
Sedari tadi perasaan ku tidak tenang. Mungkin karena kejadian di showroom tadi. Dan Pertama kali melihat suami ku marah hingga ada rasa was-was atau tidak nyaman dihati. Semoga mas Tama tidak memecat mas Ardi. Tetapi seperti hati ini memiliki firasat akan terjadi sesuatu.
Aku yang menunggu mas Tama dan hampir terlelap sedikit terkejut karena merasa ada belaian lembut yang menyentuh pipi ku. ketika aku membuka kedua bola mata ternyata ada mas Tama disisi ku.
"Maaf ya, kamu jadi bangun. Lanjutin aja tidurnya kalau masih ngantuk". Mas Tama yang kini ikut berbaring disebelah ku dan melingkarkan tangan nya di pinggang ku.
"Mas tidak meminta mas Ardi dipecat kan mas? apakah showroom itu milik Faris yang waktu itu mas bilang mau investasi di usaha showroom nya mas?" aku memainkan janggut suami ku ini yang terlihat beberapa helai namun tidak terlalu panjang. Namun bagian ini adalah bagian favorit ku sentuh ketika berbicara dalam keadaan berbari selain dada bidangnya.
"Kamu masih simpati kepadanya Ran?" mas Tama meraih dagu ku dan menatap netra ku penuh tanya.
"Bukan simpati tetapi kasihan jika seorang kepala keluarga harus berhenti bekerja. Mas lihat sendiri Melinda beberapa waktu lalu. Bagaimana gaya hidupnya? tentulah akan susah jika suaminya berhenti bekerja mas. Hanya itu tidak lebih. Bukan karena dia mantan pacar ku" Aku mengecup bibir nya membuktikan bahwa sekarang hanya ada dia didalam hati ku.
Mas Tama mengatakan bahwa tadi dia hanya ingin ada teguran saja untuk mas Ardi dan meminta untuk bertindak sopan pada ku jika bertemu kembali. Dan mas Tama meminta mas Ardi bertemu dengan nya besok, ada yang ingin mas Tama bicarakan. Dan jika masalah hubungan kami yang belum tuntas maka itu bisa dituntaskan melalui dia suami nya.
"Besok kamu ikut ke CV nya mas ya. Kamu belum pernah kesana. Diruangan mas ada tempat istirahat. Dulu sengaja dibuat sama Faris biar pas mas lagi kesana bisa istirahat. Dan mas ingin kamu disana tapi tidak bertemu dengan Ardi."
"Yakin tidak cemburu?" goda ku mencubit perutnya.
"Kan kamu tidak bertemu dengan dia. Ah... mas ingin berhenti Ran menjadi PNS. Mas rasa sekarang malah nyaman dengan bisnis dan investasi. Ada banyak waktu buat kamu, dan mas kadang di tempat kerja itu banyak hal yang mas tidak nyaman apalagi terkait kalau sudah ada pengadaan barang... Apa mas berhenti saja ya?"
__ADS_1
Mas Tama menunjukan wajah sendunya yang memang satu bulan ini dirinya selalu mengeluh karena ada banyak tekanan ditempatnya bekerja. Suami ku begitu punya prinsip. Tidak ingin melakukan jika itu bisa menimbulkan dosa. Apalagi suami ku dibagikan pengadaan barang dan tentu sering terjadi ketika atasan nya meminta untuk setiap nota belanja atau anggaran belanja di Mark up dan keuntungan tentu menjadi milik bosnya dan mas Tama mendapat bagian. Dan disana mas Tama selalu menolak namun lama-lama mas Tama makin tidak bisa bersabar karena makin menjadi saja bos nya itu.
"Rana terserah mas saja, Rana tidak mau mas menjadi ikut terseret jika suatu saat nanti hal itu terendus KPK mas. Dan Rana khawatir mas juga akan ikut arus dan kita jadi makan uang haram" Pendapat ku akan kegundahan hati mas Tama membuat mas Tama menarik napas panjang.
"Tunggu pengadaan barang yang ini. Jika pengajuan mutasi mas tidak dikabulkan oleh badan kepegawaian daerah mas akan resign"
"Jadi pengangguran dong mas?" tanya ku dengan tersenyum menggoda.
