uang ke tangan pak Ujang yang entah berapa nominalnya.


"Waduh mas, Ndak usah... ngerepoti, sudah ada kok mas buat beli bensin,,"


"Udah pak terima saja, lah kan kita harus saling bantu membantu pak. kemarin-kemarin kami selalu dibantu oleh bapak kalau dibanding itu belum ada apa-apanya dengan bantuan bapak kepada kami selama kami di sini pak"


"Baiklah kalau begitu saya terima, terima kasih sebelumnya tak pamit ya mas, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" kami menjawab bersama salam pak Ujang


"Eh mas Tama, mau kemana mas?" suara Baskoro menyapa seseorang diluar posko


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" jawab kami secara bersama


"Maaf ni ganggu, saya mau bilang tapi kayaknya tadi pak Ujang sudah kesini. besok karena bapak ga bisa antar karena akan ada pak camat mau ambil titik nol pembangunan jalan di dusun 5 jadi saya disuruh bapak untuk antar kalian kekota. cuma mau memastikan jam berapa ya kita start berangkatnya biar bisa beli bensin dulu"


"Owh kita ngikut mas Tama saja mas, lah kan mas Tama yang punya mobil"


"Wah bukan itu mobil bapak, saya cuma sopir dan penikmat fasilitasnya hehehe" jawab mas Tama sambil tertawa dengan senyum manis khasnya

__ADS_1


"Ah mas Tama pasti selalu merendah begitu"


"Oh ya saya lupa, tadi ibu minta mbak Rana kerumah sebentar mbak kalau mbak Rana ga sibuk"


Jantung ku berasa berhenti seketika ketika mas Tama menatap ku dan sambil tersenyum dan mengatakan kalau buk kades memintaku kerumahnya, ini bisa jadi perihal obrolan tentang yang kemarin.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya, assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam"


"Cie cie....." suara teman-teman satu posko kompak melirik ku


"Qpa sih jangan mikir yang macem macem ya, ga jadi hoax atau fitnah" aku berjalan kekamar untuk mengambil handphone yang ku charge di kamar. manusia zaman sekarang begitulah Kemana-mana kau tidak ada handphone seperti ada yang kurang pas dan nyaman.


"Rin, ikut yok" pinta ku setelah keluar kamar


"Idih, ga ah mbak kan tadi kata mas Tama mbak Ran bukan Rina, trus mbak Rana pakek titik berarti ga sama yang lain mbak. udah Mbah kapan lagi sih udah dapat lampu ijo tuh dari calon mertua tinggal bilang Yes" goda Rina pada ku.


Selama disini memang Rina lah teman KKN ku yang ku rasa enak diajak ngobrol dan becanda dibanding yang lain.


"Lah dulu jodohin sama abangnya, sekarang ikhlas dikasih buat orang lain?"


"Jodoh itu ga kemana mbak, yang penting kesempatan didepan mata ga boelh dibuang. pamali kalau kata pak Ujang hehehe"


Aku langsung keluar posko setelah mendengar celoteh Rina menuju rumah buk kades yang tepat berada disebelah posko kami.

__ADS_1


#terima kasih sudah mampir disini mohon dukungan dan supportnya.


❤️❤️❤️ternyata butuh perjuangan ya jadi penulis. lebih nikmat jadi pembaca ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2