
Nada alarm yang berasal dari handphone mas Tama membangun kan ku. Ketika aku membuka kedua mata ku terlihat dada bidang lelaki dari temaramnya cahaya lampu Yang berasal dari teras. Aku mendongakkan kepala dan melihat wajah tampan yang semalam memperlakukan ku begitu lembut. Entah beberapa jam kegiatan yang menimbulkan sensasi aneh dan nikmat dibalik selimut malam tadi.
Dan aku tidak percaya malam tadi hari pertama aku tertidur dengan keadaan gelap, walau masih terdapat remang-remang cahaya dari lampu teras yang masuk lewat ventilasi udara.
Baru aku mau menggeser tubuh ku untuk mematikan alarm di handphone mas Tama tetapi pelukan mas Tama makin erat. Dia mengeluarkan suara paraunya ketika bangun tidur.
"Mau kemana Ran.... biarkan saja sebentar lagi dia akan berhenti sendiri" dan satu kecupan mendarat di kuncak kepala ku. Tangannya kembali menarik aku kedalam dekapannya.
Ada rasa risih karena bisa aku rasakan kami masih belum memakai baju hanya berbalut selimut.
"Sebentar lagi shubuh mas" cicit ku pelan dalam dekapannya.
"Hem....Tenang saja Disini kita bisa mandi dan keramas didalam kamar serta bisa shalat di dalam kamar. Terima kasih Ran.... Terima kasih sudah membuka hati untuk ku. Berjanjilah untuk memberitahu ku isi hati mu. Karena mas baru satu kali dekat dengan perempuan itu pun kami LDR dan mas tidak banyak mengerti jika kamu hanya menahan apa yang kamu rasakan. Katakan apa yang kamu rasakan, yang kamu inginkan"
"Hem...." aku mencoba melingkarkan tangan ku di pinggang mas Tama.
Tak lama terdengar suara adzan shubuh. dari dalam kamar terdengar suara ibu mas Tama membangunkan Dwi. Aku merasa sungkan jika harus keluar dari kamar setelah matahari terbit karena hari ini hari pertma aku sebagai menantu dirumah ini.
"Mas, aku mau mandi. Ga enak kalau kesiangan sama ibu" Suara Ku pelan.
"Biarin ibu juga tahu kita masih pengantin baru bahkan kalau bukan karena ibu maka pasti diantara kita pasti masih ada guling hehe"
Deg. Aku kaget bagaimana bisa mas Tama menceritakan pada ibunya perihal apa yang terjadi diantara kami bahkan termasuk soal guling pun ia ceritakan pada ibunya. Seketika hati ku ada rasa sakit dan kecewa. Aku tahu dia laki-laki yang baik dan menyayangi ibunya tapi buka berarti dia menceritakan apa yang terjadi diantara kami. Aku hanya malu jika dianggap sebagai istri yang durhaka pada suaminya karena menahan sesuatu yang harusnya aku berikan pada mas Tama di malam pertama kami menikah.
Aku langsung melepaskan pelukan ku dari mas Tama dan aku menarik selimut dan berjalan ke arah kamar mandi. Mas Tama langsung duduk dan menarik tangan ku.
"Aku mau mandi mas. Aku tidak mau malu dihari pertama aku menjadi menantu". Sedikit ku tekan kata malu dan menantu. Mas Tama melepaskan tangan nya dan membiarkan aku ke kamar mandi.
"Sepolos itukah kamu mas? Sesayang itukah kamu mas pada ibu mu. Sampai urusan ranjang pun kamu ceritakan pada ibu mu". Gumam ku dalam tangis dibawah guyuran shower.
Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar dengan mengenakan bathrobe dan melilitkan handuk ke kepala ku. Aku duduk di meja rias yang identik dengan bentuk cerminnya yang persegi dan sangat lebar.
Mas Tama yang berlilitkan handuk kini berada di belakang ku dan memegang pundak ku. Ketiak dia akan mengecup leher ku. Seketika aku berdiri dan berjalan kearah cover ku. Aku masih ingin belum berinteraksi dengan mas Tama. Masih ada rasa kecewa dalam hati ku.
