Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 69 IZIN SUAMI


__ADS_3

Aku duduk di kursi yang berada di depan ruang ICU dan mengobrol dengan ibu nya mas Ardi dan mbak Lena sedang keruang administrasi. Dari cerita ibu nya mas Ardi ternyata Ayahnya mas Ardi kecelakaan siang tadi dan dibawa kerumah sakit. Namun Ardi dihubungi dan belum bisa kerumah sakit. Belum lagi menantu nya yaitu Melinda begitu menjaga jarak. Bahkan menurut cerita ibu nya mas Ardi di malam hari acara ngunduh mantu pun Melinda langsung mengajak mas Ardi pulang kerumah orang tua nya.


Bahkan jika berkunjung kerumah bisa dihitung dengan jari. Aku menjadi prihatin dengan kondisi orang tua mas Ardi. Bahkan kaget karena bagaimanapun dulu aku cukup lama berhubungan dengan mas Ardi namun sifat nya tidak begitu. Dia termasuk anak lelaki yang berbakti kepada orang tua. Bahkan jika kami dari makan diluar ia akan membelikan 2 porsi makanan yang sama untuk dibawa pulang kerumahnya.


Terlihat pintu lift terbuka dan mas Tama berjalan ke arah ku.


"Sayang, kita kebawah. Ruangan buat Mak e sudah ada biar nanti perawat memindah kan mak e. Aku juga sudah telpon ibu dan bapak. Besok ibu dan bapak akan ke kota" Mas Tama duduk disebelah dan merangkul ku.


"Suami kamu Ran?" tanya bu Halima yang merupakan ibunya mas Ardi pada ku.


"Iya Bu, kenalkan ini mas Tama suaminya Rana. Mas, ini Bu Halima ibu nya mas Ardi"


"Owh ibu nya Ardi. Saya Tama Bu..." Mas Tama mengulurkan tangan ke arah Bu Halimah.


"iya saya ibu nya Ardi. Nak Tama kenal dengan Ardi?" Tanya Bu Halimah.

__ADS_1


"Rana pernah cerita dan kebetulan tadi siang kita sempat ketemu di showroom tempat dia bekerja Bu" jawab mas Tama jelas pada Bu Halimah.


"Ternyata betul ya Ran jika ada yang bilang perempuan yang baik akan mendapat kan lelaki yang baik pula. Dan itu ibu lihat pada kamu" buk Halimah terlihat menahan suara nya yang terdengar sedikit serak.


"Semua ada yang mengatur Bu, jodoh, maut, rezeki namun kita manusia hanya bisa berikhtiar" ucap ku pada Bu Halimah dan ketika mbak Lena telah datang aku pamit pada buk Halimah dan mbak Lena karena terlihat ibu sudah dibawa menuju ruang VIp yang di minta oleh mas Tama.


Kami berjalan mengikuti Mak e, aku berjalan disebelah Mak e. Terlihat Mak e meneteskan air matanya. Seolah ada yang ingin Mak e bicarakan pada ku namun terlihat dari wajahnya yang bibirnya separuh terkatup rapat dan beberapa jari nya terlihat kaku.


Stroke yang terjadi pada Mak e otomatis mengganggu aktifitas Mak e dan seperti sekarang mungkin membuat mak kesulitan sekedar untuk berbicara.


"Mak.... Sabar... Mak sehat dulu ya..." aku menenangkan Mak e.


Aku memberikan Mak e minum menggunakan sedotan karena Mak e masih harus tetap berada di posisi berbaring.


Tidak lama setelah dokter mengecek Mak e. Mak e tertidur mungkin karena obat yang barusan disuntik kan oleh dokter tke ubuh Mak e. Aku dan mas Tama duduk di sofa yang berada disebelah ranjang Mak e.

__ADS_1


"Mas beli Air jahe tadi. Ini minum dulu biar tubuhnya seger" aku meminum air bandrek kalau kami menyebutnya yaitu air jahe yang diberi gula merah serta susu dan beberapa rempah yang berfungsi untuk menghangatkan tubuh cocok untuk diminum ketika cuaca dingin seperti sekarang karena dari pagi hujan turun cukup deras, sehingga mas Tama membelikan ini tadi.


mas Tama menarik kepala ku ke paha nya. dan menyelimuti aku dengan jaket yang dipakai nya.


"Tidurlah sebentar mata mu sudah kayak panda. Mak e juga lagi istirahat. Nanti kita gantian jaga Mak e" Sudah beberapa hari ini aku tidur dengan posisi seperti ini ketika berjaga menunggu Mak e. Dan jika malam maka dipastikan suami ku tidak membangunkan ku melainkan terus menjaga Mak e.


"Terima kasih mas. Mas.,.. besok Rana mau kesekolah mengajukan pengunduran diri ya. hari ini obrolan di grub sangat tidak menyenangkan dari kepala sekolah. Seolah-olah Rana itu sudah berkali-kali melakukan kesalahan atau bolos. Padahal baru kali ini. Dari sindiran kepala sekolah, Rana disuruh milih keluarga atau sekolah. Lagipula Mak e harus tetap dirawat setelah ini. Mengingat mbak Imah merawat ibu nya maka tidak mungkin Mak e akan dirawat juga oleh mbak Imah. Boleh kan mas Mak e ikut kita?" Aku khawatir karena pak le Yatno pernah bilang pada ku untuk merawat orang tua harus izin suami dulu.


Berbeda dengan lelaki, jika lelaki setelah menikah maka kewajiban nya tetap sama berbakti kepada orang tua tidak perlu izin istri tetapi terkadang ada beberapa istri yang cukup sensitif hingga terkadang para suami harus memberikan uang pada orang tua nya sembunyi-sembunyi, seperti Rudi beberapa saat lalu bercerita pada mas Tama tentang masalah nya dengan sang istri yang sedikit keberatan jika Rudi memberikan uang pada orang tuanya.


"Mas sangat mendukung, tapi mas tidak mengijinkan mak e tinggal dirumah kita sekarang. Mas keberatan sayang jika Mak e ikut tinggal dirumah kita" mas Tama mengatakan hal itu menatap ke arah Mak e yang sedang terlelap di atas ranjang.


Seketika aku bangkit dari pangkuan mas Tama dan menatap wajah suami ku. Aku berharap salah mendengar dan salah mengartikan ucapan suami ku ini.


"Mas... Rana gak salah dengar kan?" Tanya ku dengan lembut dan menatap mas Tama.

__ADS_1


"Hem, kamu tidak salah dengar dan salah mengerti juga mas tidak salah bicara. Mas tidak mengijinkan jika Mak e tinggal bersama kita tetapi mas tidak keberatan kalau kamu ingin merawat Mak e.... "


"Biar mas dan mbak Imah yang rawat Mak e Ran" Tiba-tiba mas Hardi muncul dari balik pintu membawa sebuah tas ditangannya.


__ADS_2