
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi Ran, seperti apa kriteria suami mu?" Tanya mas Tama setelah kembali untuk mengisi kembali kartu Time Zone ketiga bocah tadi.
"Hem.... Yang jelas dia memperbolehkan ku untuk merawat Mak e atau mengajak Mak e tinggal bersama ku mas. Aku tidak ingin meninggalkan Mak E sendirian. Mak e tidak mau ikut mas Hardi karena mas Hardi memiliki tanggungjawab mengurus mertuanya yang sudah sepuh sedangkan Mak e masih bisa beraktifitas sendiri"
"Hanya itu?" Selidik mas Tama
"Apalagi ya, entahlah mas mungkin karena aku belum kepikiran untuk menikah jadi tidak ada dipikiran ku seperti apa kriteria khusus nya saat ini" jawab ku
"Lalu bagaimana dengan mas Tama sendiri?"
"Aku hanya ingin wanita itu mau menjadi makmum ku tapi bukan berdiri dibelakang ku tapi disamping ku Ran. Mampu menjadi Anak bagi kedua orang tua ku bukan menjadi menantunya. Mau sama-sama belajar menjadi pribadi lebih baik. Serta Dia sudah siap secara usia dan Ilmu untuk membina sebuah rumah tangga juga sudut pandang nya tentang pernikahan itu yang paling penting"
"Apakah kriteria cantik tidak masuk ke kriteria mas Tama?" tanyaku penasaran karena bagi laki-laki bukan kah kebanyakan dari kaum Adam itu Cantik adalah yang membuat point' plus sendiri pandangan mereka terhadap makhluk yang bernama wanita.
"Cantik itu relatif Ran, Wanita itu pada hakikatnya semua nya cantik. Hanya saja wanita itu akan cantik jika bersama dengan laki-laki yang tepat. Dan laki-laki itu harus punya sifat bersyukur karena jika tidak punya sifat itu mau secantik Cleopatra pun maka tidak akan dikatakan cantik karena matanya akan melihat wanita lain lebih cantik dari wanita yang ada disisinya"
"Amazing jawaban yang jarang terdengar dizaman yang sekarang ini modis, apa-apa harus berpenampilan menarik termasuk katanya untuk bekerja pun kadang penampilan kita ikut dinilai"
"Ya Ndak juga, tergantung pekerjaannya" mas Tama menyikapi komentar ku dan tertawa.
"Lalu untuk pernikahan sendiri apa menurut sudut pandang mas Tama?" tanya ku kembali karena kurasa ini adalah waktu kami mengobrol untuk tahu apakah ada kecocokan dari sudut pandang kami dalam menilai beberapa hal.
__ADS_1
"Pernikahan ya.... ehm.... Buat aku pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral Ran, Bahkan bagi ku jika bisa diberi kesempatan aku hanya ingin menikah satu kali dalam hidupku. Pernikahan adalah suatu hubungan yang harus dimulai dengan kejujuran, kedewasaan kecukupan ilmu dan kemapanan"
"Maksud mas Tama kita harus punya materi atau harta dulu baru menikah"
"Tidak begitu juga, kemapanan disini adalah suatu hal yang aku titik beratkan pada diriku. Minimal aku menyelesaikan kewajiban ku terhadap pendidikan ku serta aku sudah harus mampu mencari uang apapun pekerjaan nya tidak harus menunggu punya pekerjaan tetap tapi dari kegigihan dalam ikhtiar menjemput rezeki karena menikah itu tidak cukup dengan adanya suka sama suka dimana kita harus bisa menjadi jembatan penghubung sekaligus lem perekat untuk kedua keluarga karena yang menikah bukan hanya kita tapi juga keluarga kita yang 2 keluarga menjadi satu dan juga...."
"Maksud saya tentang sudut pandang mas, bukan tentang kita" putus ku mendengar mas Tama mengatakan kita.
"Ya maksudnya itu sudut pandang ku apa kamu tidak setuju dengan sudut pandang ku? apa ada yang salah?"
"Tidak kurasa cukup baik tapi untuk kata kita nya belum bisa diperjelas sekarang, berhubung sudah jam 9 lewat mas tadi Mak e pesan jangan malam-malam pulangnya" jawab ku sambil melihat jam di pergelangan tangan ku.
Terlihat tiga bocah tadi sibuk bermain kini sudah duduk manis di meja kami dan memakan siomay serta beberapa cemilan lain yang telah mas Tama pesan untuk mereka bertiga.
"Besok kapan-kapan kalau mas Dwi ke desa kita gantian aja mas Dwi jalan-jalan tapi kita jalan-jalan nya kesungai ya mas Ndak ada tempat bermain seperti ini" Tutur Hilman adik bungsu Rohman
"Iya, Nanti sekalian aku Bawak pancing dan jaring payung ku untung menangkap ikan" Dwi menanggapi perkataan hilman dengan mulut yang berisi oleh Tahu goreng.
"Itu kalau ngomong mulutnya dikosongin dulu...." Mas Tama mengambil tisu dan mengelap mulut adiknya dengan sedikit mendorong sehingga adik kakak itu terlihat saling cubit-cubitan pinggang yang membuat aku ikut tersenyum melihat tingkah mereka.
Ketika anak-anak sudah menghabiskan menu mereka kami pun mulai meninggalkan Mall tersebut dan menaiki mobil coklat mas Tama.
__ADS_1
Sekitar hampir 20 menit mas Tama berhenti di sebuah toko martabak dan meminta ku menunggu dimobil bersama ketiga anak yang sudah menyenderkan kepala mereka satu sama lain
Terlihat mereka sangat lelah. Entah berapa ratus ribu mas Tama mengisi kartu Time Zone mereka karena kulihat dari tadi semua permainan mereka coba.
Mas Tama sudah kembali kedalam mobil dan meletakan 3 bungkus Martabak.
"Nanti buat mak e. Yang ini buat mas Hardi. kalian tidur di rumah yang berbeda kan"
"Iya mas, ngerepoti mas."
"Cuma martabak kok Ran"
Suasana jalan masih cukup ramai sehingga mas Tama mengendarai mobilnya pun dengan kecepatan sedang. Terlihat masih banyak pemuda pemudi yang berada di Taman bundaran menandakan waktu memang belum terlalu larut malam tapi bagi ku yang sudah dipesan Mak e untuk pulang jangan lebih dari jam 10 malam sudah mengatakan suasana ini sudah larut malam karena pukul sudah menunjukan 09.45
"Ran...."
"Iya mas...."
"Aku mohon Ran, aku butuh kepastian mu tahun ini aku tidak bisa menunggu Terlalu lama Ran usia ku 1 tahun depan sudah menunjukan usia 28 Tahun"
"Baik mas, mudah-mudahan akhir bulan ini aku bisa memberikan jawaban untuk hubungan kita akan dibawa kemana, sekedar teman atau Ke jenjang Pernikahan"
__ADS_1