Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
Bab 71 Dibalik sifat Periang Tiara


__ADS_3

Mak e masih harus dirawat beberapa hari kedepan. Dan mas Hardi hari ini pulang ke kampung karena waktu panen telah tiba. Maka mau tak mau mas Hardi kembali ke desa. Teriknya mentari pagi ini membuat keringat membasahi dahi ku. Namun terasa sejuk ketika masuk keruangan rawat mak e yang terdapat pendingin. Ketika masuk keruangan Mak e aku lupa membawa air minum sehingga aku harus kekantin mumpung ada perawat yang sedang ku minta menunggu Mak e terlebih dahulu.


Sesampai nya aku dikantor terlihat sesosok wanita yang aku kenal kemarin dengan jilbab pink dan kacamata yang sedikit turun dari hidung mancung nya sedang membawa sebuah steroform dan segelas cappucino.


“Dokter Tiara”


Aku berjalan ke arah Tiara dan wanita itu pun menyambut ku dengan hangat serta senyum manisnya. Wanita ini selalu tersenyum ketika bertemu tetapi akan selalu menundukkan wajah nya ketika bertemu dengan lelaki. Itulah kenapa beberapa hari lalu dia sakit sekali hatinya ketika pria yang kukenal direktur di rumah sakit ini menggengam tanggan nya.


“Rana... Kupikir ibu mu sudah pulang. Masih dirawat ya?”


Tiara berhenti dan meletakan steroform nya dan beristri disebelah ku yang akan membeli air mineral.


“Iya dok, masih harus tunggu beberapa hari lagi kata dokternya. Dokter belum sarapan?”


Aku melirik ke arah steroform yang diletakkan oleh dokter Tiara di meja yang ada dibelakang nya.


“Iya tadi pagi kesiangan biasa kalau lagi datang bulan aku sedikit bermalas-malasan hehe...”


Senyum nya Kembali terukir. Entah lah ada rasa nyaman berbicara dan berdekatan dengan dokter Tiara ini. Dokter Tiara menatap tangan ku yang memegang satu botol besar air mineral.


“Tadi ketinggalan dirumah air nya. Aku tidak bisa merasa haus”


Aku membuka air mineral itu dan baru akan meminumnya namun tangan lembut dokter Tiara menahan pergelangan tangan ku.


“Rasulullah melarang minum sambil berdiri dan minum langsung dari mulut botol HR. Muslim."


“Hehe... Jangan bosan-bosan ya Dok mengingatkan aku yang masih minim ilmu agama ini”


Acap ku sedikit tersipu bahkan dirumah pun mas Tama sering mengingatkan aku ketika aku minum di depan dispenser dengan posisi berdiri. Tetapi aku akan lupa jika sedang dalam kehausan seperti saat ini.


“Saya mau ke ruangan Mak e dulu ya dok... Mak e sendirian”

__ADS_1


Baru saja mau berjalan tiba-tiba tangan dokter Tiara melingkar di lengan ku.


“Tunggu, aku boleh ya sarapan diruangan ibu mu. Sekalian besuk ibu mu”


Mata dokter Tiara disipitkan dengan mimik wajah sedikit memelas.


“Baiklah buk dokter. Saya merasa senang kalau dokter mau membesuk Mak e”


Aku memegang tangan kiri dokter Tiara yang melingkar di lengan ku tanda setuju.


“Tiara atau Ara. Bukan dokter. Oke?”


Protes dokter cantik itu yang keberatan dipanggil dokter.


“Ara lebih nyaman kayaknya."


Kami berjalan bersama kedalam ruangan Mak e. Setelah menyapa Mak e, Ara menikmati sarapannya dan sambil bercerita banyak hal. Hingga pada pembahasan dia termenung ketika dia bertanya apa isi kotak makan siang ku. Ya aku membawa bekal untuk makan siang karena mas Tama bilang akan makan disini nanti siang dan minta menu tongseng serta acar mentimun.


Baru aku mau membuka nya namu Tiara menahan aku untuk tidak membukanya.


“Ga Ran, menu mu mengingat kan aku akan seseorang yang sekarang masih ada dihati ku."


Kali pertama dokter yang murah senyum, cantik dan periang ini menunjukkan wajah sendu nya.


Aku menatap wajah Ara dan terlihat butiran bening di ujung netra nya.


“Ceritakan lah jika kamu berkenan Ra. Dan menangislah jika dengan menangis membuat kamu tenang”


Aku mencoba menenangkan Ara agar butiran bening embun itu tidak jatuh ke pipi putih nya.


“Boleh pinjam pundaknya Ran?”

__ADS_1


Aku mengangguk tanda setuju. Dan Ara memeluk ku dengan terisak. Aku tidak tahu apa yang teman baru ku ini pendam tetapi tentu sebuah perasaan yang sakit mungkin hingga hanya mengingat menu saja dia bisa terisak seperti ini.


Ara melepaskan pelukannya beberapa menit dan mengambil tissue yang berada di meja. Aku tidak berani bertanya karena aku bukan tipe orang yang ingin tahu permasalahan orang.


“Maaf ya Ran pagi-pagi udah ngeladeni orang yang ngehalu.”


Seketika Ara tersenyum dan tidak terlihat kesedihan beberapa menit lalu yang ku tangkap dari wajahnya sebelum iya sandarkan di pundak ku ku.


“Kita manusia biasa. Sekuat apapun kita butuh tempat bersandar. Butuh tempat cerita. Aku tidak menyangka kupikir kamu wanita yang sempurna dan bahagia. Namun sepertinya kamu menyimpan luka yang cukup dalam”


Aku menyerahkan segelas air mineral pada Ara karena dia belum minum setelah menghabiskan sarapannya.


“Aku hanya sebuah kepompong yang menyimpan segala rasa sendiri didalam sarang ku Ran.”


Ara melihat jam tangannya.


“Maka saat kepompong itu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Ia akan mendapatkan kebahagian karena bisa terbang kesana kemari menunjukan keindahan sayap dan warna nya”


Aku yang biasa mendengar lilik berkata puitis di grub wa pun mencoba memberikan itu kepada Ara yang kurasa ada yang ingin ia ceritakan namun ia pendam, mungkin aib baginya jika bercerita pada ku.


“Aku keruangan dulu ya. Oya nanti kalau ibu mu sudah bangun usahakan gerakan tangan nya seperti kata ku tadi. Agar beliau tidak merasa sakit karena peredaran dara tidak lancar karena anggota tubuhnya yang tidak bergerak”


Ucap Ara saat telah berdiri dan menatap ke arah Mak e yang baru makan dan minum obat lalu tertidur.


“Baik Ra. Kabari aku kapanpun kamu butuh pundak ku ini untuk menangis”


Goda ku pada Ara.


"Aku senang bisa mengenal mu Ran. kabari aku kalau butuh apa-apa ya?"


"Siap buk dokter"

__ADS_1


Ucap ku sambil mengangkat tangan seperti sedang hormat.


__ADS_2