Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
36 MEMINTA HAK NYA SEBAGAI SUAMI


__ADS_3

Saat Lilik, Tyo, kak Fhey dan Rudi berserta tunangan nya naik ke atas panggung untuk foto bersama. Namun dengan berani Lilik mendekat ke arah mas Tama berbisik yang sengaja ia besarkan suaranya agar aku mendengar.


"Mas, Hati-hati nanti malam Serang saja duluan daripada dicubit. Cubitan Rana itu bisa sampai memerah sampai biru loh mas"


Seketika aku langsung menarik sahabat ku itu dengan cepat ku cubit pinggang nya. Bisa,-bisanya dia berbisik-bisik kepada mas Tama seolah sudah akrab.


Mas Tama hanya tersenyum melihat kelakuan Sahabat ku itu. Ketika sahabat-sahabat ku pamit untuk pulang kami pun memutuskan untuk turun dari panggung mengingat ini sudah baju ke 3 yang kami pakai. dan waktu sudah lewat pukul empat sore.


Sesampai nya dikamar mas Tama bertanya padaku kamar mandi nya terletak dimana. Aku mengarahkannya kekamar mandi yang berada di dapur tepat setelah ruang tengah belok kiri maka akan ada 2 pintu. Satu pintu untuk kekamar mandi dan satu pintu lagi untuk ke WC.


Dengan melepas blangkon dan melepas sandal nya. Serta membuka cover hitam terlihat dia sedang mencari-cari sesuatu di dalam cover itu.


"Mas mau sholat sekalian habis mandi, tapi ini sarung nya apa di cover yang warna merah ya Ran?"


"Owh di mushola ada sarung mas bisa pakai sarung disana. Mushola nya masih ingatkan? tepat disebelah kamar kita." jawab ku.


"Baiklah, kamu mau aku bantu untuk melepas pakaian nya?"


apa.... melepaskan pakaian. Oh tuhan.... seketika wajah ku sudah seperti udang goreng dan aku dengan cepat menjawab.


"Tidak. tidak perlu mas. saya bisa sendiri" Jawab ku cepat.


Mas Tama hanya tersenyum simpul melihat ketegangan di wajah ku dan keluar dari kamar membawa beberapa peralatan mandi dan pakaian gantinya.


Aku mengunci pintu dan mulai mengganti pakaian dengan sebuah gamis putih. tidak lama suara pintu di ketuk ketika ku buka ternyata mas Tama.

__ADS_1


"Mau sholat bareng Ran?"


"Iya... tapi Saya mandi dulu mas....tapi kalau mas mau duluan ga apa-apa"


"Aku tunggu dimushola ya".


Aku menganggukkan kepala dan berlalu dari hadapan mas Tama. Namun tiba-tiba mas Tama menarik tangan ku dan kembali menutup pintu kamar.


Perasaan ku sudah tidak karuan. Detak jantungku pun berdetak tidak beraturan bahkan aliran darah ku terasa begitu hangat diseluruh tubuh ku. Kini mas Tama memegang lengan kiri ku dengan posisi sangat dekat dengan tatapan kami yang saling bertemu.


"Ah.... mas Harus wudhu lagi deh...."


Seketika ia lepas kan cengkraman nya dari lengan ku.


"Maaf sebelum keluar kamar boleh kita bicara sebentar Ran?" tanya mas Tama yang kini telah duduk di pinggir kasur.


"Kamu lucu dan tambah cantik kalau lagi tegang atau malu begitu"


"Mas mau bicara apa mas" aku masih menunduk masih belum berani menatap mas Tama.


"Ran, boleh aku meminta sesuatu pada kamu sebagai suami mu dan tanggungjawab mu sebagai istri sekarang"


Tiba-tiba pertanyaan mas Tama bertanya. Ah.... pikiran ku traveling kemana-mana apakah aku akan betul-betul menjadi seorang istri.


Cukup lama aku terdiam dan belum kujawab pertanyaan mas Tama.

__ADS_1


"Haruskah sekarang mas? Masih banyak orang diluar, belum lagi biasanya akan masih ada Tamu yang mencari kita...... "


Aku semakin merapat kan dagu ku hingga tertempel di dada. kedua telapak Tangan ku seperti biasa akan mengeluarkan keringat ketika merasakan tegang atau takut.


"Hahahaha...... memang nya kenapa kalau masih sore apa tidak boleh? tidak ada dalil nya kalau kata orang zaman sekarang"


Aku makin bingung dan merasa jengkel serta kecewa. Bagaimana pemuda yang terlihat sopan ternyata sangat berpikiran mesum. Bagaimana dia meminta Haknya di saat tamu dan keluarga serta tetangga ku masih banyak di rumah.


"Tidak bisakah kamu tahan sampai nanti malam mas. sekarang hampir pukul 5 dan kita belum shalat ashar" melihat ke arah jam dinding berbentuk Bundar di kamar ku.


"Tidak bisa, harus sekarang mas sudah tidak sabar ingin mengatakan nya pada mu sejak di pelaminan tadi namun bisingnya suara campur sari tadi mas ingin tunggu kita bisa berbicara fokus seperti......dan khawatir kamu salah paham"


Aku menangis, aku terisak menangis. Ya aku kecewa dengan perasaan ku sendiri. Bagaimana bisa lelaki yang kuanggap begitu baik dan sempurna yang katanya mengagumi aku dan mencintai aku ternyata cintanya hanya shawat belaka.


"Ran.... kamu kenapa? Aku salah ngomong ya?"


Kini mas Tama sudah berada dihadapan ku dengan posisi duduk sedikit berjongkok dan menatap wajahku.


Tangannya mengangkat dagu ku dan menghapus air mata dipipi ku.


"Maafkan mas jika salah. Maafkan mas Rana.... berhenti lah menangis. mas tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Katakan salah mas.... agar mas tidak mengulangi nya lagi".


Kini tangan mas Tama menggenggam erat tangan ku.


Aku masih terisak dan kuberanikan berbicara dan menatap wajah mas Tama yang kini tepat berada di bawah wajah ku.

__ADS_1


"Aku kecewa padamu mas, cinta dan janji mu cuma di bibir saja. Kamu bilang mau menunggu ku. Bahkan hari ini baru beberapa jam.... tidak bahkan bukan beberapa jam sejak dipanggung pun kamu sudah ingin meminta hak mu. Aku kecewa padamu mas. aku yang sempat tersanjung dengan perkataan mu dan cinta mu ternyata kamu hanya mencintai ku karena shawat mu mas...." Kinj aku makin terisak dalam tangis ku dan air mata ku jatuh menetes ketangan mas Tama.


__ADS_2