
Kurang lebih hampir 2 jam perjalanan menuju desa ku. Dan Mas Tama menanyakan berapa lama lagi waktu untuk sampai di desa ku dan ternyata masih butuh waktu sekitar 45 menit. Mas Tama meminta izin untuk berhenti di salah satu masjid agar bisa menjalankan shalat Dzuhur khawatir sebentar lagi akan habis waktunya dan ku iyakan. Setelah kami berhenti di salah satu masjid dan melakukan shalat Dzuhur kami kembali melanjutkan perjalanan.
"Masih jauh ya mbak?" tanya Dwi yang masih nyaman menyadarkan kepala nya di pangkuan buk kades.
"paling 30 menit lagi sampai Dwi, pasti capek ya Dwi. Maaf ya jadi merepotkan" kata ku menatap wajah chubby Dwi.
"Engga capek kok mbak cuma pingin lihat suasana disana sama Dwi lapar lagi hehehe" jawab Dwi jujur diikuti tawa nya.
"hahaha.... biasanya makan nya porsi jumbo tadi pasti malu makan di rumah mbak Rana jadi ga berani ambil tambah" goda mas Tama dari arah kemudi yang tetap menghadap ke depan tapi menggoda Dwi.
"Mbak Rana jangan mau sama mas Tama, ribet mbak. Makan nya saja tidak bisa menikmati hidup. Harus ada sambelnya, harus ada lalapan nya, kalau bumi sayur ga mau banyak minyak nya lah... pokok nya ribet untuk dunia per lelakian." gerutu Dwi kepada ku.
"Loh bagus dong Dwi, sayuran itu baik buat kesehatan" jawab ku sambil tersenyum
"Ran ini belok kiri atau lurus?" tanya mas Tama pada ku
"Belok kiri mas, jalan nya sedikit jelek mas banyak berlubang. Nanti Setelah sekolah SD ga jauh dari SD itu puskesmas nya mas" jawab ku mengarahkan mas Tama.
Tidak lama kami tiba di depan puskesmas, aku bergegas masuk ke puskesmas dan bertemu Buk Tia bidan desa yang biasa bertugas di puskesmas.
"Buk, ibu diruangan mana?" tanya ku pada buk Tia tanpa berbasa-basi.
"Loh Rana, katanya kamu ga dikabarin. Kok bisa pulang?" tanya buk Tia heran
" Tadi ada ustad Abdul mampir ke kost an ku buk dan memberi tahu kalau ibu sudah beberapa hari dirawat di Puskesmas" jawab ku masih menatap buk Tia dengan perasaan sedih
"Ibu mu siang tadi sudah diperbolehkan pulang, itu asam lambungnya kambuh jadi Asma nya ikut kambuh" jawab buk Tia atas pertanyaan ku tadi.
"Baiklah, terima kasih buk kalau begitu saya langsung kerumah saja." aku mencium tangan buk Tia berpamitan dan keluar dari puskesmas diikuti mas Tama dan buk kades.
Tidak jauh dari Puskesmas ada sebuah Rumah yang semi permanen karena bagian depan rumah yang sudah terlihat sedikit baik karena sudah berdindingkan semen dan berwarna hijau bolu pandan warna favorit ibu dan terlihat suasana rumah masih sama seperti aku terakhir pulang.
Aku turun dari mobil diikuti mas Tama dan buk Kades serta Dwi.
"Mari Bu, ini rumah Rana" ajak ku pada buk kades ketika sudah berada di teras rumah.
"Assalamualaikum" ucap kami bersamaan.
"Walaikumsalam, Rana....." ibu yang sedang bersandar pada dinding dipan yang berada diruang tamu langsung melihat ke arahku dan meneteskan air mata.
