Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 76 Menikah Berujung Cinta


__ADS_3

“Headline News. Pemirsa Sebuah Pesawat tujuan Yogyakarta baru saja mengalami kecelakaan. Saat ini tim evakuasi sedang bergerak mencari korban-korban yang diperkirakan selamat dilereng gunung. Pihak berwenang masih belum melaporkan jumlah korban tewas. Jatuhnya Boeing 22 di kawasan pegunungan itu menyebabkan kebakaran di hutan. Dikhawatirkan tidak ada korban selamat, namun belum jelas berapa jumlah korban dan penyebab kecelakaan. Pesawat dengan 105 penumpang dinyatakan hilang kontak sekitar pukul 11.25 WIB. Bagi anda yang merasa ada anggota keluarga yang ikut penerbangan dengan tujuan Lampung-Yogyakarta bisa menghubungi nomor yang tertera dilayar televisi anda. Demikian Headline News. Saya Anya Nadin, Gemilang TV melaporkan."


Suara berasal dari televisi yang menggantung di dapur membuat toples gula yang dipegang oleh ku terlepas hingga pecah dan menimpa kaki ku.


“Praang”


“Mas Tama….” Suara Ku lirih, air mata ku seketika mengalir di pipi nya. Aku cepat mendial nomor telpon suamiku. Namun tidak tersambung.


“Nomor yang anda tuju sedang dialihkan. Mohon tinggalkan pesan.”


Ku coba merubah panggilan ke ibu mertuaku.


“Nomor yang anda tuju sedang sibuk, mohon periksa kembali nomor tujuan anda.”


Aku terduduk lemas dilantai dan menangis sejadi-jadinya. Aku memeluk benda pipi yang sedari tadi ku harap dapat menghubungi mas tama atau ibu mertua ku. Tiba-tiba suara telpon rumah berdering. Aku cepat berlari kearah ruang tengah.


Dengan cepat ku raih gagang telpon yang menempel di dinding.


“Halo.”


“Kirana, Tama naik pesawat apa ke Jogya?”


“Iya bu… pesawat nya sama dengan tiket mas Tama bu…. Hiks…. Hiks…."


“Ya sudah ibu segera ke kota. Kamu tenangkan diri kamu dan jangan keman-mana ya.”

__ADS_1


“Tut….tut…. tut….”


Aku kembali menangis tersedu-sedu dan memeluk gagang telpon itu yang kini ikut tertarik kelantai karena aku menjatuhkan diriku kelantai.


Kaki gemetar, seolah tak ada kekuatan pada kaki untuk menahan tubuhku untuk tetap berdiri. Pikiranku hanya tertuju kepada sesosok lelaki yang sangat aku cintai.


Aku mengingat bagaimana suamiku pagi tadi mencium keningku begitu lama dan mengatakan sesuatu seolah pesan nya untuk ku.


“Mas bakal rindu kamu Ran, kamu janji jaga diri baik-baik. Sama mak e ya.”


Pelukannya ketika kami bangun tidur terasa sangat erat. Aku hanya berpikir mungkin karena ini pertama kali suami ku akan pergi urusan bisnis sampai hampir satu minggu.


Bik Ipeh baru pulang dari pasar memeluk tubuh ku dan terlihat cemas lalu mengangkat tubuh ku ke atas sofa.


“Ibu…. Kenapa bu…. Ya Allah. Mbok ambil minum dulu ya buk. Minah….. Minah” Suara bik ipeh terdengar panic dengan memanggil ART yang biasa menemaninya memebrsihkan rumah selama beberapa bulan ini.


“Mas Tama mbok..... Pesawat yang ditumpangi mas Tama kecelakaan pagi ini. Hiks…hikss”


“Innalilahi… ya Allah mudah-mudahan Bapak bisa baik-baik saja Bu. Bapak orang baik, Insyaallah dikasih panjang umur. Wong mak ipeh tiap sudah sholat pasti doain ibu sama bapak biar sehat, panjang umur” Mak ipeh mengelus punggung ku dengan lembut.


Kurasakan sedikit tenang, aku meminta Minah menyuapi mak e. Hari ini pertama kali aku meminta ART membantu menyuapi mak e. setelah hampir berapa bulan aku merawat mak e. Aku khawatir mak e kepikiran dengan kondisi mas tama jika mak e tahu kejadian ini.


Dan mbok ipeh ku minta untuk memasak karena mertua ku akan kemari tentu mereka akan menginap. Aku memutuskan memohon kepada sang Pencipta akan keselamatan suami ku. Walau waktu solat dzuhur masih lama namun aku menenggelamkan diriku dalam dzikir-dzikir ku dengan rasa sesak didada dan tangis yang ku coba tahan namun dengan derai air mata yang begitu deras membanjiri pipi ku.


Baru 2 tahun lebih kami menikah, baru ingin merasakan indahnya pernikahan yang Berujung Cinta ini namun kenapa cobaan yang Tuhan berikan begitu berat. Aku terus membaca Surat Al Fatihah dengan niat keselamatan suami ku.

__ADS_1


Hal ini pun mas tama yang pertama kali mengajari aku. Jika hal ini biasa aku lakukan di setiap habis shalat, maka kali ini aku melakukan entah sudah berapa ratus Al FAtihah yang ku khususkan untuk suami ku.


Bibir yang masih melafazkan Al Fatihah namun pikiran ku seolah membawa aku pada 2 minggu pasca aku menikah tepatnya dirumah kami yang dulu, mas Tama mengajari ku untuk membacakan Al Fatihah tidak hanya untuk orang-orang yang telah meninggal tetepi juga untuk kami yang masih hidup termasuk diri sendiri.


Selesai shalat aku menuju ruang tamu karena sebentar lagi pastilah mertua ku akan tiba.


Notif di ponsel ku berbunyi. Pemberitahuan dari aplikasi novel online yang ku tulis terdapat beberapa koment dan like dari readers setia di novel karya ke dua ku. Ketika ku tulis puisi di akhir bab yang merupakan ungkapan hati untuk suami ku namun di kisah novel itu protagonis lelaki nya meninggal.


Begitu sulit ku bayangkan.


Aku belum siap ditinggal kan sendiri.


Kemana akan kusandarkan kasih sayang ku.


Aku sangat mencintai kamu mas.


Aku berharap ke ajaiban untuk keselamatan mu mas.


Butuh waktu tak sampai berbulan-bulan urnuk mencintai mu mas, namun kupastikan aku butuh waktu seumur hidup untuk melupakan kamu mas.


Cinta mu yang begitu tulus, kasih sayang mu yang seluas samudra membuat aku akan terombang-ambing bersama cinta ku untuk mu mas.


Aku mencintai kamu mas.


Menikah Berujung Cinta ini kuharap berakhir dengan Happy Ending mas.

__ADS_1


Setelah ku baca lagi puisi itu terdengar suara mobil dari arah luar. Dan suara mertua ku memanggil nama ku.


Aku bergegas berlari ke depan dan meletakan ponsel ku di atas meja.


__ADS_2