
"Mas... Rana gak salah dengar kan?"
Tanya ku dengan lembut dan menatap mas Tama.
"Hem, kamu tidak salah dengar dan salah mengerti juga mas tidak salah bicara. Mas tidak mengijinkan jika Mak e tinggal bersama kita tetapi mas tidak keberatan kalau kamu ingin merawat Mak e.... "
"Biar mas dan mbak Imah yang rawat Mak e Ran"
Tiba-tiba mas Hardi muncul dari balik pintu membawa sebuah tas ditangannya.
"Mas Hardi..."
Aku dan mas Tama mengucapkan kata itu bersamaan.
Mas Tama bangkit dan berjalan ke arah mas Hardi dan mengajak mas Haris keluar untuk berbicara berdua. Aku ingin ikut keluar namun mas Tama meminta ku menunggu Mak e. Mas Tama beralasan ingin berbicara sama mas Hardi sebagai sama-sama lelaki. Maka aku pun tidak mungkin memaksa walau aku sangat ingin mendengar penjelasan mas Tama.
Kenapa dia tidak mengijinkan mak e ikut dengan kami. Bukankah dulu dia berbicara dan berjanji jika aku boleh merawat Mak e. Bagaimana mungkin aku bisa merawat Mak e jika tidak tinggal bersama. Aku hanya bisa menangis disaat sendiri diruangan Mak e.
Aku curiga apakah karena program untuk hamil tahun ini sehingga mas Tama tidak mengizinkan Mak e tingg bersama kami. Bagaimana aku bisa merawat Mak e jika tidak serumah. Dan tadi mas Hardi seperti nya mendengar pembicaraan kami sehingga bisa langsung memberikan komentar seperti itu. Tentu mas Hardi tidak ingin ada nya masalah antara aku dan mas Tama.
Beberapa menit berlalu mas Tama dan mas Hardi masuk keruang Mak e. Dan aku bertanya tentang apa yang mereka bicarakan. Dan mas Hardi membuka obrolan terlebih dahulu.
"Mas Rasa kita jangan bahas masalah Mak e akan tinggal dimana dulu Ran. Tunggu sampai dokter mengizinkan Mak e untuk pulang baru kita tanyakan pada Mak e mau ikut siapa. Dan sekarang kita fokus ke Mak e terlebih dahulu"
Aku hanya diam mendengar penjelasan mas Hardi. Aku mencoba menahan rasa penasaran ku atas jawaban mas Tama terkait tidak mengizinkan Mak e tinggal bersama kami tetapi aku tidak ingin membahas ini di hadapan mas Hardi.
Mas Tama izin untuk bertemu rekan kerja nya karen barusan ditelpon dan aku masih ingin disini mengenai mas Hardi menunggu Mak e.
"Kamu jangan terlalu memaksa kehendak mu Ran. Harus ikut apa kata suami. Kalau suami mu bilang A dan itu tidak bertentangan dengan syariat maka taati suami mu"
Mas Hardi memberikan wejangan kepada ku masih menggenggam tangan Mak e.
"Pada zaman nabi dahulu pernah ada kisah tentang seorang istri dan suami kalau tidak salah ustad Abdul pernah membahas kisah ini di pengajian Ahad Wage."
Mas Tama kini berjalan kearah sofa dan duduk disebelah ku.
"Tumben mas menggunakan perkataan ustad Abdul?"
Tanya ku penasaran.
"Kalau belajar itu jangan lihat orang nya atau oknumnya. tapi lihat yang disampaikan. Kamu tahu persis ustad Abdul itu mumpuni untuk keilmuan nya. Hanya saja mungkin wataknya yang keras dan mungkin Gurunya beliau juga keras dulu hingga ustad Abdul itu lebih mengedepan kan logika, kepandaian nya daripada adab nya. Mamas ambil sifat positif nya saja, ketika ilmu yang bermanfaat kenapa kita harus menolak jika yang disampaikan betul dan benar bisa dijadikan pembelajaran."
Mas Hardi meminum wedang jahe ku yang tidak lagi panas.
