
Mas Tama mengemudi dengan kecepatan rata-rata, jalanan cukup macet karena kami keluar dari rumah sakit bertepatan dengan waktu pulang sekolah anak-anak SMA. Seketika aku kembali merasa sesak di dada ketika melihat keluar jendela terlihat beberapa anak SMA berjalan di trotoar. Aku merasa sia-sia aku resign sebagai guru bahasa Inggris di sekolah swasta dengan alasan ingin merawat Mak e.
Aku dan Mak e duduk di bangku belakang sedang kan mas Tama sendirian di depan. Sambil mengemudi mas Tama berbicara sambil melihat kaca spion yang ada didepan nya dan melirik ke arah ku.
"Ran, kamu tahu pemilik klinik pengobatan ini sangat hebat. Dia wanita yang tidak hanya cantik tapi juga berhati baik. Mak e pasti cepat sembuh dirawat oleh dia." Mas Tama kembali melirik ke arah ku melalui spion yang berada diatas kemudi.
Aku tak menanggapi mas Tama. Aku hanya menarik napas dalam-dalam. Namun seperti lelaki ini sedang memancing emosi dia kembali menceritakan perihal pemilik klinik ini bahkan memuji nya. Yang membuat ku gerah dia memuji wanita lain didepan Mak E. Tidak kah suami ku ini memikirkan perasaan mertuanya yang sedang sakit harus mendengarkan celotehannya tentang wanita lain.
"Kamu tahu dia dokter yang baik Ran, hatinya lembut. Bahkan banyak sekali pria yang ingin menkhitbahnya dulu" ucap mas Tama masih melirik ke arah ku lewat spion tapi tetap fokus mengemudi.
"Owh... termasuk mas?" pancing ku yang mulai merasa jengah dengan topik pembicaraan mas Tama yang tidak pas disaat hati ku dalam kondisi kecewa dan masih bisa ku tahan dan ku tutupi dihadapan nya dan Mak e.
"Mau jawaban jujur?" tanya mas Tama.
"Apakah selama menikah mas terbiasa berbohong?" tanya ku namun dengan nada sedikit datar.
Mas Tama menepikan mobilnya di sebuah toko bunga.
"Kita berhenti disini sebentar ya. Mas ga enak kalau kesana tidak memberikan hadiah untuk orang yang akan merawat Mak e." Aku hanya menjawab dengan "Hem".
Aku melihat dari jendela mas Tama memilih bunga dan sedang dirangkai oleh pemilik toko. Terlihat bunga itu dirangkai sangat indah dan besar. Aku makin merasa jengkel dengan tindakan mas Tama sebegitu kagum kah dia pada dokter itu. Akhirnya aku memutuskan untuk turun agar mas Tama tak lagi membahas masalah dokter yang dari tadi ia puji-puji dihadapan Mak e dan aku.
__ADS_1
"Mak, Rana turun sebentar ya Mak. Mak tunggu dulu. Rana kurang Suka dengan bunga yang dipilih mas Tama." terlihat Mak e mengedipkan matanya 2 kali itu tanda setuju.
Aku turun dan ketika mas Tama akan membayar bunga nya aku duduk didalam toko bunga itu namun masih bisa mengawasi Mak e yang berada didalam mobil. Karena kaca mobil ku buka separuh.
"Aku mau bicara dulu sebentar mas, Disini" aku yang duduk menatap mas Tama. Mas Tama mengikuti aku duduk di sebuah sofa.
"Mas, apakah dokter ini mantan pacar mu yang bernama Aisha?" aku bertanya dengan menatap wajah mas Tama tanpa berkedip. Aku ingin mencari kebenaran atas jawaban yang akan ia berikan.
"Dokter ini adalah mantan pacar ku. Maaf karena tidak terus terang pada mu Ran" jawabnya sambil meletakkan bunga yang dia beli diatas meja.
Aku menarik napas dalam dan kembali bertanya pada mas Tama.
"Apakah kamu masih mencintainya mas?" Tanya ku dengan sedikit nada emosi.
Aku menarik napas makin dalam dan menahan air yang seolah ingin keluar di sudut netra ku.
"Lalu apa artinya aku bagi kamu 2 tahun ini mas?
Aku tidak setuju Mak e dibawa kesana. Biar ku rawat sendiri Mak e. Jika tak boleh di rawat dirumah kita. Aku akan rawat Mak e di kampung di rumah Mak e" wajah ku sudah memerah menahan emosi mendengar jawaban mas Tama.
"Aku hanya ingin Mak e sembuh Ran. Karena bukankah kamu bilang yang penting Mak e sembuh? dan dokter ini aku yakini sangat mampu menyembuhkan Mak e. dia punya kemampuan dan kesabaran melebihi dokter dirumah sakit yang merawat Mak e kemarin" Mas Tama menggenggam tangan ku.
__ADS_1
"Apa kalian sudah bertemu? selama kita menikah?" Aku menatap tajam mas Tama.
"Maafkan mas Ran... ya Hampir setiap hari" ucap mas Tama sedikit lirih dan tak berani menatap wajah ku.
"Dia masih mencintai mu mas?" kini suara yang keluar dari mulut ku terdengar serak dan parau karena air mata ku pun sudah mengalir di kedua pipi ku.
"Mas tidak tahu, tapi dari tatapan matanya mas yakin dia pun sangat mencintai mas. Apakah kamu mengizinkan jika kami bersama setelah Mak e sembuh?" Aku menampar mas Tama dengan keras.
"Plak!" dadaku terasa sesak. Suara ku terisak menahan rasa yang ingin aku luapkan namun diluar ada Mak e didalam mobil dan disini pun terdapat beberapa orang.
Aku berlari ke arah toilet. Aku menangis beberapa saat lalu ku bersihkan wajah ku dengan air serta tissue yang berada di toilet. Kulihat jilbab hijau tosca yang menutupi rambut ku dari pantulan cermin dan aku bermonolog dengan diriku.
"Kita lihat Ran wanita seperti apa yang mas Tama katakan. Bukankah mantan mas Tama itu lulusan pesantren, juga bahkan dokter. Wanita baik seperti apa yang berani mencintai suami orang. Bahkan mereka hampir setiap hari bertemu."
Aku berjalan keluar toilet namun Sampai di pintu toilet aku berhenti.
Aku melihat tepi pintu dan meletakan telapak tangan kanan ku di antara pintu, dan tangan kiri ku memegang daun pintu, lalu aku menghempaskan dengan kuat pintu toilet itu hingga menjepit jari-jari tangan kanan ku.
"Brak!"
Terlihat dari jari-jari ku mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
"Ini hukuman mu sebagai seorang istri karena telah menampar suami mu Rana..." aku menatap jari tangan ku dan menangis terisak menahan sakit dihati juga sakit dari jari-jari ku.