"Cepatlah mandi mas kalau mau berjamaah shubuhnya kalau tidak mau aku duluan" kataku cepat seraya membuka cover untuk mencari baju ganti dan jilbab.
"Iya... kita jamaah kamu tunggu ya mas mandi dulu. Oya Ran itu dilemari yang sebelah kiri kosong kemarin ibu sengaja bilang merapikan lemari agar baju mu bisa disusun disana"
Mas Tama berlalu dan masuk kedalam kamar mandi. Aku kembali menarik napas. Entahlah kenapa setelah mas Tama menceritakan perihal guling yang sengaja tidak ibu siapkan dikamar kami membuat ku sedikit kesal, dan ini kembali lemari pun masih terselip kata ibu.
__ADS_1
Aku bukan cemburu pada ibunya tetapi ada rasa kesal didalam hati ku, karena dari dulu aku paling tidak suka ketika ada satu rahasia yang aku anggap tidak perlu orang lain tahu tetapi orang lain tahu apalagi diberi tahu.
Dan hari ini suami ku dengan polosnya mengatakan bahwa meminta ibunya untuk tidak menyiapkan guling dikamar kami. Sudah tentu ibu akan berpikir aku bukan wanita yang baik. Aku menarik napas dalam dan cepat mengganti baju khawatir pemilik kamar keluar dari kamar mandi dan aku bingung untuk berganti pakaian.
Aku sudah siap dengan mukena dan duduk diatas sajadah. Mas Tama keluar dari kamar mandi dengan santai nya membuka lemari dan memakai sarung serta baju Koko. Lalu mendekat dan kami melakukan ibadah shalat Shubuh berjamaah.
Usai shalat Shubuh berjamaah aku mengenakan jilbab ku dan ingin keluar kamar. Tiba-tiba mas Tama memeluk ku dari belakang.
"Mas mau dibuatkan teh ya Ran.... mas tunggu diteras"
Aku melepaskan pelukan mas Tama dan hanya ber dehem mengiyakan permintaan mas Tama dan keluar dari kamar. Masih bercokol rasa jengkel dan kecewa ku pada mas Tama.
Didapur tampak ibu sedang menyiapkan masakan untuk sarapan.
"Maaf buk kesiangan" suara ku pelan.
"Ndak apa-apa Ran. Tama sudah bangun?"
"Sudah Bu, lagi diteras. Minta dibuatkan teh"
"Ya... ya.... sekarang dia bisa bermanja-manja dengan kamu. Kalau dulu dia tidak kalah sama dengan Dwi walaupun sudah dewasa seperti itu. Kelihatannya saja diluar seperti mandiri dan beriwibawa. Tetapi lelaki memang harus begitu Ran.... karena memang ibu atau istrilah tempat nya berkeluh kesah dan menunjukkan sisi manja nya karena mungkin diluar sana mereka para lelaki khususnya suami begitu banyak menarik urat syaraf mereka di depan rekan kerja, atau pimpinan mereka atau tanggung jawab mereka" Ibu bercerita pada ku seraya memindahkan Oseng kangkung kedalam piring. Dan aku mendengarkan dengan seksama Namun tangan ku sibuk dengan aktifitas membuat teh untuk mas Tama.
"Iya, Waktu KKN kata teman-teman mu bilang menu favorit mu oseng kangkung dan sambal ikan nila. Jadi hari ini menu sarapannya khusus kesukaan mantu nya ibu"
Ah.... andai ibu tahu itu bukan menu favorit ku tetapi menu favorit mas Ardi. Saat KKN aku masih belajar melupakan mas Ardi.
"Terima kasih Bu, harusnya Rana yang masak buat ibu dan bapak" cicitku merasa malu karena di hari pertama malah mertua ku yang membuat sarapan.
"Masih ada hari-hari besok. Nanti sore kamu bisa masak makanan kesukaan suami mu Ran"
"Memangnya apa Bu makanan kesukaan mas Tama?"
"Tongseng ayam sama acar timun Ran. Itu kalau menu itu si Tama bisa sebentar-sebentar makan kalau dulu. Antarlah tehnya kedepan sekalian bilang sarapannya sudah siap takut nanti keburu siang keburu rame yang rewang datang" Aku mengiyakan dan berjalan dengan nampan yang berisi teh.
