
Aku berlari dan menarik mas Tama dan memeluk nya dari depan. Ku Tatap wajahnya terdapat kemarahan yang belum pernah kulihat di wajahnya selama kami menikah. Ini kali pertama mas Tama meninggikan suaranya, kali pertama tatapan matanya tajam dan kali pertama dia melakukan tindakan kasar kepada orang lain.
"Mas... sudah....jangan mas...." aku terisak sambil memeluk mas Tama. Aku tak terbiasa dengan suasana yang seperti ini apalagi sahabat dan suami ku.
Lilik pun sama dengan ku sibuk menenangkan suaminya.
"Kamu ga apa-apa yo...." Lilik yang terlihat memegang pipi Tyo merasa sedih karena terjadi hal tidak terduga.
"Lihat seorang lelaki yang kamu kagumi dan sering kamu banding-bandingkan dengan suami mu ini pun bisa berbuat kasar sama sahabat istrinya"
Tyo menatap tajam ke arah mas Tama. dan aku tak kalah kaget apa maksud perkataan Tyo. Mana mungkin Lilik punya perasaan lebih pada mas Tama. Aku tahu betul jika bersama Lilik atau di pesan WA Lilik hanya membahas Tyo. terlihat jelas bahwa Lilik sudah menyayangi dan mencintai Tyo.
"Apa maksud kamu Tyo..." Tanya ku dengan menatap Tyo.
"Kamu tahu Ran hati laki-laki bahkan suami mana yang akan senang dan tenang ketika istrinya selalu memuji suami orang lain dan membanding-bandingkan suaminya dengan suami perempuan lain walau pun laki-laki itu suami sahabatnya sendiri!" kali ini Tyo terlihat begitu kesal dan menatap mas Tama dan Lilik.
"Maaf Yo... aku rasa kamu harus duduk bersama Lilik dan membicarakan permasalahan kalian sehingga tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini. Dan maafkan aku, aku tidak bisa melihat perempuan disakiti siapa pun itu.... Kita terlahir dari rahim perempuan, kita dibesarkan dan dicintai oleh perempuan maka bayangkan jika ibu atau adik perempuan mu diperlakukan dengan kasar apa kamu menerima nya? Itu yang ku lakukan pada Lilik, tidak lebih" Mas Tama berjalan ke arah Tyo dan memegang pundak Tyo.
__ADS_1
"Duduklah dulu Yo... tenangkan dirimu, bicarakan lah dulu masalah kalian baik-baik baru kalau kalian mau pulang. Khawatir kalian makin bertengkar hebat dirumah... Aku dan mas Tama akan kedalam biar kalian lebih leluasa mengobrol" pinta ku pada Tyo. Selama kuliah aku tahu sifat Tyo yang mudah menerima masukan tapi sikapnya yang kasar pada Lilik itu yang tidak masuk akal seperti bukan Tyo yang kami kenal.
Terlihat Tyo duduk di sofa yang ia duduki tadi diikuti Lilik yang duduk disebelahnya. Aku dan mas Tama baru akan melangkah kedalam.
"Tunggu Ran, mas.... Aku minta kalian tetap disini"
Aku melihat mas Tama dan mas Tama mengangguk. kami duduk di sofa yang berada didepan Lilik dan Tyo.
"Kami akan jadi pendengar hari ini. Kami tidak akan memihak siapapun. Karena aku menganggap Lilik adalah adik ku karena Lilik sahabat Rana... terus terang Tyo aku keberatan dengan ucapan mu barusan kamu bawak-bawak aku di permasalahan kalian. Bisa kamu jelaskan?"
"Mas tahu hampir 6 bulan kami menikah, Lilik selalu saja membandingkan aku dengan suami-suami orang lain salah satunya mas Tama. Dan sebagai lelaki mas Tama tahu pasti apa yang aku rasakan. Belum lagi dia selalu saja memarahi ku didepan teman-teman ku seolah aku ini dihadapan teman-teman ku tidak ada wibawanya sebagai suami mas. Selama ini aku sudah mencoba kalau dibahas pasti ujung-ujungnya marah, ujung-ujungnya sewot terus saya suruh tidur diruang tamu....dan..."
