
Suasana dirumah ku masih Ramai oleh bapak-bapak yang mengobrol dan bermain gaplek di dalam tenda. Aku yang barus saja menerima tamu teman SD ku memilih untuk beristirahat dikamar. Namun mas Tama memilih untuk keluar mengobrol kepada para tetangga dan saudara yang ada di tenda.
Ketika aku merebahkan tubuh ku di tempat tidur king size ini tiba-tiba ada suara telpon berdering dari nakas yang ada disebelah ku.
Kulihat ternyata handphone nya mas Tama. Aku lihat di layar ada panggilan dari "Ibu" dan tidak ada keberanian untuk mendial tombol hijau. Aku memilih keluar untuk memanggil mas Tama seraya membawa ponselnya keluar.
"Mas, handphone nya ada panggilan"
Panggilku pada mas Tama setelah berada disebelahnya.
"dari siapa?"
Lalu kusodorkan handphone pada mas Tama. Aku kembali ke kamar untuk beristirahat karena kini kaki dan pinggang ku baru terasa pegal-pegal setelah prosesi ijab dan resepsi satu hari ini.
Baru aku ingin menarik selimut ke tubuh ku mas Tama sudah masuk kedalam kamar.
Mas Tama kembali menyimpan handphone nya di nakas sebelah tempat tidur kami.
"Kamu tidak kepanasan Ran?" mas Tama yang sekarang sudah duduk diatas tempat tidur dan menoleh ke arah ku
"Tidak mas... maaf ya kalau tidak senyaman dirumah mas Tama yang setiap ruangan ada AC nya". aku merasa seperti nya mas Tama yang terbiasa dirumahnya dengan suasana sejuk dengan keberadaan AC disetiap ruangan merasa tidak nyaman dirumah ku ini yang hanya bermodal kipas angin untuk mendinginkan tubuh.
"Loh... loh.... kok jadi bicara seperti itu? Apakah istri mas ini sedang tersinggung? Maksud perkataan mas adalah apakah kamu tidak panas dengan kondisi hari yang belum terlalu dingin tapi kamu menggunakan badcover ini menutupi dirimu sampai leher??" mas Tama menjelaskan kembali maksud kalimat nya dengan telah berbaring disebelah ku dan menghadap kearah dengan tersekat oleh guling.
"Aku.... aku.... terbiasa seperti ini mas." jawab ku
"Kamu sudah mau tidur?" tanya mas Tama.
Aku hanya menganggukkan kepala dan tiba-tiba mas Tama beranjak dan menekan saklar lampu ke arah off. Hingga seketika ruangan kamar ku menjadi gelap. Aku merasa tercekat bingung ingin berbicara seperti apa pada mas Tama.
Aku terbiasa tidur dengan lampu yang menyala kini harus mencoba memejamkan mata dengan keadaan gelap walau masih ada sedikit cahaya yang masuk dari ventilasi udara dari luar dan dari ruang tengah.
Kini mas Tama kembali ke tempat tidur dan menghadap Ku. sedangkan aku lebih memilih posisi terlentang karena bingung jika menghadap kekiri aku membelakangi mas Tama tapi jika menghadap kiri maka aku akan berhadapan dengan mas Tama. Walau remang-remang namun masih terlihat wajah mas Tama.
__ADS_1
"Kamu biasa tidur dengan memeluk guling Ran?" tanya mas Tama
"Kadang-kadang mas" jawab ku singkat dan masih menatap langit-langit kamar ku.
"Kalau begitu gulingnya buat aku ya. Aku tidak biasa tidur tanpa guling. Besok biar kalau ditempat ibu aku minta siapkan dua guling"
"Owh... silahkan mas. Ndak usah mas saya jarang pakai guling"
Setelah sekian menit aku masih belum bisa memejam kan mata walau aku sangat ingin tidur karena badan ku sudah meminta haknya untuk diistirahatkan tetapi mata dan alam bawah sadar ku yang terbiasa tidur dalam keadaan terang benderang membuat ku tak bisa memejam kan mata.
"Kamu belum tidur Ran?" mas tam bertanya dan kini posisi nya telah miring menghadap kearah Ku.
"Ndak bisa tidur mas.,.."
"Kenapa? ada yang dipikirkan atau kamu tidak nyaman ada aku disini?"
"Ehm.... bukan mas... bukan.... Aku Ndak biasa tidur dengan kondisi gelap seperti ini"
Mas Tama beranjak dari tempat tidur dan menghidupkan lampu. Kini mas Tama telah kembali ketempat semula.