__ADS_1
"Terkait kisah yang mas katakan tadi. Pada zaman nabi terdapat seorang istri yang ketika ditinggal suami nya yang berpesan untuk tidak boleh keluar rumah. Maka sang istri yang Sholeha ini mentaati Sampai tiba suatu waktu ada yang memberi kabar bahwa ayah sang istri sedang sakit keras. Padahal sang ayah tinggal di rumah bawah sedang sang anak berada dirumah lantai 2.
Namun sang istri meminta orang tadi bertanya pad Rasulullah dan jawaban Rasulullah adalah sang istri tidak boleh turun untuk menjenguk atau merawat ayahnya. Karena pesan yang telah diamanatkan oleh suami sebelum pergi kepada istri. Hingga akhirnya sang ayah meninggal, lalu Rasulullah mengutus seseorang dan menyampaikan kepada sang istri tadi bahwa orang tuanya dosa-dosanya telah diampuni karena memiliki anak perempuan yang taat pada suami nya"
Mas Hardi berjalan ke arah ranjang Mak e dan duduk disebelah Mak e. Mengecup kening Mak e.
"Mas anak lelaki yang lebih harus bertanggung jawab pada Mak e Ran. Kami taatilah suami mu. Dan mas mohon jangan kamu bahas dengan Tama masalah merawat ibu Sampai suami mu sendiri yang membahas nya. Seorang istri harus mampu menjadi litaskunu ilaiha bagi suami nya. Yang berarti memberikan kenyamanan kepada suami nya"
Aku mendengar kan nasihat mas Hardi. Tidak berani bertanya, tidak berani komentar. Karena dari wajahnya ada keseriusan dengan nasehatnya. Beliau adalah sosok bapak yang aku temui sedari kelas 5 SD. Ibu pun apa-apa ketika aku ingin sesuatu selalu harus tunggu dan bertanya apa pendapat mas Hardi.
"Tapi mas, mbak Imah sudah merawat ibunya"
"Tidak apa-apa mas sudah menelpon kemarin menanyakan kalau Mak e ingin ikut kami. Dan Imah setuju. Toh Hilman sebentar lagi mas antar ke Jawa untuk mondok. Rohman juga akan mas pondokan di pondok pak Nurzaini didesa sebelah jadi mas dan mbak Imah bisa fokus ke Mak e dan mamak di rumah. Yang jelas keputusan ada ditangan Mak e Ran."
Aku menarik napas dalam. kulihat jam sudah menunjukan pukul hampir jam 5 sore. Dan mas Hardi telah shalat ashar ketika akan kemari. Sehingga aku memutuskan ke mushola yang berada di depan rumah sakit ini. Aku berjalan sedikit cepat karena sudah terlambat sekali shalat ashar ku ini.
Ketika sampai di mushola terlihat seorang wanita berjilbab dan mengenakan jas putih seperti seorang dokter sedang bertengkar hebat dengan seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan mengena kan setelan jas berwarna hitam. Terlihat sang lelaki menarik tangan wanita itu cukup kuat.
"Lepasin.... atau aku teriak!" suara wanita itu sedikit keras.
Aku berjalan dan mendorong pria itu dengan keras dan berdiri dihadapan wanita berjas putih itu.
"Kurang ajar, siapa anda ikut campur urusan saya!" Lelaki itu maju dan menatap tajam kearah ku.
"Silahkan.... teriak yang kencang...."
"Tolong..... tolong.....tolong...." Aku pun bertrriak dengan kencang dan terlihat beberapa bapak-bapak dari arah dalam mushola dan tempat wudhu berlari ke arah kami.
"Ada apa mbak...." tanya salah satu dari mereka.
"Lelaki ini berbuat kasar pada kami" jawab ku menatap tajam pria berjas hitam itu.
"Semua salah paham pak, saya hanya berbicara pada tunangan saya dan wanita ini menghalangi saya" ucap lelaki itu sedikit cemas karena wajah bapak-bapak itu cukup cemas karena teriakan ku barusan.
