Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 64 SEBUAH TAMPARAN


__ADS_3

Pagi ini mas Tama mengajak ku keluar karena hari libur kami berdua. Dan bertepatan dengan hari ulang tahun ku. Pagi tadi dia sudah memberikan aku kejutan dengan sebuah kue ulang tahun di dalam kamar setelah aku bangun. Dan hari ini dia bilang akan memberikan kado yang tidak boleh ditolak oleh ku. Aku pun mengiyakannya, karena membuat suami bahagia adalah salah satu prinsip ku.


Aku mengenakan gamis setelan yang berwarna caramel dan mas Tama mengenakan baju senada t shirt yang berwarna caramel dan celana putih.


"Kita mau kemana sih mas kok naik taksi online?" Tanya ku penasaran karena tidak biasanya kami naik taksi online. Namun jika perjalanan jauh tapi kami tidak membawa baju ganti.


"Mas sudah bilang mau kasih istri mas hadiah dan ga boleh ditolak. Ini ulang tahun kedua selama kamu jadi istri mas. Dan rezeki mas setelah menikah dengan kamu itu luar biasa sayang. Bisnis-bisnis yang selama ini mas tanamkan modal disana seolah berjalan lancar ketika mas selalu meminta doa istri mas ini"


Mas Tama menarik aku ke pelukannya. Ya hampir satu tahun setengah kami menikah.


"Mas...., mas adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk Rana. Tidak semua wanita diperlakukan begitu lembut, manis, sabar oleh suami nya. Tidak semua wanita dijaga kewarasan nya karena sang lelaki hanya merasa mencari nafkah namun tidak memikirkan bahwa sang istri butuh tempat ngobrol, tempat berbagi, bercanda dirumah. Dan mas ibaratkan paket lengkap dengan segala bonusnya yang Tuhan berikan dalam hidup Rana...." Aku menitikkan air mata dalam pelukan mas Tama.


Bagaimana tidak bahagia, suami ku ini begitu menyayangi aku dan tetap memberikan aku kesempatan berbakti pada Mak e. saat libur sekolah aku selalu di kampung menemani Mak walau hanya 3 atau 4 hari. Mas Tama selalu memaksa karena Mak e masih nyaman di kampung.


Kami sudah tiba di sebuah showroom mobil yang terlihat tidak terlalu ramai mungkin karena hari Sabtu. Mas Tama membuka kan pintu untuk ku.


"Ayo..." mas Tama menggenggam tangan ku dan berjalan ke arah showroom.


"Mas... jangan bilang mau beliin Rana mobil. Rana kan belum terlalu lancar nyetir mobilnya. terus SIM nya juga belum punya mas" Aku menatap showroom di depan ku ini dan bisa kupastikan suami ku ini akan memberikan hadiah mobil karena terlihat ketika akan berangkat tadi dia mengingatkan untuk tidak lupa bawa KTP.


"Eit... tidak ada penolakan" kami sudah tiba di lobi showroom yang cukup besar dikota kami. Terlihat seorang perempuan mengenakan blazer biru mendekati kami dan bertanya apa yang bisa dibantu.


Mas Tama mengatakan ingin membeli mobil buat istri nya. Lalu kami diarahkan ke beberapa mobil keluaran terbaru yang dipajang di showroom tersebut.

__ADS_1


"Sayang, kamu lihat-lihat dulu ya. Mas mau ke kamar kecil dulu. Oke..." Mas Tama meminta izin ku dulu dan berlalu meninggalkan aku yang masih melihat mobil berwarna hitam dan masuk kedalamnya karena pegawai berbaju biru tadi meminta ku untuk masuk dan melihat interior didalam mobil ini.


Ketika aku keluar dari mobil berwarna hitam ini, aku kaget karena high heels ku tersangkut sesuatu hingga membuat keseimbangan tubuh ku oleng. Beruntung ada seseorang yang memegang lengan ku dari belakang dan aku tidak jadi terjatuh. Ketika aku berbalik dan ingin mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu ku, aku dibuat kaget dan pandangan mata kami sama-sama saling menatap.


"Ter..... Mas Ardi..."


"Dek....."


Sekian detik aku tersadar dan aku membuang pandangan seolah ada yang aku cari.


"Maaf mbak yang tadi aku suruh ke meja pelayanan karena ada yang mau transaksi pembelian" Mas Ardi seolah mengerti apa yang aku cari.


"Terima kasih..." Aku berbalik dan melangkah ingin meninggalkan mas Ardi. Aku tidak mau mas Tama salah paham melihat kehadiran mas Ardi disini.


"Tunggu Dek.... Mas ingin bicara. Mas masih sangat menyayangi kamu... mas merindukan kamu dek...." Suara mas Ardi terdengar lirih.