Sesampainya diteras mas Tama sedang ngobrol dengan bapak. Aku meletakkan gelas teh dihadapan mas Tama dan terlihat pak Narso menyeruput kopi nya.
"Ini tehnya mas. Oya ibu bilang kalau sarapannya sudah siap kalau bapak sama mas Tama mau sarapan".
"Dwi... itu sarapannya sudah siap dari tadi sibuk aja..." Mas Tama menyenggol Dwi yang asyik dengan game onlinenya.
__ADS_1
"Tanggung mas.... lagi farming ini..,"
"Dwi.... Makan dulu.... nanti lagi main handphone nya" Ibu kini telah hadir di antara kami.
"Bentar lagi bunda.... 5 menit lagi oke...." Terlihat ibu mengecup lembut puncak kepala Dwi.
"Oke kita sarapan bareng-bareng, 5 menit lagi ya."
Buk kades duduk disebelah ku.
"Mudah-mudahan kamu betah ya Ran disini. walau nanti kamu sama Tama kembali ke kota ibu harap kamu juga sering kemari".
"Insyaallah Bu" jawab ku singkat.
"Kamu tidak buat minuman buat kamu Ran?"
"Ga buk nanti langsung makan nasi saja. Rana jarang minum manis dipagi hari"
"Wah.... berarti ada kesamaan dong Ran sama ibu.... Ibu juga ga pernah minum manis setiap pagi. pantas ibu suka sekali sama kamu ada banyak kesamaan ya kan pak" mas Tama menanggapi.
"Ibu atau kamu yang suka....? Kamu tahu Ran ibu dan Tama ini akan terus membicarakan kamu kalau sepulang dari kota yang bapak suka jengkel lah wong yang dibicarakan saja tidak tahu sama mereka."
"Ih bapak.... ini anak sulung mu sendiri yang Ndak mau maju-maju. Ibu sudah kepingin punya mantu tapi kelainan mikir untung berjodoh sama Rana" Bantah ibu sambil memakan cemilan yang terdapat didalam toples.
"ya ya.... perempuan selalu benar dan lelaki selalu salah bahkan ketika para wanita marah dalam diamnya kita lelaki dituntut untuk menjadi paranormal. Bilangnya tidak ada masalah, tidak apa-apa tapi ternyata menyimpan amarah, menyimpan curiga. Kamu tahu Ran..... bapak cuma berpesan sama kamu dan Tama kalau ada masalah dibicarakan bukan disimpan seolah tidak terjadi apa-apa karena khawatir akan jadi bom ditengah pernikahan kalian" Entah kenapa seolah kini aku malah merasakan bapak sudah menjadi paranormal yang seakan tahu apa yang aku rasakan dan memberikan ku nasihat dimasalah pertama pernikahan kami.
Ya kurasa betul aku harus berbicar kepada mas Tama tentang rasa jengkel ku perihal guling yang diceritakan mas Tama pada ibunya.
Teringat pesan pak le Yatno ketika akan pulang ke Klitang pada ku dan mas Tama.
"Menikah itu tidak mungkin bisa bahagia jika kita tidak bisa menerima kekurangan pasangan kita itu dengan anugerah. Pasangan kita bukan malaikat maka pasti ada kekurangan pada dirinya dan jika kamu tidak menuntut pasangan mu untuk sempurna tapi kamu mengungkapkan kegundahan mu tentang kekurangan nya yang mengganggu hati mu maka itu lebih baik daripada memendam nya nduk. Saling melengkapi nduk."
Seketika pundak ku disentuh oleh ibu.
"Kamu melamun apa Ran... ayo bapak sama Tama sudah kedapur" ucap ibu lembut pada ku. aku tertegun sejenak.
"Ran, Tama bukan lah malaikat..... maaf jika Tama mungkin belum mengerti kau dan mungkin menyakiti kamu selama di seminggu terakhir"
Deg. Jantung ku kembali berdegu kencang. Aku coba menebak kemana arah pembicaraan ibu.
__ADS_1