"Saya sudah bilang saya tidak pernah mau menjalin hubungan dengan kamu. Dan kita belum tunangan. Tolong lah Dim.... aku betul-betul tidak sedang dan ingin menjalin hubungan dengan siapapun. please..."
Wanita dibelakang ku bersuara dan aku cukup familiar dengan suara wanita ini. Walau suaranya cukup besar namun terdengar sangat lembut.
"Anda dengar? Cara anda memaksa dia tadi sangat tidak manusiawi... Anda memaksa DNA menyakiti nya tuan"
Jawab ku. Dan lelaki itu seperti nya cukup takut karena beberapa orang makin bertambah ke arah kami.
"Baiklah Ra... aku akan menemui kamu lagi. Aku harap kita bisa membicarakan Masalah ini."
__ADS_1
Ketika lelaki itu berbalik dan berjalan beberapa langkah wanita dibelakang ku kembali bersuara.
"Semua masih sama Dim. Aku tidak akan menikah lagi dengan siapapun termasuk kamu. Tidak ada yang perlu dibahas. Tolong jangan temui aku lagi atau aku akan berhenti dari rumah sakit ini"
Lelaki itu berhenti sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Beberapa orang telah bubar dan meninggalkan kami berdua di sebelah mushola.
"Terima kasih mbak,..."
Perempuan berjas putih itu menatap ku dan mengerutkan keningnya.
"Kita seperti nya pernah bertemu ya..." lanjutnya.
"Iya saya sepertinya mengenal suara mbak. Tapi dimana ya?" tanya ku yang juga menautkan alis ku.
"Aku ingat, kita bertemu dan mengobrol di spa mbak." jawab wanita itu cepat.
"Tiara... iya mbak Tiara?" tebak ku pada nya.
"Betul, mbak... kalau tidak salah mbak Kirana ya?"
Aku mengangguk kan kepala. dan kami berbincang sesaat lalu cepat ke tempat wudhu karena niat kami yang ternyata mau shalat ashar sedikit tertunda karena ada kejadian tadi.
Setelah shalat ashar Tiara mengajak ku untuk makan di kantin rumah sakit sekedar ucapan terima kasih katanya. Dan aku pun merasa lapar juga mengiyakan sekaligus ingin membelikan mas Hardi sesuatu untuk makan malam.
Kami cukup lama mengobrol di kantin dan saling bertukar nomor handphone karena ketika mbak Tiara tahu Mak e kena stroke dan otomatis butuh kontrol selanjutnya Dan Tiara berinisiatif untuk mendaftarkan terlebih dahulu ketika aku Kana kontrol Mak e sehingga tidak antri.
"Oke, udah aku save... Jangan panggil mbak. Panggil Tiara aja ya Ran biar lebih akrab"
Pintanya kepada ku setelah aku berterimakasih atas niat baiknya.
Tiba-riba ponsel ku berbunyi ternyata mas Tama sudah ada di ruangan Mak e dan bilang Mak e seperti nya mencari ku.
"Siapa Ran?"
Tanya Tiara pada ku setelah aku menutup telpon dari mas Tama.
"Suami, sudah ada di ruangan Mak e. Mak e sudah sadar dan sepertinya mencari ku"
"Ya sudah ayo kita ke dalam tapi aku belum bisa membesuk ibu mu ya Ran. Ini sudah ada pasien yang menunggu kasihan karena hampir magrib juga"
Aku berpisah setelah berada di dalam. Ternyata Tiara adalah dokter spesialis anak yang sudah 2 tahun bekerja di rumah sakit ini.
"Ran... Kita bisa bersahabat kan? terus terang aku begitu nyaman beberapa kali mengobrol dengan mu" pintanya padaku sebelum dia masuk kedalam lift.
__ADS_1
"Ah dokter Tiara... saya yang sangat beruntung bisa punya teman apalagi dokter yang cantik juga pintar bahkan aku bisa belajar banyak tentang agama dan bagian wanita yang tidak banyak aku mengerti karena aku bukan lulusan Pesantren"