"Stop... cukup... cukup... jangan ceritakan lebih banyak lagi masalah yang kamu rasakan nanti bisa kamu lanjutkan. Mas bisa ambil kesimpulan dari masalah kalian... Sebenarnya menceritakan masalah rumah tangga kita atau kekurangan pasangan kita pada orang lain adalah aib. Tapi mengingat kondisi kalian seperti ini mas akan coba menjadi pendengar, sekarang kamu Lik bagaimana kamu merasa benar atau tidak yang dikatakan oleh Tyo...?" Tanya mas Tama pada Lilik.
"Aku bukan membandingkan mas. Aku hanya bercerita setidaknya dia cukup peka. bayangin mas aku resign dan jadi ibu rumah tangga tapi setiap libur dia cuma sibuk sama game nya, teman-temannya, channel youtubenya. Belum lagi dirumah aku ngerjain apa-apa sendiri. Terus nanti kalau aku beli barang online itu nanti pas awal bulan mau bayar dia sewot. Dulu bilangnya sanggup menanggung biaya hidup aku, sekarang perkara skincare, perkara baju tidur atau baju buat ke pesta saja dia selalu marah mas"
"Aku dirumah tuh berasa kayak pembantu dan batu, Dia pulang cuma inget makan sama tidur aja mas sama aku"
__ADS_1
"Bukan begitu aku sering keluar justru menghindari pertengkaran kita Lik...." bantah Tyo
"Ingat mas istri bisa tidak waras kalau tidak ada suami yang bisa jadi tempat dia berkeluh kesah. Bayangin 6 bulan aku ga pernah cerita masalah kita ke bunda dan bahkan Rana pun tak tahu permasalahan kita. Tapi hari ini aku sudah ga kuat mas, aku kasihan janin aku. Aku harusnya dalam keadaan baik-baik saja tapi kamu bisa tidak menyakiti hati teman-teman kamu tapi nyakitin istri mu sendiri kamu anggap Biasa..." Kini Lilik kembali menumpahkan air matanya dan kembali terisak. Aku berpindah tempat duduk ke sebelah Lilik dan dia memeluk ku Erat.
"Lilik tidak pernah berkeluh kesah tentang kamu Dan rumah tangga kalian pada ku Yo...." aku pun ikut meneteskan air mata sambil menatap Tyo.
"Sekarang coba ceritakan pada Lilik sekarang apa yang kamu tidak suka dari sikap istrimu, dan yang membuat mu betah dirumah? pasangan kita itu tidak sempurna Yo... Bahkan aku yang kata Lilik sempurna ini ada banyak kekurangan dan tentu cuma istri ku yang tahu. Namun kami selalu berkomunikasi jadi tidak melebar kemana-mana dan tidak berlarut-larut. Tuntaskan hari ini kasihan Lilik dia sedang mengandung anak kalian. Kalian harusnya bersyukur, aku dan Rana yang lebih dulu menikah belum dapat kesempatan itu"
Mas Tama menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya.
"Mas Tama kita sama-sama laki-laki, bayangin ketika kita bekerja di luaran sana, mas tahu sendiri pekerjaan ku banyak dilapangan sebagai kepala Supervisor di Bank itu yang kita lihat di tempat kerja mas cewek-cewek cantik, seksi eh pas pulang minta hak kita sebagai suami alasannya selalu saja capek atau apa lah... jadi aku sibukkan dengan kegiatan agar tidak fokus pada nafkah batin yang kurang dari istriku"
"Uhuk.... uhuk....." Tampak mas Tama tersedak mendengar penjelasan dari Tyo
______________________
Jangan harap dari judulnya bisa isinya ada yang hareudang-hareudang ya pemirsa... ingat ini bulan ramadhan....
__ADS_1