Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 47 KEMBALI KECEWA


__ADS_3

Satu Minggu sudah terlewati akhirnya aku dan mas Tama kembali ke kota hari ini. Dan setelah kejadian pagi itu aku kembali membentang jarak antara aku dan mas Tama. Aku begitu kecewa dengan mas Tama.


Kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai di rumah mas Tama. Sebuah rumah yang bercat hijau lumut dengan perpaduan coklat tua serta putih rumah itu terlihat begitu nyaman. Ada sebuah garasi disebelah rumah tersebut dan teras yang minimalis.


Mas Tama membuka pintu mengucapkan salam lalu masuk ke dalam kamar utama. Berdasarkan cerita mas Tama rumah ini dibeli orang tuanya ketika dia akan melanjutkan kuliah di kota. terdapat 3 kamar dirumah ini. Dan kamar mas Tama berada di lantai 2. Sebuah kamar yang cukup luas, terdapat sekat-sekat di kamar mas Tama. terlihat disebelah kanan tempat yang biasa digunakan untuk shalat dan di sebelah kiri terdapat ranjang king size dan bupet serta meja kerja. dan di ujung kamar terdapat sebuah pintu terlihat seperti pintu kamar mandi.


Setelah masuk ke kamar nya mas Tama seolah masih merasakan bahwa semua baik-baik saja. Ketika dia ingin menghidupkan lampu ternyata tidak berhasil.


"Wah bohlamnya putus mungkin.... Hhh... kita istirahat dulu dibawah yok Rana. Kamu mau minum apa biar mas buatin" tanya mas Tama kepada ku dan berjalan kearah balkon karena kini aku berada di balkon melihat kearah depan rumah mas Tama.


"Masih panas kalau jam segini. nanti sore atau malam enak nya berdiri disini Ran..." mas Tama memeluk ku dari belakang.


Aku yang masih merasa kesal cepat melepaskan pelukan mas Tama dan berjalan kearah pintu.


"Aku mau minum air dingin saja mas ..."


Aku menuruni anak tangga dan kulihat ternyata dapur berada dibawah anak tangga. Ketika ku buka kulkas tidak ada apa-apa. Aku berpikir bagaimana nanti sore kalau mau makan sore.


Dan tak lama mas Tama muncul dan duduk di meja makan.


"Mas, seperti nya isi kulkas ya sudah ga ada apa-apa. Syay belanja dulu nanti bingung untuk makanan sore dan besok pagi?".


"Ya tunggu...". mas Tama tampak membasuh tangannya namun tiba-tiba kran air yang ada dihadapannya muncrat.


"Astaghfirullahal 'adziim..... Ran kamu bisa buka pintu belakang? ada kran berwarna merah diujung dinding ini tolong putar agar tertutup".


Mas Tama menahan nya dan aku berlari kebelakang rumah melakukan sesuai instruksi mas Tama.


"Wah harus segera diperbaiki Ran... kalau tunggu nanti-nanti khawatir yang dikamar atas sama saja. Ini kemarin sudah mas ingatkan ke tukang nya untuk di lem tapi tidak di lem"


"Ya sudah Rana sendiri saja sepertinya di garasi tadi ada motor matic. biar Rana belanja nya ada minimarket tidak di dekat ini biar beli disana saja cari yang instant-instan dulu buat sore dan besok pagi ya mas". Saran ku karena ini sudah hampir pukul 4.


"Baiklah kalau begitu kita shalat ashar dulu ya"


Tak lama setelah selesai shalat ashar mas Tama memberikan sebuah ATM, STNK dan kunci motor kepada ku.


"ini STNK motornya Ran, kamu punya SIM?"

__ADS_1


"Hehe.... ga ada mas. Tapi kalau nyetir motor ga usah diragukan lagi"


"Ya sudah dari sini kamu belok kanan belok kanan lagi lurus saja nanti ada minimarket nah didepan nya ada warung sayur-sayuran biasanya kalau sore begini rame Ran yang punya warung baru pulang dari pasar" jelas mas Tama


"Trus ini apa mas?"


"masa ga tau itu apa hehe..."


"Maksud ku ini ATM buat apa?" jawabku sedikit sewot. Entahlah rasa kesal perihal guling masih bercokol dengan angkuhnya dihati ku. Hingga sampai hari ini aku masih jengkel dengan mas Tama. Dan dia biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Itu ATM gaji suami mu Ran, Mulai sekarang kamu yang pegang. Kebetulan kemarin gaji 3 bulan sebelum kita menikah mas ga pakai jadi ada sedikit lumayan kalau kamu mau beli gamis atau jilbab tambahan"


.


"Pin nya mas"


"pin nya 060678"


"Pasti tanggal lahir ya mas...". tebak ku asal.


" Istri mas cerdas dan pintar menebak rupanya. coba tebak tanggal lahir siapa"


"Bukan.... tanggal lahir ibu" Mas Tama tersenyum menunjukan gigi putihnya dan lesung pipi nya.


Namun aku malah merasakan kembali sesak di dada mendengar kata ibu. Aku kembali bermonolog dalam hati ku. seolah Hati dan otak ku sedang berdebat.


