
Dua hari telah berlalu dari kedatangan mas Tama . Hari ini aku masih duduk diatas sejadah ku selesai sholat magrib. Aku masih merenungkan apa jawaban yang akan kuberikan kepada mas Tama.
"Tok...tok...." suara pintu diketuk diikuti suara salam terdengar seperti suara mas Hardi dan mbak Imah serta anak-anak nya. Aku berjalan keluar dari ruangan mushola menuju ruang tamu namun Mak e telah berada di depan pintu seraya menjawab salam membukakan pintu.
"Mbah.... ini tadi Hilman sama Rohman mancing di sungai dapat Ikan gabus kesukaan Mbah" Suara riang Hilman membawa 3 ekor ikan yang dikenal pada sebuah tali namun seperti rumput.
"Wah cucu si Mbah sudah pintar memancing semua, sama siapa ke sungai? jangan pergi sendiri bahaya ya Nang" mak bertanya dengan nada khawatir sambil menerima ikan yang diberikan Hilman pada Mak e.
"Sama saya Mak" suara Mas Hardi yang disela sela menghisap rokoknya.
"Sini Mak saya bersihkan ikan nya" pintaku karena takut berbau amis jika dibiarkan di sini.
"Ndak usah sekarang Ran... masukan ke Kulkas saja sudah malam nanti masuk angin" larang ibu pada ku dan aku mengangguk an kepala.
"Iya lagian mbak mu sama mas kemari ada yang ingin dibicarakan sama kamu Ran" Mas Hardi meminta ku untuk kembali lagi keruang tamu dan menyimpan ikan tadi namun beliau minta dibuatkan kopi terlebih dahulu.
__ADS_1
Aku keluar dengan membawa segelas kopi dan 2 gelas teh serta Ubi rebus yang di rebus oleh Mak e sore tadi.
"Sini duduk sini Ran" mbak Imah meminta ku duduk disebelah nya. Dan aku dengan senang hati duduk di sebelahnya. Seketika mbak Imah merai tangan kanan ku dan menggenggam nya lalu menatap ku dengan penuh rasa sayang terlihat jelas ada yang ingin disampaikan mbak Imah pada ku dari tatapan nya.
"Kamu tahu Ran, mbak memang kakak ipar mu. Tapi tidak sekalipun dihati mbak mu ini menganggap kamu hanya adik ipar. Setelah menikah dengan mas Hardi mbak merasa kamu adik kandung mbak yang harus juga mbak lindungi, mbak sayangi dan mbak doakan untuk kebahagiaan nya" aku menatap mbak Imah dan mendengar dengan seksama apa point' yang ingin mbak Imah sampaikan.
"Kamu tahu ketika mas Hardi tahu kamu dikota pacaran sembunyi-sembunyi dengan pacarmu saat kuliah. Mbak berusaha bahkan sering berdebat dengan mas mu. Dan dalam rumah tangga mbak jika mbak pernah berselisih paham dan berdebat dengan suami mbak itu adalah ketika mas Hardi ingin kekota dan memarahi kamu. Saat itu mbak berusaha memberikan pengertian kepada mas Hardi bahwa mendidik anak atau saudara kita tidak bisa menggunakan kekerasan, haruslah menggunakan tarik ukur seperti layangan. Karena tidak ada anak zaman sekarang yang ingin dikekang, jika di marah maka yang ada sebuah pelarian atau bahkan sebuah amarah. Dan Alhamdulillah mas Hardi bisa mengerti setelah beberapa hari alotnya diskusi kami."