"Yang penting kantong sama kartu debitnya kan sayang?"
"Betul, betul, betul" jawab ku menirukan film kartun bocah kembar berkepala botak yang sering ditonton oleh hilman dan Rohman.
Aku cukup kaget, karena ini kali mas Tama membahas masalah kehamilan. Usia pernikahan kami baru hampir menginjak 2 tahun. Tetapi aku dan mas Tama memang sudah memeriksa kan diri pada dokter kandungan dan tidak ditemukan masalah serius saja.
Aku khawatir akankah masalah kehamilan ini mengganggu suami ku atau dia akan jenuh atau kecewa.
"Kalau dari matanya pikiran kamu jelas melalang buana kemana-mana. Jangan negatif thinking Rana sayang.... mas tidak masalah kamu hamil kapan atau tidak hamil. Yang mas khawatirkan itu kamu. Mas khawatir jika kamu hamil diusia lewat 35. Karena tentu fisik mempengaruhi."
Suami ku ini makin hari makin seperti seorang paranormal. Dia selalu tahu apa yang ada dalam pikiran ku sebelum aku menceritakan nya.
__ADS_1
Aku pun memutuskan untuk melihat sampai akhir tahun ini jika belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Maka aku setuju ide mas Tama. Toh kuakui kegiatan mengajar di sekolah swasta tidak sama dengan sekolah negeri walau gaji nya lebih besar dari honorer di sekolah negeri.
Kami gurus swasta haru menjadi pembina ekstrakulikuler. Dan setiap ada kegiatan itu kami akan bergiliran menjadi panitia acara tersebut. Sehingga kadang pulang malam. Seperti menjadi panitia acara perpisahan saat itu kamu harus Sampai malam membantu siswa mendekor. Belum lagi tekanan untuk promosi ke sekolah-sekolah SMP ketika akan kelulusan untuk promosi agar banyak siswa yang mendaftar kesekolah kami dan jika tidak tercapai target satu guru maka akan tidak diperpanjang kontrak kerja nya.
"Semoga Allah memberikan aku kesempatan untuk mengandung agar kebahagiaan aku dan suami ku makin terasa lengkap dan sempurna"
Tiba-tiba ponsel mas Tama berdering. Dan mas Tama mengangkat telpon itu dan dengan wajah cemas.
"Baik....baik mas. Kami akan tunggu dirumah sakit Hasannudin. Sekarang saya sama Kirana akan kesana" suara mas Tama terdengar cemas
"Dari siapa mas???" tanya ku penasaran.
"Dari mas Hardi Ran.. Mak e. Mak e terjatuh dikamar mandi dan tidak sadar dari Shubuh tadi dan dibawa ke puskesmas karena tidak ada perubahan Mak e dirujuk ke RS Hasannudin. Ayo kita kesana sekarang mas Hardi sudah dijalan dengan ambulan"
Aku menangis terisak mendengar berita yang mengejutkan dan mas Tama memeluk ku. Beberapa menit aku berada dalam pelukan mas Tama dan mencoba untuk menenangkan diriku karena khawatir dengan Mak e. Setelah reda, aku dan mas Tama bergegas ke Rumah sakit Hasannudin menggunakan taksi online.
Setiba dirumah sakit aku dan mas Tama menunggu kedatangan ambulan yang membawa Mak e. 20 menit kemudian ambulan itu tiba di UGD dan aku berlari kearah Ambulance Stretcher (Tandu ambulan) yang membawa Mak e turun dari ambulan menuju ruang UGD.
"Mak e.... Mak....hiks...hiks..." Aku memeluk Mak sambil setengah berlari mengikuti roda tandu ambulan yang bergerak cepat masuk keruang UGD. Terlihat mata mak e terpejam dan ada selang oksigen yang terpasang di hidung Mak e. Serta sebuah perban di pelipis kanan Mak e.
__ADS_1
"Mak e kenapa mas... Mak e kenapa.... Mak e ga kenapa-kenapa kan mas" Aku memukul dada mas Hardi lalu memeluk mas Hardi karena kami tidak boleh masuk dan terlihat mas Hardi juga ikut menangis.