Ya Tempat tidur ini tidak pernah dipindahkan kedalam kamar. tempat tidur yang muat untuk satu orang ini adalah tempat bapak ku dulu ketika sering sakit-sakitan. Sehingga bapak lebih nyaman tidur diruangan ini karena ketika ada teman atau kerabat bapak bisa ikut mengobrol setelah kepergian bapak ibu tidak mengijinkan tempat tidur ini dipindahkan. Berasa bapak masih ada disini begitu kata ibu pada mas Hardi ketika akan memindahkan tempat tidur itu kembali ke kamar.
"Kenapa kamu pulang Ran? siapa yang ngabari nduk? trus itu siapa?" pertanyaan beruntun ibu setelah melerai pelukan ku.
"Ibu yang mana dulu Rana mau jawab, ibu selalu begitu kalau bertanya bertubi-tubi" kata ku diikuti tawa karena ibu pun tersenyum
"Silahkan duduk buk, mas. Buk perkenalkan ini Buk kades yang dulu Rana ceritakan dan ini mas Tama dan Dwi anaknya buk kades. Tadi kebetulan pas Ustad Abdul mampir kerumah buk kades lagi main ke kost an nya Rana jadi buk kades memaksa buat antar Rana karena di terminal kata Ustad Abdul tidak ada sopir yang berangkat ke kota" jawab ku
"Salam kenal buk Hafso, saya memang memaksa mbak Rana lah wong tadi Ustad nya mau memberi tumpangan tapi kan beliau sendirian kalau saya kan bertiga. Kebetulan saya ya ada waktu jadi sekalian bisa kenalan dengan ibu" buk kades yang sekarang sudah duduk dipinggir tempat tidur menyalami i Mak e.
"Oala ternyata betul cerita Rana kalau ibu ini orangnya baik nya dari hati terus suka menolong orang. Saya mengucapkan banyak terima kasih selama Rana disana dibantu dan dibimbing oleh ibu sekeluarga" ibu juga menyambut hangat pelukan yang diberikan buk kades.
__ADS_1
"Ran, buatin minum GI terus bilang sama Mas Hardi dibelakang ambil ikan Gurame saja ini kita kedatangan tamu spesial. Mas mu lagi di kolam belakang" titah ibu kepada ku
"baik Bu, saya tinggal sebentar ya buk." pamit ku pada buk kades
"Memang dibelakang rumah mbak Rana ada Kolam?" tanya Dwi terlihat antusias
"Iya ada, ada kolam lele, ada kolam gurame sama kolam ikan Nila. Kamu mau ikut lihat?" tanya ku diikuti anggukan Dwi yang berjalan dengan setengah berlari kearah ku
"Nanti aku ikut menjaring ikan ya mbak Rana." pintanya sambil berjalan disebelah ku. dan ku jawab dengan anggukan
Kami sudah berada dihalaman belakang rumah dan terdapat 2 kolam terpal dan satu kolam semen.
"Mas Hardi" panggil ku ketika melihat mas Hardi sedang berada didepan kolam terpal ikan lele yang berukuran panjang
"Rana..... sama siapa kamu pulang?" tanyanya ketika aku telah menyalami tangan nya.
"Sama buk kades waktu aku KKN mas dan anaknya. Mas tega sekali kenapa aku tidak diberi kabar kalau Mak e dirawat?" jawab ku dan dengan suara yang sedikit serak karena menahan tangis.
"Mak e yang minta, katanya kamu lagi mau ujian semester, lah ini anak siapa Ran?"
"hehe... saya Dwi mas anak nya buk kades" Dwi langsung mendekat ke arah mas Hardi dan menyalami tangannya.
"Owh.... mau ikut megambil ikan lele?" tanya mas Hardi
"Boleh pakde?" tanya Dwi
"Boleh-boleh"
"Owh kalau Gurame yang itu Dwi, yang ini kolam ikan lele"
"Ran, telpon mbak yu mu suruh cepat hamil kesini biar bisa bantu masak" ucap mas Hardi ketika aku sudah hampir masuk ke dapur.