"Point' penting yang ingin mbak ingin sampaikan adalah Mas Hardi Sangat menyayangi kamu Ran, dan kamu lihat sekarang bagaimana bahagia nya mbak Imah sekarang? dan Mbak ingin kamu bahagia seperti mbak memiliki suami yang bukan hanya jadi pemimpin dirumah tangga tapi juga jadi sahabat, teman berbagi dalam hidup serti mertua yang menyayangi kamu sama seperti mbak. Dan itu mbak lihat ada pada Tama dan keluarga nya Ran. Ada ketulusan, ada kejujuran. Mbak harap kamu tidak menolak kesempatan kedua ini Ran Mbak ingin kamu bahagia bahkan lebih bahagia dari mbak"
"Sekarang Mbak ingin tanya sama kamu Ran, apa arti cinta menurut kamu?" mbak Imah kembali menatap ku dalam
"Menurut aku....." aku menoleh kearah mas Hardi dan Mak e lalu dilanjutkan kata-kata yang tertunda.
"Suatu rasa menyayangi, rasa ingin selalu bersama, rasa ingin membahagiakan orang tersebut dan hati ini tidak bisa tenang jika berjauhan mbak" ucapku hati-hati dan pelan.
__ADS_1
Dikeluarga kami memang membiasakan dari sejak kami SMP apapun itu di diskusikan bersama. Walau keputusan tetap berada siapa yang akan menjalani nya.
"Bagaimana kamu bisa merasakan ingin bersama, ingin membahagiakan dan merasa tenang jika berjauhan jika kamu dan dia ada tembok yang membentang yaitu jarak dan waktu..... Kamu tahu Ran Allah maha membolak-balikkan hati maka ketika kamu memiliki kenyamanan dan kamu yakin orang itu baik bagi kamu, pantas bagi kamu dan begitu pun sebaliknya dia baik bagi kamu dan dia pantas bagi kamu maka bukan alasan kata belum cinta untuk menolak nya"
"Yang penting itu pandangan kita dalam menjalani hidup itu sama Ran maka itu lebih dibutuhkan kalau yang kamu anggap cinta itu harus ada dulu sebelum menikah bagaimana itu bisa terjadi jika ada tembok yang harus kamu bangun dengan dia yaitu hubungan yang halal" Mas Tama ikut meyakinkan aku untuk keputusan ku.
"Besok sudah 3 hari dari waktu yang kamu janjikan nduk" Mak e mengingat kan.
"Bagaimana dengan Mak e? apa yang Mak pikirkan?"
"Kalau kamu bertanya tentang dari cara pikir dan apa yang Mak e rasakan maka Mak e cuma mau bilang sama kamu, sejauh ini Mak e merasa nyaman jika punya besan pak Narso dan buk Titik. Dan Mak pun akan senang jika punya menantu seperti nak Tama maka akan lengkap kebahagiaan Mak memiliki menantu-menantu yang berbakti kepada kedua orang tuanya walau telah menikah. Tidak membeda-bedakan kasih sayang antara orang tua dan mertua dan yang paling penting bisa membahagiakan anak-anak Mak e. Tidak hanya mampu menerima kelebihannya tapi juga melengkapi kekurangannya dan itu Mak e lihat ada pada nak Tama" Mak kini sudah berpindah duduk disebelah ku dan kini aku duduk diantara Mak e dan mbak Imah.
"Mantap kan hati kamu Ran, mas mu dan mbak Imah serta Mak e hanya ingin kamu tidak hanya mengandalkan perasaan untuk sebuah hubungan tapi juga logika, dan realita. Karena rumah tangga tidak cukup dibangun hanya dengan bermodal cinta tapi akan kokoh jika dibangun dengan niat ibadah kepada Allah karena akan tumbuh cinta yang kuat kepada pasangan kita jika dalam pernikahan kita diawali kita ingin beribadah" Mak e kembali memberikan petuah untuk kemantapan hati ku.
Setidaknya point' penting keluarga sudah kudapatkan jawaban nya. Tinggal kini bagaimana dengan hati ku. Tapi akan aneh jika menjalani rumah tangga hanya berlandaskan rasa nyaman dan apakah tidak menjadi beban jika di niatkan Ibadah? ahhhh aku akan memikirkan kembali nanti malam terakhirku dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
"Insyaallah Mak, mbak, mas besok ada jawaban terbaik untuk semuanya termasuk Rana"