
Hampir satu jam lebih aku di dalam ruangan spa dengan semua fasilitas yang ditawarkan. Kurasakan tubuh ku sudah terasa nyaman dan baik, serta wajah ku yang terasa tidak kering lagi.
Aku berjalan ke arah lobby spa Dan mas Tama mengikuti aku dari arah ruang tunggu. Kami masih menunggu satu orang perempuan yang sedang membayar di kasir.
"Coba di cek lagi deh mbak, kayaknya ga masalah kok baru kemarin saya pakai kartunya" terdengar suara perempuan didepan ku itu bertanya pada kasir. Aku memutuskan untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari kasir karena menunggu wanita berambut coklat itu menyelesaikan pembayarannya yang tampak nya sedikit terkendala dengan kartunya.
"Sebentar saya hubungi suami saya dulu ya mbak" suara wanita itu tampak tak bergeser dari meja kasir. Dan mas Tama meminta ku untuk menunggu wanita itu lebih dulu menyelesaikan pembayaran karena dia lebih dulu di meja kasir. Sehingga aku masih duduk di sofa ini bersama mas Tama. Mas Tama pun bertanya bagaimana kondisi ku sekarang setelah spa.
"Hem.... pengen cepet-cepet pulang sayang...." mas Tama yang merapatkan posisi duduknya ke arah ku dan seolah menghirup udara begitu banyak dari sebelah ku.
Namun terdengar suara wanita yang tadi didepan kasir sedikit kesal.
"Aku lagi ga Bawak kartu debit, aku juga ga Bawak uang mas.. kamu kesini deh..." suara wanita itu seperti menahan emosi.
__ADS_1
"Aaah... awas kamu mas... pokok nya setelah ini kita harus bicara!" suara perempuan itu kembali meninggi. Dan wanita itu berjalan ke arah sofa yang ada disebelah mas Tama.
Aku merasa dia sudah selesai hingga aku maju ke meja kasir ditemani mas Tama.
"Selamat siang mas Tama.... Wah masih kayak pengantin baru aja sih mas..." sapa sang kasir pada mas Tama. Hampir semua karyawan di spa ini mengenal mas Tama dan ibu mertua ku karena ibu rajin kemari hampir satu bulan sekali bahkan.
"Ah mbak bisa saja...." jawab mas Tama yang merapatkan duduk nya kearah ku seolah ingin menjelaskan kepada sang kasir bahwa dia sudah punya istri.
"Pakai kartu saja mbak" jawab mas Tama seraya menyerahkan kartu debit mas Tama.
"Maaf mbak bisa ga ya saya pulang dulu nanti saya kemari lagi ambil kartu debit saya" tiba-tiba perempuan yang tadi tampak gusar setelah menelpon muncul disebelah ku dan bertanya pada kasir.
"Maaf mbak, saya ga bisa dan ga berani kebetulan supervisor juga lagi tidak ada mbak...." jawab sang kasir yg menolak permintaan sang wanita berambut coklat tadi.
__ADS_1
Aku menatap wajah wanita itu sekilas, sepertinya aku mengenal wanita ini, tapi siapa dan dimana dan tampak wanita itu juga sedikit terpaku menatap wajah ku dari samping.
"Rana.... Kirana....." ucap wanita itu sedikit kaget sambil menatap lekat wajah ku.
"Maaf ya mbak, siapa ya...?" tanya ku penasaran karena aku betul-betul tidak ingat dengan wanita ini walaupun sedikit familiar wajahnya di ingatan ku.
"ehm... em.... aku teman satu SMA mu Ran.. " jawab wanita itu cukup pelan dan tampak kikuk.
"Maaf mbak tapi saya betul-betul tidak ingat dengan mbak nya, mungkin karena mbak yang sangat cantik jadi saya tidak ingat...." jawab ku jujur karena wanita ini begitu cantik dengan tampilan modis dan stylist. belum lagi dandanan make up nya yang bak artis membuat sempurna penampilan tubuhnya yang seksi.
"Em.... aku.... aku Melinda... Ran..." jawab nya terbata-bata
Deg! jantung ku seperti terkena sengatan listrik dan sekelebat bayangan seorang lelaki yang bernama Ardi dengan cepat muncul di memory ku.
__ADS_1