
Aku begitu semangat hari ini masuk kedalam ruangan hari ini karena mengingat ini adalah hari pertama aku memulai kuliah usai menjalani KKN selama satu bulan. Dan yang paling aku tunggu adalah bertemu dengan sahabat-sahabat ku yang selalu membuat aku bersemangat setiap hari nya.
“Ranaaaaa.....” Suara nyaring Lilik yang berteriak sembari berlari ke arah ku dan memeluk erat tubuh ku.
“Kamu tambah cantik aja Ran” sapa Tyo dan diikuti kak Fhey yang berjalan di belakang Tyo.
Belum lagi ku beri komentar tiba-tiba beberapa mahasiswa berlarian memasuki ruangan dan muncul seorang dosen mata Kuliah Digital Educational Content Creator in Practice yang terlihat begitu dingin. Kelas berlangsung kurang lebih satu jam setengah lalu dosen tersebut mengakhiri mata kuliah kami dengan memberikan tugas. Dan pergi meninggalkan kelas.
“Ah..... Baru juga masuk kuliah sudah disuguhi tugas. Sungguh membosankan.” Keluh Tyo yang memang dari pertama kenal anak ini selalu malas-malasan mengerjakan tugas nya sebagai mahasiswa.
“Kan masih lama juga masih ada waktu satu Minggu, sekarang kita melepas rindu dulu lah... Aku kangen soto Ceker mang Encep.”
“Hayo lah... tadi belum sempat makan siang” ucap kak Fhey yang langsung berjalan meninggalkan kelas.
“Kamu Rud?” tanya ku pada Rudi.
“Hayo lah tapi kak Fhey yang traktir ya kak? Maklum kak uang saku menipis” pinta Rudi dengan wajah memelas.
“Beres.... Yang penting bantu aku mengerjakan tugas tadi hahahaa” kak Fhey menoleh ke arah Rudi dan Rudi pun mengangkat jarinya menunjukan tanda Ok
Suasana di warung soto Mang Encep ini selalu rame. Bahkan akan tutup kadang sebelum magrib padahal bukanya baru jam 12 siang. Maklum harga soto ceker dan seporsi nasi mang Encep terhitung murah di kantong mahasiswa seperti ku. Bayangkan kami bisa makan semangkuk soto ceker dan saru piring nasi dan satu buah kerupuk dengan Rp. 10.000 saja. Dan itu pun kalau sudah langganan seperti kami alias mang Encep hapal muka kami maka boleh tambah nasi jika terasa belum kenyang.
“Waduh... Yang pulang KKN kok tambah kurus semua ya?” tanya mang Encep menyambut kami yang baru masuk warungnya.
“Ah si mamang bisa saja, jelas kurus mang. Bayangin ga di posko kami itu orangnya 12 mang makan nya ga boleh nambah mang. Jadi kalau makan. Lauknya, nasi nya sudah tertata dengan rapi di meja. Jadi beginilah jadinya” keluh Tyo lagi
“Dari tadi perasaan yang pulang KKN Cuma ngelu Cuma kamu. Dasar yang dipikirin Cuma makanan, aman nyaman. Namanya juga KKN jadi harus merasakan hal yang beda” protes Lilik yang mulai jengah mendengar Tyo sedari kelas tadi selalu mengeluh.
__ADS_1
“Udah baru juga berapa jam ketemu udah berantem aja ntar kita antar ke penghulu ni” goda Rudi pada Tyo dan Lilik.
“Udah-udah. Keburu dingin ini soto... Hemmm.... Baunya Mang bikin Perut ku Berbunyi ria”
Kami menikmati soto mang Encep dengan tidak meninggalkan sedikit pun sisa dimangkoknya bahkan di mangkuk kak Fhey dan Rudi ceker ayam nya pun menjadi temukan tulang.
“Kalian Lapar, atau doyan? Kasihan sekali kucing yang menanti sisa makan kalian” ucapku sambil memperhatikan mangkok soto kak Fhey dan Rudi.
“Justru dengan begini kami membantu mahkluk kesayangan Baginda Nabi kita Muhammad Saw bisa langsung mencernanya tanpa mengunyahnya. Hahahaha” Rudi menjawab komentar ku dengan tertawa.
“Kita bendungan dulu yok sebentar sebelum pulang” kata ku tanpa meminta persetujuan mereka aku berjalan ke arah bendungan yang tidak jauh dari warung soto mang Encep.
“Wah lagi kering bendungan nya, ga bisa menikmati silir angin dari air terjun bendungannya nih” komentar Lilik yang melihat mendingan itu tidak ada air yang mengalir dan terlihat bebatuan yang besar di bawah sana.
“Ga apa2 minimal kita bisa mencium aroma rokok kak Fhey” Rudi melirik kak Fhey yang asyik dengan rokoknya.
