
Setelah hampir satu bulan, mas Tama sering berkunjung ke kost an ku kadang sendiri kadang ditemani oleh buk kades. Dia biasanya sore atau siang hari bertandang kemari. Dan Sudah Hampir satu Minggu ini memang mas Tama tidak kemari sehingga mungkin Mak e bertanya apakah aku menolak mas Tama.
"Rana, apa kamu sudah memberikan keputusan tentang hubungan kamu dengan Tama?" Tanya ibu ketika telah merapikan baju kedalam tas karena dapat kabar kalau Ibu dari mbak Ima sakit dan dirawat di Puskesmas sehingga Mak e ingin pulang dan membesuk besannya.
"Belum Mak,"
"Lalu kenapa sudah hampir seminggu Tama belum berkunjung kemari atau kalian ada masalah?"
"Ndak ada Mak, mungkin masih sibuk bekerja Mak"
",Lantas kamu belum memberi kepastian nak Tama, apa kamu sudah punya jawabannya nduk?"
"Insya sudah Mak. Hampir satu bulan Rana cukup sering mengobrol dengan mas Tama memang dia pria yang baik Mak tetapi Rana kayak nya Ndak bisa kalau harus menerima mas Tama untuk menjadi suami Rana"
"Kenapa Ran? apa alasan kuat mu nduk? Kalau mak lihat nak Tama berbeda dari ustad Abdul hehe...." Mak e menyelipkan canda di ujung pertanyaan nya.
"Ibu.... ya jelas beda lah orangnya berbeda. Ndak tahu mak Ndak ada rasa apa-apa. Rana cuma nyaman saja karena orangnya baik"
"Ran, zaman sekarang rasanya susah bertemu seperti nak Tama dan kedua orang tuanya yang bisa menerima kamu walau belum jadi menantu nya belum lagi cara Tama itu memperlakukan orang tua, dan perempuan sangat baik"
"Iya mak, Rana sadar mas Tama orang yang sangat baik. Tetapi apakah mungkin sebuah pernikahan dibangun tanpa landasan Cinta? sedangkan mas Tama punya rasa itu mak. Rana takut nanti hanya jadi masalah ditengah perjalanan rumah tangga kami. Belum lagi Rana masih ingin cari pengalaman Mak. Lah wong sudah susah-susah kuliah Mak e mas Hardi masak belum nyicip hasil dari kuliah Rana ya toh?"
__ADS_1
"Kalau untuk masalah hati sebenarnya itu bukan masalah serius Ran, jika kita sudah nyaman dan punya jalan tujuan yang sama untuk membina rumah tangga maka urusan hati insyaallah akan berubah. Lah wong Mak e sama bapak mu itu ya menikah ga ada cinta-cinta an Ran. Zaman Mak e dulu kalau orang tua sama-sama setuju ya menikah tetapi beruntung nya mak e punya orang tua yang memilih suami untuk Mak e tidak dari sudut pandang harta nduk, tapi sifatnya lelaki tersebut. Ya kamu lihat sendiri walau kita tidak terlalu berlebihan dari ekonomi sejauh Mak menikah dengan bapak mu Mak merasa bahagia dan semua dengan kata cukup dan sampai sekarang bapak mu tetap lelaki yang Ndak bisa Mak e ganti dengan siapapun" Mak e mengingat kembali masa muda nya dan memang betul jika ingat ketika mas-masa aku SD dan SMP ada banyak beberapa Duda bahkan yang masih bujangan pun ada yang melamar Mak e saat itu. Aku memang masih kecil tapi cukup samar-samar kuingat siapa saja yang melamar Mak e. Dan semua itu selalu ditolak padahal aku tahu betul perjuangan Mak e menghidupi aku dan membiayai sekolah aku dan mas Hardi dengan status janda tidak mudah terlebih lagi kedua belah orang tuanya juga bukan orang berada. Setiap ada pembagian pupuk dan racun rumput dari pemerintah Mak e akan menjualnya dan uang yang didapat dibuat untuk keperluan aku dan mas Hardi. Lalu untuk menebas ladang Mak e memilih menggunakan tenaga arit nya sedangkan untuk pupuk Mak e akan mengambil kot***an Sapi untuk menjadi pupuknya. Dan sekarang jadilah kebun yang Mak e rawat untuk perjuangan itu walau hanya beberap hektar bisa mencukupi biaya hidup kami hingga sekarang.
