
Tangan yang menutup mata ku kini berpindah ke perut ku. Tangan itu mengelus perut buncit ku. Aku yang hanya memakai daster tanpa berjilbab sedikit kaget khawatir lelaki lain nekat masuk ke belakang rumah.
Aku membalikkan tubuh ku. Aku terdiam melihat sosok lelaki yang berada di depan ku. Lelaki yang bertubuh tegap, Lelaki itu tersenyum begitu manis ke arah ku sehingga menimbulkan kedua lesung pipinya. Lesung pipi yang selalu aku rindukan. Lesung pipi yang akan ku sentuh dengan telunjuk ku ketika lelaki ini tersenyum.
Aku meraba wajah lelaki itu. Wajah teduh yang selama ini tak dapat ku raba. Terdapat sebuah luka goreng di dagunya. Aku memegang bekas luka itu. Air mata ku pun yang telah cukup lama tidak menangis, kini ujung mata ku mampu menghasilkan butiran bening yang hangat dipipi.
Terlihat lelaki ini mengenakan kemeja coklat dan celana dasar. Sebuah tongkat kayu kecil berada ditangan kanan nya seolah menopang tubuh nya.
Bibir ku seolah rindu mengeluarkan sebuah nama, yang selalu menyebut nama lelaki ini dalam setiap doa. Siang malam aku berharap sebuah keajaiban disaat semua korban pesawat naas itu dinyatakan tewas semua.
"Mas..... Mas Tama...."
Aku memeluk lelaki yang berada didepan ku itu. Tubuhnya terasa sangat kurus, aroma tubuh suami ku pun terasa asing mungkin karena lama tak bersama. Hingga aku memegang tangan suami ku itu. Ku cium punggung tangan suami ku Berkali-kali.
Tangan nya terasa sedikit kasar. Menandakan dia berjuang keras untuk kembali.
"Sudah jangan menangis lagi Ran, kasihan dia"
Mas Tama mengelus perut ku. Seoala janin di dalam rahim ku ikut merasakan kebahagiaan dan disentuh oleh ayahnya, janin itu bergerak agresif di dalam perut ku. Aku merintih karena sedikit sakit pergerakan janin ku itu.
__ADS_1
"Dia bergerak Ran, dia bergerak...." Mas Tama terdengar bahagia.
Mas Tama berjongkok di depan ku. Dia mencium perut ku cukup lama.
"Sudah berapa bulan Ran?"
Mas Tama kembali mencium perut ku namun dengan cepat dan berkali-kali.
"Delapan akhir mas. Mas-." baru ingin aku bertanya pada mas Tama namun suamiku sudah berdiri dan memegang kedua pundak ku.
"Simpan semua pertanyaan mu. Mas tidak akan pergi lagi. Waktu kita masih panjang. Sekarang kita kedalam dulu ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu. Kamu pasti tidak menyangka."
"Tenang lah, ini hanya butuh waktu satu bulan lagi. Kamu harus berterima kasih pada wanita yang ada didalam. Dia yang menyelamatkan aku."
Wanita. Aku bertanya siapa wanita yang dimaksud mas Tama. Namun aku masih berjalan disamping mas Tama menuju ruang tamu.
Sesampai di ruang tamu terlihat seorang wanita berkerudung cukup lebar. Mengenakan sebuah gamis yang senada dengan jilbab Birunya. Wanita itu tidak asing bagi ku. Dia berdiri melihat aku dan mas Tama.
"Tiara?"
__ADS_1
"Kirana"
Tiara setengah berlari ke arah ku dan memeluk ku.
"Subhanallah, kamu sudah hamil sekarang Na?"
Tiara melerai pelukan nya dan membelai perut ku. Seolah Tiara tahu aku bingung bagaimana mereka bertemu maka aku pun akhirnya di gandeng oleh Tiara menuju sofa.
"Dunia ini begitu sempit bagi ku Na." Tiara kini duduk disebelah ku dan menatap ku dengan wajah ceria nya.
"Na, dokter yang sering kamu ceritakan ini adalah Ay, Aisah."
Deg.
Seketika jantung ku berhenti mendengar satu nama dari masalalu mas Tama. Aku melihat mereka bergantian. Tetapi aku tidak ingin menduga karena aku lelah berbulan-bulan menanti kepastian tetapi sekarang suami ku kembali dengan wanita yang merupakan mantan pacarnya dan wanita ini sering ku puji dan ceritakan pada suami ku dulu.
Wanita yang cantik, pintar, sabar dan Baik hati.
"Aisha mantan pacar mas?" Tanya ku dengan pelan namun cukup susah diucapkan karena menahan rasa sesak di dada.
__ADS_1