
Hari ini Mak e sudah tiba di kota karena Lusa adalah hari wisudah ku. Mak e sengaja datang kekota lebih awal karena ingin bisa beristirahat terlebih dahulu. Sedangkan mas Hardi akan menyusul besok. Aku sudah memilihkan Mak e baju kebaya yang akan dipakai seragam dengan mbak Imah serta kebayaku agar bisa terlihat bagus di foto. Ya moment wisuda ku ini akan ku jadikan foto keluarga bersama mas Hardi, mbak Imah dan Mak e serta kedua keponakan ku Hilman dan Rohman.
"Biaya nya sudah kamu selesaikan semua toh nduk? nanti sudah beli seragam kayak gini biaya wisudah mu masih ada yang belum dibayar" tanya ibu sambil melihat baju seragam yang barusan ku gosok.
"Sudah bu, kemungkinan nanti tinggal biaya legalisir kalau ijazah nya sudah jadi"
"Lah jadi nanti itu kamu wisudah itu ijazah nya belum jadi toh?" tanya ibu lagi
"Ya belum Bu, nanti itu dikasih kayak kertas tanda Lulus ibarat kata Bu. Ijazahnya nanti diberi kabar sekaligus legalisir nya Bu" jawab ku setelah memasukan baju yang telah ku gosok kedalam lemari.
"Assalamualaikum....." tiba-riba terlihat dari arah pintu ruang tamu buk kades, pak kades dan mas Tama serta tidak ketinggalan Dwi
"Walaikumsalam, wah.... buk kades.... mari-mari Bu silahkan masuk." sambut ibu begitu melihat bahwa tamu kami adalah buk kades sekeluarga
"Terima kasih Bu, wah kapan sampai kekota Bu?" tanya buk kades pada ibu
"Baru pagi tadi Bu, Rana buat minum gih..." titah ibu pada ku.
Aku pergi kedapur untuk membuatkan minum tetapi aku kembali bertanya dalam hati ada apa ini kenapa buk kades kemari dengan pak kades lagi. Semoga tidak membahas pembicaraan tempo dulu.
Tidak lama aku sudah berada kembali di rumah depan dengan membawa 5 cangkir teh dan Jadah. Jadah adalah makan favorit Mak e yang terbuat dari ketan di rebus dan ditumbuk lalu diberi kelapa muda diatasnya. Makanan ini ibu bawa untuk cemilan selama disini.
"Silahkan buk, pak, mas..." aku mempersilahkan pak kades Untuk minum.
"Terima kasih Ran, Buk Hafso sehat?" tanya buk kades pada Mak e
"Alhamdulilah sehat, makanya ini kekota nya satu hari lebih cepat biar bisa istirahat Nanti di acara wisudah Rana." jawab ibu dengan wajah bahagia
__ADS_1
"Owh kapan acara wisudah nya Ran?" tanya buk kades padaku
"Lusa Bu," jawab ku singkat
"Wah kebetulan sekali ini. Dwi lagi libur sekolah minta liburan dikota ini tadi mau ke kebun binatang tapi mampir sekalian lah wong sudah lama Ndak ketemu Rana" buk kades menatap ku dengan tersenyum
"Wah ya kebetulan kita bisa ngobrol lagi ini buk Hafso"
"Rencana mau ajak Rana jalan-jalan tapi lah wong ada buk Hafso Ndak enak jadinya" Pak kades ikut mengeluarkan suaranya setelah dari tadi sibuk menatap layar handphone nya.
"Ya ga apa-apa buk kalau Rana mau saya juga bisa istirahat dirumah"
"Ya lebih baik ngobrol disini jalan-jalan nya besok saja ya Dwi? kan mumpung pas ketemu ibunya mbak Rana lagi" tanya buk kades pada Dwi
"Ya... tapi kalau besok ke kebun binatangnya nanti malam Dwi mau ke mall mau beli pancing" pinta Dwi pada buk kades.
"Oya buk. Perkenalkan ini bapannya Tama dan Dwi." kenal buk kades pada buk Hafso
"Narso buk, panggil nama saja Bu biar lebih enak. tidak enak kalau dipanggil pak kades" pinta pak kades pada Mak e.