"Ibu.... ibu lagi.... ya Tuhan..,. apa yang harus aku lakukan seperti nya nanti malam waktu yang tepat aku harus berbicara pada mas Tama perihal ini."


"Ayolah Ran..... ini bukan cemburu pada ibu tapi lebih ke masalah mu tentang guling yang membuat ketika kamu mendengar kata ibu panas..." seolah hati ku menenangkan hati dan otak ku. karena ketika Otak ku mengalirkan perintah ketelinga ku untuk sampai kan rasa marah pada hati mendengar kata ibu.


"Aku berangkat dulu mas"


"Jangan lupa mas titip lampu 20 Watt untuk di kamar kita ya seperti nya bohlam nya putus"


"Aku mengangguk dan mengenakan jilbab crem ku serta memberikan lipstik di bibirku.


"Ran... tunggu"

__ADS_1


Hhhh..,. aku dengan malas menoleh. Terlihat mas Tama menjulurkan tangannya.


"Istri yang mencium tangan suami akan mendapatkan keberkahan Ran.... mas ingin kamu mendapatkan keberkahan itu. Lakukan lah ini saat kemanapun kamu ingin pergi" Mas Tama seolah tahu tatapan bingung ku.


"Baik lah suami ku." ku berjalan kearah mas Tama menerima tangannya dan mencium punggung tangannya ketika aku akan melepaskannya mas Tama menahan dan menariknya.


Dan seketika mas Tama mendekatkan wajahnya kearah ku. Entahlah karena reflek karena masih menyimpan kecewa dan kesal aku reflek mendorong tubuh mas Tama hingga terduduk di atas kasur.


"Maaf mas.... Tolong... Rana mohon untuk jangan melakukan nya dengan mendadak. Rana belum terbiasa". kilah ku karena mas Tama seperti kaget melihat apa yang aku lakukan barusan.


"Rana pergi dulu ya mas Assalamualaikum".


"Walaikumsalam...." ku lirik masa Tama masih duduk diatas kasur dengan tatapan bingung.


Aku mempercepat menuju garasi. tidak lama aku keluar dari garasi dengan motor matic silver dan helm hitam.


Tidak butuh waktu lama aku sudah berbelanja kebutuhan dapur serta bohlam yang mas Tama pesankan. Ketika berjalan kearah parkiran aku kaget karena ban motor belakang ku kempes.


"Bocor kayaknya mbak" tiba-tiba tukang parkir yang hendak membantu ku memutar kepala motor dari area parkir menuju keluar minimarket.


"aduh iya pak... kira-kira dimana ya pak tukang tambal ban?"


"Mbak belok kanan trus ke kanan lagi saja nanti ada tuh bengkel sekaligus tambal ban" jelas bapak tukang parkir setelah ku beri uang dua ribu rupiah.


"terima kasih pak"


Tidak lama aku sampai ternyata tidak jauh dari rumah mas Tama. Karena yang punya bengkel sedang ada motor yang antri ada 4 motor. Beliau mengatakan pada ku mungkin satu jam lagi soalnya antri. Beruntung yang punya bengkel mengenali motor ini milik tetangganya mas Tama. Akhirnya aku memutuskan pulang dulu khawatir mas Tama menunggu bohlam yang ku beli tadi. Aku memutuskan meninggalkan motor di bengkel dan berjalan kembali kerumah mas Tama.


Sesampainya di depan rumah terlihat sebuah mobil putih. Kupikir ada tamu sehingga aku berjalan masuk. Baru saja aku tiba di depan teras aku dikagetkan dengan suara perempuan sedang sedikit menangis berbicara pada mas Tama.


"Kak.... aku sudah bercerai... dan alasan ku bercerai dengan suami ku karena aku belum bisa melupakan mu kak bahkan aku sering menyebut nama mu dalam tidur ku. Jika kamu mengijinkan aku ingin meneruskan hubungan kita. aku ingin melamar mu menjadi suami ku" Suara perempuan itu dengan Isak tangis.


" Ay..... Mas pun masih belum bisa melupakan kamu.... Kamu tahu untuk waktu 4 tahun dengan harapan-harapan yang kita impikan mas sangat menginginkan kamu menjadi istri mas...."


Jantung ku seketika berdetak begitu kencang dan sesak. Tubuh ku bergetar dan aku rasa kaki ku pun tak bertenaga untuk melangkah kedalam. Aku mundur beberapa langkah dan berbalik. Air mata di pelupuk mata ku pun sudah tak terbendung lagi. aku mempercepat jalan ku melewati beberapa rumah lalu aku memberhentikan ojek.


Air mata ku mengalir begitu deras dan pertanyaan tukang ojek tentang tujuan ku pun tak bisa aku jawab. bibir ku keluh menahan sesak di dada. Pipiku basah dan aku kini menangis tesedu-sedu diatas ojek ini. Seolah mengerti bahwa aku sedang ingin menangis sang ojek pun mengemudi kan motornya cukup pelan sambil menunggu jawaban atas pertanyaan nya.

__ADS_1


"


__ADS_2