Mas Tama membelai lembut kepala ku. Entahlah aku tidak ada keberanian untuk mengatakan jangan sentuh aku. Namun aku merasa sedikit risih dengan perlakuannya yang seperti ini.
"Tidurlah.... Maas akan menjaga kamu dan menunggu kamu tertidur"
Beberapa saat situasi seperti ini membuat aku mulai sedikit nyaman dan terasa kantuk yang menyelinap dan aku berulang kali menguap.
"Ran,...."
"Em..."
"Sepertinya mas tidak bisa menunggu kamu sampai tertidur. Mas Gerah, mas keluar sebentar ya suasana dikamar ini makin panas.... Kamu tidur duluan saja ya?"
Aku membuka mata yang kupejamkan, aku kembali mengangguk an kepala. Mas Tama sudah berdiri dan mengambil ponsel nya lalu menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Cukup lama aku mencoba memejamkan mata dan ketika aku setengah terlelap Aku masih coba memejamkan mata tiba-tiba mas Tama kembali kekamar dengan mendorong pintu menggunakan siku nya dan terdapat 2 gelas minuman berwarna kuning didalam nampan.
"Maaf mengganggu, ini tadi di dapur ada Emak, katanya disuruh minum ini" Mas Tama meletakan minuman tersebut di meja rias yang berada disebelah tempat tidur kami.
"Apa itu mas?" Aku bangkit dari posisi ku. Mas Tama menyerahkan satu gelas untuk ku dan lihat mas Tama minum air yang berada digelas itu dalam posisi duduk diatas tempat tidur dengan dua kali tegukan.
Dari aromanya minuman ini bisa kupastikan air dari parutan kunyit dan pasti terdapat madu didalam nya. Mak e biasa membuat ini untuk kebugaran tubuh biasanya akan dicampur sedikit jahe dan kencur.
"shheettt...... ah.... bau nya amis sekali" Baru beberapa teguk aku meminum jamu itu namun sudah tidak tahan karena berbau amis seperti telur mentah.
"Kamu tidak suka jamu Ran?"
"Suka tapi tidak kalau dikasih telur.... Mak e tahu betul kalau aku tidak suka jamu dengan telur mentah.... apa bukan Mak e yang buat ya?" tanya ku sebenarnya bermonolog dengan diriku sendiri tetapi mas Tama Menjawab.
"Emak sendiri yang membuat, tadi aku ke kamar mandir tetapi Mak sedang membuat jamu ini menggunakan blender sepertinya. Dan berpesan harus dihabiskan"
cukup lama ku tatap jamu yang ada digelas yang berada digenggaman ku.
"Sini biar mas Habis kan kalau tidak mau, kan kata emak harus habis..."
"Memangnya mas Tama kuat?" tanya ku seolah tak percaya karena dia baru saja menghabiskan satu gelas jamu yang tentu racikan nya sama dan kini akan menghabiskan milik ku yang baru beberapa teguk ku minum.
"Insyaallah mas Kuat.... nanti kalau tiba waktunya akan mas buktikan...." Mimik wajah mas Tama terlihat menggoda ku dengan senyum khas lesung pipinya tanpa persetujuan ku dia mengambil jamu dari tangan ku dan langsung meminum habis dalam satu tegukan.
Seolah tanpa dosa telah membuat aku merasa malu dalam keadaan pipi jelas merah merona mendengar kata-kata nya barusan, dia kembali beranjak dari posisinya dan membawa nampan yang berisi 2 gelas yang telah kosong kearah pintu.
"Tidurlah, biar mas yang Bawak gelas ini keluar"
Aku menyesali pemilihan kosa kata yang dianggap lain oleh mas Tama. Dan aku yakin dia pun paham maksud ku namun seperti nya laki-laki yang berstatus suami ku ini akan terus menggoda ku seperti layaknya ABG yang lagi cari-cari perhatian dari orang yang disukainya.
"Dan saat itu pastikan kamu juga harus siap dan kuat" Goda mas Tama sebelum menghilang dibalik pintu.
Ya Tuhan..... Digoda oleh mas Hardi saja aku aku sampai malu-malu kucing dan sekarang laki-laki yang belum beberapa jam menjadi suami ku entah sudah berapa kali berhasil membuat pipi ku ini merona karena malu.
__ADS_1