"Nak Hardi Ndak ikut buk?" tanya buk kades pada Mak e.
"Oh... Hardi besok baru kekota sama anak dan istrinya. Dia nunggu kakak iparnya hari ini baru kekampung biar bisa jaga besan, karena besan sudah sepuh."
"Sayang sekali besok kita ada acara ya pak? jadi Ndak bisa ketemu nak Hardi" buk kades menanggapi jawaban Mak e.
"Lah memang nya ada perlu apa buk? biar besok saya sampaikan kalau memang ada yang penting.
__ADS_1
"Lah kalau ini biar anak saya saja yang bicara Bu, masak ya saya nanti dikira saya menjodohkan bukan dari hati anak saya sendiri" buk kades mengatakan hal itu sambil melirik kearah ku dan diikuti senyumnya.
"Hayo Tama, lebih baik mumpung ada ibunya Rana" Tantang pak kades pada mas Tama.
"Ehm... Begini Ran, Bu..... sebelum nya saya mohon maaf sama Ibu, Tapi seperti kata saya sewaktu Rana KKN bahwa saya ingin menjalin hubungan dengan Rana tapi saya tidak ingin pacaran dan Rana bilang tunggu sampai selesai kuliah, saya ingin menanyakan perihal itu Ran kalau memang kita bisa menjalin hubungan serius saya dan keluarga akan melamar kamu secara resmi."
Deg, jantung ku berasa panas... "Aduh ini mas Tama kok ga bilang-bilang mau ngomongin ini. Lah kemarin-kemarin kemana aja coba" batin ku dalam hati.
"Gimana Ran?" Buk Kades melihat aku masih terdiam ikut menanyakan apa jawaban ku.
"Sebentar ini nak Tama, lah memang nya nak Tama sama Rana ini ada kesepakatan ini? lah kok Mak e ga tahu Ran?"
"Bukan begitu mak, Mas.... waktu itu kan kata mas Tama ingin berteman dulu. Tetapi setelah kejadian itu mas Tama Ndak pernah ngabarin atau telpon atau kemari sekedar untuk mengobrol. lah gimana Rana mau kenal mas Tama lah kita ga ada komunikasi?"
"Kalau kita ngobrol lewat telpon, kita jalan berdua terus saya datang kemari apa itu ga sama dengan pacaran Ran?"
"Ya minimal kita ada komunikasi lah mas, sebelum nya saya mau menyenangkan Mak e dulu setelah ini saya mau kerja dulu mas" Ku beranikan menatap wajah mas Tama
"Rana.... Ndak baik mengambil keputusan tergesa-gesa. Kenapa kamu ga kasih kesempatan dulu kenal nak Tama. Kalau memang mau ngobrol kan bisa lah ibu sebulan ini disini dulu hitung-hitung libur. Jadi nak Tama bisa ngobrol sama kamu. Ndak baik Lo nak ambil keputusan tanpa mempertimbangkan nya"
"Tapi buk,....."
"Betul kata Mak mu Ran, bagaimana kalau satu bulan ini kalian ngobrol dulu setidaknya kalau sudah kenal dan tidak cocok ya ga bisa dipaksakan" ucap buk kades memotong pembicaraan ku.
"Saya terserah kamu Ran, saya Ndak mau terkesan memaksakan kehendak" Mas Tama ikut memberikan pendapat nya.
"Baiklah kalau begitu.... Tapi Apapun hasilnya saya harap semua bisa menerima dengan legowo" ucapku karena kulihat dari wajah Mak e menatap penuh harap. Aku paham betul Mak e bagaimana gurat-gurat wajahnya seperti saat ini wajahnya penuh harap pada ku dan aku tidak bisa mengabaikan nya.
__ADS_1
Kali ini memang penampilan mas Tama sedikit berbeda. Kalau dulu pertama aku mengenalnya dengan kulit hitam manis dan Kepala plontosnya. Kini Rambutnya yang sedikit ikal dan kulitnya ternyata sawo matang ya kalau dilihat dari penampilan memang sedikit lebih dewasa dari mas Ardi dan lebih tampak dari mas Ardi. Ah... kenapa masih aku memikirkan laki-laki yang sekarang sudah menjadi suami orang.