Aku menghempaskan tangan mas Ardi dan membalikkan badan ku hingga kini berhadapan dengan nya. Aku menatap tajam mas Ardi dan lelaki itu menatap ku dengan wajah sendu tidak sesuai dengan tampilan nya yang terlihat elegan mengenakan jas dan dasi.


"Dek..."


"Cukup! Jangan sentuh aku!. Kamu tahu aku merasa begitu bersyukur karena saat itu kamu meninggalkan aku dan akhir nya hubungan kita tidak berakhir dipelaminan maka jika itu terjadi saat ini aku akan menjadi istri yang menyedihkan. Karena pertama suaminya dengan mudah mengatakan kepada wanita lain tentang cinta yang harusnya dikubur, kedua anda memegang tangan wanita lain yang jelas-jelas dia mantan pacar anda dan istri orang, ketiga aku bersyukur karena aku pastikan suami ku bukan lelaki seperti kamu!" Ucap ku dengan nada yang cukup tinggi dan tatapan yang masih tajam.


Entah karena emosi yang dahulu belum sempat tersalurkan, atau memang aku marah lelaki ini menggenggam tangan ku.

__ADS_1


"Dek, mas menyesal... Mas merindukan kamu" bukan berhenti namun lelak ini malah masih sibuk dengan perasaan nya pada ku.


"Itu urusan kamu dan masalah kamu mas. Satu hal lagi bapak Ardi Kurniawan, aku dan suami ku kemari untuk membeli mobil. Dan aku tidak ingin anda kehilangan pembeli anda karena tidak nyaman dengan kelakuan anda. Karena anda tahu persis kalau aku selalu mengandalkan kenyamanan untuk membeli sesuatu apalagi menjalin suatu hubungan bukan mengedepankan nafsu dan penampilan" aku menekan mas Tama karena terlihat di bedname nya tertera nama dan jabatannya Manager. Aku berjalan ke arah mobil lain dan berharap mas Tama segera muncul.


Ketika aku berada di sebuah mobil berwarna yellow mas Ardi masih mengikuti aku dari belakang. Aku membuka pintu mobil berwarna yellow ini dan melihat interior didalam nya.


"Ini ada warna kesukaan kamu biru dan coklat dek kalau kamu mau..."


"Maaf aku tidak lagi suka warna itu pak Ardi. Dan maaf bisakah anda menyuruh pegawai perempuan untuk menemani saya melihat-lihat mobil di showroom ini?" Tanya ku dengan duduk di balik kemudi dalam mobil berwarna yellow. Ketika aku akan keluar mas Ardi malah menghadang jalan ku karena berdiri di depan pintu.


"Minggir, aku mau keluar!" emosi ku makin menjadi. Aku merasa jengkel dengan kelakuan mas Ardi tidak bisakah dia mencerna perkataan ku tadi bahwa aku sudah menikah dan dia pun sudah menikah. Kenapa masih harus bergulat dengan masalalu. Apakah dia tidak bahagia bersama Melinda. Namun itu bukan urusan ku. Bukankah itu pilihannya dahulu.


"Kamu tambah cantik dek. Kamu bahagia dek....?" Mas Ardi bertanya dengan suara lirih dan menatap ke hadapan ku.


Aku memilih menghadap ke depan seolah sedang mengemudikan mobil.


"Apakah aku sedang terlihat tidak bahagia?" aku menoleh dan menatap tajam mas Ardi kemudian kembali menatap kedepan namun dengan tatapan yang tajam dan dingin.


"Hari ini aku bertambah sangat bahagia karena keputusan mu dulu meninggalkan ku hingga aku menemukan seorang lelaki yang mau menerima ku bukan karena kelebihan, bukan karena kecantikan wajah ku. Bukan karena kesempurnaan ku dalam penampilan namun dia mencintai ku dengan tulus hingga membuat aku sekarang menjadi sempurna dan menjadi indah dipandang. Jika dulu aku dibuang layaknya sampah bahkan di toleh pun tidak untuk sekedar mengucapkan terima kasih atau salam perpisahan kini aku bahagia karena ada seorang lelaki yang memungut, merawat dan mengubah sampah itu menjadi sebutir permata hingga membuat yang membuang lupa bahwa dia pernah dibuang layaknya sampah" Aku mendorong tubuh mas Ardi yang terpaku di depan pintu mobil dan berjalan ke arah lobi.


Kulihat mas Tama berjalan ke arah ku. Cepat aku melangkah ke arah mas Tama karena aku sudah sangat tidak nyaman dengan mas Ardi namun kembali lelaki yang bernama Ardi itu seolah bodoh dia menarik tangan ku kembali hingga aku hampir terjatuh beruntung aku mampu cepat menstabilkan posisi ku kembali.


Aku yang dari tadi menahan kesal dan emosi berbalik dengan cepat dan menghadap mas Ardi

__ADS_1


"Plak!"


__ADS_2