Ah rasanya rindu sekali degan suasana rumah terutama dapur ini. Dapur ini masih tidak berubah dengan nuansa Kuni nya. Ada 2 tungku kayu dan ada satu Kipas besar khusus untuk mengipas nasi yang sudah matang. Aku membuatkan minum untuk mas Tama dan buk kades.
Ternyata setelah ku telpon mbak Imah sudah datang bersama 2 keponakan ku. Hilman dan Rohman.
"Lah kok ga telpon dulu toh Ran kalau mau pulang jadi bisa disiapin Ndak keburu2 begini. Untung tadi mbak ngeliwet akeh (masak banyak)" mbak Imah memeluk ku dan meletakan wadah masih yang dibawa nya dari rumah.
Mbak Imah dan mas Hardi memang tinggal dirumah orang tuanya mbak Imah karena ibu nya mbak Imah yang sudah sepuh tidak mau kemana-mana, maunya tinggal dirumah peninggalan suaminya. Jadi mbak Ima sudah terbiasa setiap hari kerumah Mak e sekedar mengantar sayur atau lauk untuk Mak e.
"Lah wong Rana juga ndadak tadi mbak. Kebetulan buk kades lagi bertamu kerumah ya jadi nya ngerepotin beliau karena beliau ya Ndak setuju kalau aku pulang bersama ustad Abdul" jelas ku
"Padahal kemarin pas besuk Mak e di puskes sudah dibilang mas Hardi kalau kamu memang tidak diberi kabar karena mau ujian semester lah ini kok malah dikasih tahu dasar ustad Abdul itu mau cari perhatian kamu tapi jalan nya kok ya gitu mas Hardi jelas tambah jengkel itu sama tindakan ustad Abdul, suka-suka dia nya saja"
"Sssttt.... mbak Imah Ndak enak didengar tamu didepan" Ucapku seraya mengangkat jari telunjuk di bibirku. Maklum mbak Imah ini memang teman ku sewaktu di Irmas (Ikatan Remaja Masjid) jadi kami cukup dekat sebelum mbak Imah menikah dengan mas Hardi.
"Hehehe.... lupa kalo ada tamu Ran, langsung siapin makan wae Ran.... mbak langsung siapin bumbu Ikan nya"
"Siap mbak e. Imah keluar dulu Bawak roti nya buat teman teh" kataku seraya membawa nampan yang berisi roti, sepertinya memang banyak roti di dapur mungkin kemarin ketika tetangga atau saudara Mak e tilik mereka membawa buah tangan untuk Mak e.
"Silahkan dicicipi buk, mas.. cuma ada ini alakadarnya" ucapku setelah menyuguhkan teh dan roti di meja bundar ruang tamu kami. Meja dengan kental khas ukiran Jawa.
__ADS_1
"Wah repot-repot Ran, loh Dwi mana Ran?" tanya buk kades setelah melihat ku keluar dari dapur seorang diri.
"Owh tadi ikut mas Hardi mengambil ikan gurame di kolam buk. Kemungkinan ikut lihat mas Hardi membersihkan nya atau mungkin sudah ikut main bersama keponakan saya Rohman dan Hilman buk." jawab ku
Buk kades dan ibu tampak berbicara seperti sudah kenal akrab sedang aku hanya sesekali ikut obrolan buk kades aku pun melihat sekilas tingkah kikuk mas Tama dihadapan ku.
"Wah... maaf ini tadi terlanjur kotor jadi sekalian bersihkan ikannya. Maaf ya buk mas.... Hardi"
tiba-tiba mas Hardi keluar dari arah dapur dan menyapa mas Tama serta buk kades
"Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu dan mas Tama sudah repot-repot mengantar Rana pulang. " Ujar mas Hardi.
"Sama-sama nak Hardi. Rana ini anak yang baik tadi kebetulan saya disana dan ada waktu apa salah nya saya sekalian kenalan dengan keluarga nya Rana. Nanti kalau ada waktu kapan-kapan saya ajak bapak nya Tama sekalian kemari". jawab buk kades seraya menatap Mak e.