"Dibilangin malah melamun, Kalau cari pengalaman kerja nanti kalau sambil menikah kan bisa Ran? Asal suami mu mengijinkan. Mak sebetulnya ayem hatinya Ran kalau kamu sudah menikah setidaknya kalau Mak sewaktu-waktu menghadap ke Ilahi Mak sudah siap Ndak kepikiran kamu"
"Mak e..... kok ngomong nya begitu. Iya Rana mendengar semua cerita dan nasehat Mak e tapi untuk sekali ini Rana belum bisa Mak. Berarti ya belum jodoh Mak. Insyaallah kalau jodoh kan ga kemana Mak. Buktinya Mas Hardi dulu ingat ngga Mak e sudah berapa kali mbak Imah itu dilamar dari orang kota juga orang didesa kita tapi Ndak ada yang diterima giliran mas Hardi diterima berarti kan jodoh Mak. Mungkin Rana sama Mas Tama memang belum berjodoh Mak"
"Apa kamu masih memikirkan mantan mu yang sudah menikah itu Ran?" Selidik Mak e pada ku
"Ya Ndak toh Mak. Rana sudah Ndak memikirkan mas Hardi"
"Yo wes Mak e cuma bisa mendoakan yang terbaik buat anak-anak Mak e semoga bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari Mak e"
"Aamiin....."
Keesokan pagi nya mas Tama sudah hadir didepan kost an karena Tahu kalau Mak akan pulang kampung. Sebenarnya mas Tama ingin mengantarkan pulang sampai kekampung tetapi Mak e melarang cukup sampai terminal saja.
"Sudah siap Bu?"
"Sudah, jadi ngerepotin nak Tama ini"
"Ah ga apa-apa Bu kebetulan sekalian berangkat kerja Kebetulan dikantor ada kegiatan jadi bisa sedikit siang berangkat nya"
__ADS_1
"Kamu Ndak ikut Ran?" tanya mas Tama
"Saya minta maaf mas ini kebetulan saya dapat panggilan interview dari salah satu Sekolah Menengah swasta nanti jam 10 mas"
"Loh harusnya Ndak papa Ran jadi sekalian nanti pulang dari terminal saya antar ke sekolahnya"
"Ndak usah mas tadi udah janjian Ama teman"
"Owh ya sudah kalau begitu, saya antar Mak e. Oya Rana nanti siang ibu sama Dwi ke kota bisa ikut makan Siang?"
"Owh iya mas, nanti Rana kabarin buk kades lewat wa soalnya belum tahu interview nya sampai jam berapa"
"Ran, jaga diri baik-baik Ndak usah terburu-buru cari kerjanya kalau sudah rezeki Ndak kemana salam buat Lilik ya sudah lama Mak e Ndak ketemu dia"
"Iya mak, makasih ya mas maaf ngerepoti terus"
"Ga apa-apa. Gimana Bu mau berangkat sekarang?" Tanya mas Tama pada Mak e
"Iya ayo ini sudah jam 9 katanya setengah 10 berangkat soalnya semalam sopirnya itu nganter orang sakit jadi ga nunggu siang pulang nya"
Lalu aku dan Mak e berpelukan aku mencium tangan Mak e serta mengantar Mak e sampai kemobil mas Tama.
__ADS_1
"Nanti biar saya telpon Ran kalau Ibu sudah sampai" mas Tama lalu masuk kedalam mobil melajukan mobilnya.
"Kamu memang orang baik mas, Apa kah jawaban yang akan aku berikan padamu mas... Kenapa setelah perkataan Mak e tadi membuat aku bimbang" Gumam ku sambil berjalan ke arah kost an