Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 20 PERMINTAAN MAAF RANA


__ADS_3

Gemercik suara hujan dari suara genteng tambah deras, aku masih duduk sambil memijat kaki mak e. Aku selalu menyempatkan waktu untuk mengobrol sambil memijat kaki atau pundak Mak e.


"Sudah telpon Pak Amir? takut kalau Ndak telpon dulu kamu ditinggal kalau penuh penumpangnya Na" tanya Mak e padaku.


Mak akan seperti ini selalu menyibukan diri dengan biji-biji tasbih ditangan nya saat berada dalam keadaan santai atau pun sakit seperti saat ini.


"Sudah Mak, Mak jangan banyak pikiran Mak. Nanti kalau Rana selesai kuliah Rana akan nemanin Mak e".


"Mak ya Ndak setuju kalau kamu sudah kuliah mau pulang ke desa nduk, sana cari pengalaman dikota sebelum menikah. Karena kalau menikah kamu ya apa-apa harus pamit atau izin suami nduk" jelas Mak e padaku


"Ah Rana belum kepikiran mau nikah Mak. Rana mau membahagiakan Mak e dulu."


"Hus... ga boleh bicara begitu, kalau jodoh sudah di depan mata kenapa juga harus tunggu nanti-nanti. Mak Ndak mau kamu pacaran loh na. Kalau memang ada yang baik kenalan terus nikah saja Mak ridho" Mak e kembali mengingatkan aku tentang larangan pacaran buat ku.


Sesaat aku teringat bahwa akan minta maaf pada Mak e tentang ketidakjujuran ku pada Mak e soal hubungan ku dan mas Ardi.

__ADS_1


"Mak, Rana mau cerita Sama Mak e tapi Mak e janji ya mau maafin Rana?" pintaku pada Mak e seraya ku tarik kursi ke dekat ranjang Mak e dan kini aku sudah duduk disebelah Mak e dengan menggenggam tangan Mak e.


"Apa Ran? cerita sama Mak e, memang nya Mak e pernah marah pada mu kalau kamu tidak kelewatan? coba diingat kapan terakhir Mak e marah sama kamu?"


"Iya mak Rana malah sudah ga ingat kapan Mak e marah setelah Rana dewasa. Mak, Rana mau minta maaf sama Mak e. Sebenarnya selama dikota Rana sempat pacaran, cukup lama Mak hampir 5 tahun. Tepatnya ketika kelas 3 SMA Mak. Tapi Rana cuma dekat saja Mak bahkan Ndak pernah kayak yang Mak khawatirkan. Maafin Rana ya Mak....."Aku menangis dan memeluk Mak e


"Mak e kecewa pada mu Ran, anak Mak e yang selama ini begitu baik kenapa bisa berbohong pada Mak e?" Mak terlihat meneteskan butir-butir hangat di pipinya melalui sudut matanya yang terlihat beberapa keriput diujung matanya.


"Maafkan Rana Mak... Rana minta maaf sama Mak e. Rana janji Ndak bakal mengulangi kesalahan Rana Mak" aku menghapus air mata yang terasa hangat dipipi Mak e.


"Sudah tidak lagi Mak. Dia sudah menikah Mak" jawabku singkat


"Berarti kamu mengelak membahas pernikahan karena ditinggal menikah begitu?" selidik Mak e


"Ya Ndak begitu Mak, tapi Rana berpikir apa yang selama ini Mak katakan benar. Rana saja yang bodoh tidak mendengarkan nasehat Mak e"

__ADS_1


"Ya Sudah, tapi kalau ada laki-laki yang baik akhlaknya, bisa menerima kamu apa adanya dan meminang kam terus kenapa harus ditolak ya toh?"


"Asal jangan Ustad Abdul saja Mak hahahaha" canda ku pada Mak e.


Mak e memang kurang suka dengan Ustad Abdul. Beliau memang seorang alim di desa kami. Beliau kalau mengaji suaranya akan sangat begitu merdu. Begitu pun dengan gelar tidak salah lagi beliau sudah hampir S2 dan S1 yang beliau dapatkan di Malaysia. Akan tetapi Mak kurang suka Adab nya ustad Abdul. Sebagai da'i muda ketika baru satu tahun di desa kami beliau dengan berani nya menjatuhkan pendapatnya didepan umum yang menyalahkan ustad Qori dimana ustad Qori adalah sesepuh di desa kami. Aku ingat betul ketika mas Hardi pulang dari masjid ketika akan diadakannya Qurban dan disana ada selisih paham oleh jamaah.


"Ternyata Ustad Abdul masih seperti Abdul ketika kami SMA Mak e. Masih mengedepan kan ilmu nya tanpa mengedepankan akhlaknya. Bayangkan sekelas Ustad Qori bisa di tunjuk-tunjuknya Mak di depan jamaah tidak ada sama sekali Sifat menghormati selaku anak muda"


Dan masih banyak lagi beberapa kejadian dimana Ustad Abdul selalu meremehkan sebuah adab di depan mereka yang lebih tua. Sehingga Mak e kurang respek begitu pun Mas Hardi akan tetapi mas Hardi tetap menghormati karena beliau bagaimana pun tokoh agama di desa kami.


"Ya Ustad Abdul itu sebenarnya pemuda yang tampan, pintar dan suaranya itu kalau mengaji bisa membuat orang yang mendengar jadi menghayati walau tidak tahu artinya tapi Mak kurang suka beliau itu kalau sudah urusan dengan adu pemikiran akan menghilangkan yang namanya Adab kepada yang lebih tua"


"Sudah malam, ayo istirahat sini Ran besok kamu harus pagi-pagi belum lagi Mak dibantu kasih makan ikan dulu besok, mas Hardi katanya mau membenarkan kandang sapinya ada yang lepas kayu nya".


Aku pun akhirnya tidur disebelah Mak e dan memeluk Mak e. Ada rasa bahagia karena aku sudah meminta maaf pada Mak e. Permintaan maaf yang selama ini tak berani ku ungkapkan pada Mak e

__ADS_1


__ADS_2