Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 77 MENANTI KABAR MAS TAMA


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu. Namun masih belum ada kabar dari tim evakuasi dari korban pesawat yang jatuh di sebuah gunung daerah Jawa.


Support dari orang-orang terdekat terus berdatangan. Bahkan ibu mertua ku pun sudah satu bulan ini tinggal bersama ku.


Sahabat-sahabat ku juga setiap hari bergantian datang memberikan aku dukungan moril. Karena Sampai genap satu bulan pasca kecelakaan naas itu belum ada korban yang selamat.


Namun Kirana masih berharap sebuah keajaiban. Kirana selalu berdoa siang dan malam. Aku tidak pernah putus asa. Walau tubuhnya kini kian kurus, matanya kian cekung.


Hari ini kembali aku pergi ke kantor evakuasi korban pesawat naas itu. Namun jawaban dari tim itu masih sama. Kirana hanya diminta untuk memberikan sampel sikat gigi, dan keluarga kandung yang bisa diambil tes DNA serta rambut.


Kirana ke kantor evakuasi itu bersama pak Narso. Bapak mertua nya. Setiba disana tampak begitu ramai. Bahkan terlihat beberapa orang menangis histeris karena menerima kenyataan anggota keluarga nya telah ditemukan dan dinyatakan sebagai korban meninggal.


Aku tak kuasa melihat pemandangan itu. Aku meneteskan air mata karena turut merasakan kesedihan anggota keluarga yang baru saja kehilangan.


Walau hati ku mengucapkan syukur karena berita ditemukan korban meninggal itu bukan mas Tama. Bukan maksud hati ku berbahagia atas duka orang lain namu. aku begitu berharap suami ku itu selamat dari kecelakaan ini.

__ADS_1


Bapak mertua ku sedang menjalani tes DNA di suatu ruangan. Aku melihat ke sebuah aula yang terdapat barang-barang yang baru ditemukan oleh Tina SARS di tempat sekitar jatuhnya pesawat.


Aku terpaku pada sebuah sebuah sepatu pantofel yang berwarna cokelat. Aku berjalan ke arah sepatu itu lalu ku raih sepatu itu dengan tangan kanan ku. Aku memeluk sepatu itu. Aku menangis dengan terisak-isak.


"Mas..... Mas Tama.... hiks.hiks.hiks.... Kamu pasti selamat kan mas"


Aku terduduk dilantai, seolah tubuh ku begitu lemah. Seketika pikiran ku membayangkan mas Tama tidak selamat.


Entah kenapa kepala ku terasa begitu berat. Penglihatan ku makin kabur. Dan aku merasa makin berat hingga aku jatuh ambruk di tengah barang-barang yang baru ditemukan tim SARS.


"Brugh"


Ketika aku membuka mata ku. Aku melihat kedua mertua ku dan mas Hardi. Aku merasakan sakit kepala yang cukup membuat ku kesulitan untuk bangun.


"Istirahat lah Ran. kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran dan bergerak dulu."

__ADS_1


Ibu mertua ku menahan pundak ku yang baru saja akan mencoba duduk di ranjang yang berukura. 120x200 ini.


Ibu mertua ku memberikan minum melalui sebuah sedotan. Dan memegang kening ku beberapa saat.


"Ibu tahu kamu merasa kehilangan, kamu merasa sedih. Tetapi kamu harus ingat. Jodoh, rezeki, maut itu sudah di Allah takdirkan pada kita. Ketika jodoh datang, kita mungkin berbagai, begitu pun dengan rezeki yang datang. Namun jika mau pun datang maka kita boleh bersedia tetapi buat mereka yang mengalami pasti merasa bahagia. Karena kembali bertemu sang penciptanya Ran"


Ibu mertua ku menggenggam tangan ku. Satu tangannya yang lain membelai lembut kening ku.


Aku mengerutkan kening ku.


"Ada berita apa Bu?" tanya ku lirih dan seolah air mata ku telah habis terkuras selama sebulan ini. Aku ingin kembali menangis namun mata ku tak mampu menghasilkan cairan hangat yang biasa menemani hari-hariku selama satu bulan ini.


"Tenang lah Ran. Tama masih berstatus korban yang belum. ditemukan. Dan untuk berita yang ingin ibu sampaikan pada mu yaitu berita bahagia. Kamu harus kuat mulai hari ini. kamu harus sabar. Demi dia yang ada di rahim mu"


Satu tangan yang tadi menggengam tangan ku kini berpindah ke perut ku.

__ADS_1


"Maksud ibu aku hamil?"


Suara ku tersekat.


__ADS_2