“Iya baru, belajar dari KKN” jawab kak Fhey singkat. Rokok kak Fhey terlihat seperti korek api dan terlihat tidak ada api nya. Entahlah tapi baunya seperti aroma terapi. Biasanya asap rokok kak Fhey yang kretek akan membuat kami sedikit menjaga jarak dengan dirinya ketika dia asyik bersama rokoknya.
“Kamu berhutang penjelasan pada kami Na. Tentang kisah kamu katanya tertangkap warga dan dituduh mesum dengan anak pak kades itu hayo sekarang ceritakan masih ada waktu satu setengah jam sebelum kita pulang” Tagih Lilik padaku atas kejadian tempo KKN dulu dimana aku dan mas Tama dituduh melakukan zina setelah mengadakan acara perpisahan dengan anak-anak karang taruna.
“Oke, jadi begini. Malam itu aku dan mas Tama pulang dari acara perpisahan dengan karang taruna dan pulangnya kehujanan terus kami mampir diteras rumah kosong. Terus mati lampu, dan hujan ga reda-reda....” belum selesai aku menceritakan kisah itu tiba-tiba Lilik menggodaku
“Mas Tama? Cie.... Jadi namanya Mas Tama? Ganteng mana sama si kunyuk Ardi?” goda Lilik dan tanya nya padaku
“Lilik..... Kamu mau aku cerita atau...” aku melotot kearahnya.
“Hehe... Oke oke silahkan lanjutkan mbak Kirana ceritanya itu si Tyo juga bibirnya bisa jatuh kalau kelamaan ga dilanjutkan ceritanya” Jawab Lilik seraya melirik kearah Tyo yang melotot, aku paham Tyo kurang suka Lilik kembali menyebut nama mas Ardi.
__ADS_1
“Terus aku ketiduran, mas Tama juga ketiduran tapi posisi di teras dan duduk. Aku yang tertidur dikursi kayu. Nah pagi nya udah rame bapak-bapak yang menurut pak kades memang mencari moment untuk menjatuhkan figur pak kades dan keluarga terkait sudah dekatnya pildes dan pak kades memang akan kembali maju menjadi kandidat. Maka situasi itu dimanfaatkan mereka yang main politik kotor.
“Tapi alhamdulilah, masalah selesai dengan damai aman. Karena pak kades bijaksana dan warga yang pro pak kades pun tidak mudah percaya sehingga aku melakukan pemeriksaan”
“Tapi kabarnya di posko kami itu anak Kades betul-betul suka kamu Ran” Rudi mengatakan hal ini seraya membuka handphone nya.
“Ah itu Cuma gosip.... Hoaks” tutup ku pada sahabat-sahabat ku. Aku belum ingin membahas mas Tama pada mereka. Seperti pendirian awal ku. Aku ingin fokus menyelesaikan skripsi ku. Dan punya target akhir tahun ini aku wisuda.
“iku anak e Pak Kades pemuda baik betul, klo bapak di posisi Den Tama ya Ndak usah membela diri. Bilang saja sudah betul-betul berzinah trus nikah deh sama tuh Mbak Rana” Suara laki-laki
“ih bapak ma, Ndak sopan tahu pak. Nanti ada yang dengar.” Suara perempuan
“ibu ga tahu si, itu sih den Tama kalau kekota pasti lama itu berhenti difotokopian sama di perempatan Lampu Merah yang arah ke Bandara. Itu yang diperhatiin mbak Rana buk... Apalagi buk kades. Itu bisa sampai kegiatan mbak Rana di lampu merah itu selesai baru mau pergi dari sana.” Suara laki-laki
“ah masa sih pak? Lah emangnya mbak Rana ngapain sering di lampu merah pak.?” Suara perempuan
“Kalau beberapa kali bapak nganter si Ibu itu mbak Rana bagi-bagi nasi bungkus, sama tukang becak, tukang ojek,” suara laki-laki
“Memangnya si perempuan siapa itu teh namanya pak?” suara Perempuan
“mbak Rana”
“Iya memangnya teh dia ga tahu diperhatikan sama ibu dan den Tama?” suara perempuan
“ya enggak atuh.... Lah wong den Tama dan ibu itu kayak polisi lagi ngintip penjahat kalau lihat mbak Rana. Wong ibu itu sempat pernah bilang. Kalau den Tama ga maju-maju sampai akhir tahun ini ibu sendiri yang bakal maju gitu ngomongnya teh sama bapak” laki-laki
“Kak Fhey......” aku melotot kearah kak Fhey dan menyilang kan tanganku di dada. Aku butuh penjelasan dari dirinya darimana dia dapat rekaman pembicaraan itu dan siapa mereka bisa tahu sedetil itu.
__ADS_1
“Belum selesai, bentar lagi nih Bom nya bikin keder”