"Bu, kita ashar an dulu lalu kita ke kota lagi. Ini Bapak tadi WA katanya nanti jemput ibu dikota" Mas Tama menatap buk kades mengingatkan kalau mereka akan kembali kekota
"Loh, Ndak nginap saja Bu?" Cegah Mak e pada buk kades.
"Lah iya wong baru sampai kok sudah mau pulang Bu." mas Hardi ikut memberikan komentar
"Wah nanti kapan-kapan saja ini Tama besok ada kegiatan, saya juga dan anak-anak ga ada persiapan kalau mau nginap buk, nanti insyaallah kalau ada waktu saya sama bapak nya anak-anak akan kemari lagi"
Lalu buk kades dan mas Tama melakukan shalat ashar di rumahku. Diruangan yang memang disediakan khusus untuk ruang shalat di rumah ini. Lebih tepatnya itu adalah dulu kamar Mas Hardi lalu di alih fungsikan oleh Mak e jadi ruang untuk shalat.
Dan Mbak Imah yang telah selesai dengan menuju ikan Gurame asem pedas manis nya pun telah mengajak buk kades dan mas Tama untuk makan sebelum pulang ke kota.
"Kamu katanya mau ujian semester Ran?" kata mas Hardi
"Iya mas tapi 3 hari lagi sekarang masih libur Minggu tenang" jawab ku.
"Baiklah buk Hafso, nak Hardi dan mbak Imah saya mau pamit dulu. terus saya ucapkan terima kasih ya jamuan nya jadi ngerepoti ini" pamit buk kades pada Mak e dan mas Hardi
"Ya ndak lah buk. Kami yang jadi merepotkan ibu karena harus jauh-jauh mengantar Rana. Belum sempat istirahat sudah harus pulang lagi" Jawab Mak e
"Ga papa nak Hardi ibu senang, semoga pertemuan ini membawa keberkahan agar keluarga kita diberikan jalan untuk lebih dekat lagi. Saya pamit ya buk Hafso mudah-mudahan lekas sembuh.
Lalu buk kades dan mas Tama pamit setelah mobil hitam itu tak terlihat lagi dari teras aku menuntun Mak e untuk kedalam rumah. Tetapi Mak e meminta duduk diteras.
"Rasanya ibu melihat anaknya buk kades itu ada perhatian dengan kamu nduk, belum lagi buk kades itu sepertinya merestui perasaan anaknya. Apa kamu pacaran sama anaknya nduk?"
Deg, jantung ku berasa berhenti kenapa ibu bisa langsung secepat itu menebak dan hampir betul apa yang ibu prediksi.
"Ndak kok Bu, Rana ga pacaran sama mas Tama." bantahku
"Tapi suka apa Ndak?" Tiba-tiba mas Hardi ikut duduk didepan ibu diikuti mbak Imah.
"Iya, rasa nya Ndak mungkin Ran kalau Ndak suka sama kamu Sampai bela-belain antar kamu pulang". mbak Imah ikut mengomentari pertanyaan ibu tadi
"Mas Hardi apaan sih. Aku ya memang Ndak pacaran sama mas Tama. Aku masih mau fokus ke skripsi, sudah kok jadi bahas itu Rana mau mandi dulu Mak" pamit ku pada Mak e karena aku yakin kalau masih berada diruangan ini alhasil aku akan keceplosan apa yang terjadi antara aku dan mas Tama
"Mas ini laki-laki Ran, Tama itu suka sama kamu. Yang penting inget pesan Mak e jangan pacaran" teriak mas Hardi sambil memiringkan tubuhnya ke arah ku karena melihat aku berjalan sedikit terburu-buru.
__ADS_1
"Bapak katanya kalau ngomong Ndak boleh keras-keras, lah bapak ngomong sama bule kok teriak-teriak" Rohman yang duduk dipangku oleh mbak Imah protes pada mas Hardi.