
"Assalamualaikum" ucap ku ketika sudah berada diambang pintu rumah Bu Kades.
"Walaikumsalam, masuk Ran. sini-sini duduk disini" buk kades menyambutku dengan senyum dan memintaku duduk disebelahnya.
"Iya buk terima kasih." aku langsung duduk disebelah buk kades.
Kulihat mas Tama ke arah ruang tengah yang terhalang oleh sebuah lemari kaca yang terdapat beberapa koleksi keramik seperti gelas, piring dan guci.
"Ran ibu mau bicara soal kemarin. yang kemarin itu ibu serius Lo Ran." buk kades berkata seraya menatap wajah ku penuh harap.
"Emh... aduh gimana ya buk, saya belum kepikiran ke arah sana. saya masih harus fokus ke kuliah buk. sebentar lagi sudah sibuk kuliah. saya juga pengennya tahun depan udah wisudah" jelas ku dengan sopan khawatir melukai perasaan buk kades yang begitu baik selama kami disini.
Bahkan untuk PLN dan air pun yang kami selipkan di amplop untuk buk kades di akhir sesi perpisahan siang tadi ditolak oleh pak kades dan buk kades
"Tapi kamu ga ada calon kan Ran?" selidik buk kades pada ku.
"Ya ga ada lah buk. saya betul-betul ingin fokus ke kuliah saya buk. saya kasihan Mak saya kalau sampai harus nambah semester tahun depan Bu. maklum saya cuma anak buruh petani karet juga Bu. ga mau ngerepoti dan mengecewakan mamak ku di kampung" jelas ku panjang lebar kepada buk kades terkait kondisi keluarga ku
"Berarti ibu bisa bahas ini setelah kamu wisuda ya Ran? tanya buk kades lagi padaku
Baru saja aku akan menjawab tiba-tiba pak kades dari arah ruang tengah muncul dan langsung duduk di kursi yang satunya sambil menatap gadjetnya.
"Ibu gimana toh buk. kok maksa, lah wong Tama nya sudah ngobrol langsung belum sama mbak Rana nya. jangan terkesan dijodohkan buk. lah masa cuma bisa curi-curi pandang saja. kalau bapak dulu Ndak mau itu kelamaan mikir. mending ditolak ya mbak Rana daripada penasaran Ndak maju2 hahaha... uhuk ujuk ujuk....." timpal pak kades diakhir batuk karena tengah mengisap rokoknya yang tinggal sedikit dan bermaksud menyindir mas Tama yang aku yakin berada dibalik Lemari kaca sambil menonton televisi.
Buk kades pun tertawa aku hanya bisa tertunduk malu, karena sosok pak kades yang sangat berwibawa selalu membuat ku sungkan untuk menatap atau berbicara sesuatu yang tidak penting. berbeda dengan buk kades yang begitu ramah, dan enak diajak ngobrol. jiwa ke ibua. nya begitu kental.
"Tama, kemari nak" panggil buk kades
"Iya Bu, " suara mas Tama dibalik sekat ruang tamu dan tengah yang hanya terbatas oleh sebuah lemari
Mas Tama duduk disebelah pak kades.
__ADS_1
"Begini saja mbak Rana biar mbak Rana ga bingung dan anak sulung saya ini ga menyesal suatu saat nanti. bapak ingin kalian ngobrol dulu. khawatir kalau tunggu besok-besok keburu mbak Rana kenal sama laki-laki lain terus anak saya patah hati sebelum bertunas, jadi bapak harap malam ini kalian ngobrol dulu lah. dan kamu Tama malam ini juga buktikan dong kalau kamu itu anak bapak. ga ada salah nya jujur dengan perasaan mu. seperti yang bapak katakan siang tadi." jelas pak kades panjang lebar pada ku dan mas Tama.
"Bunda..... katanya mau makan pecel lele Jogja. ini keburu ngantuk Bunda. Pr nya udah selesai."
tiba-tiba Dwi muncul dari kamar nya.
"Iya sebentar ya Dwi kan Bunda sama bapak lagi ngobrol sama mbak Rana" jawab buk kades lembut sambil membelai rambut Dwi.
Buk kades begitu keibuan dan Dwi Sasongko yang berusia 8 tahun sangat manja dengan buk kades. seperti yang ku ketahui buk kades dan pak kades cukup lama menanti kehadiran Dwi kurang lebih ketika mas Tama tamat SMA Dwi baru lahir .
"Begini saja gimana kalau kita ajak mbak Rana makan pecel lele, nah disana kalian berdua bisa bicara dari hati-kehati biar kita pesan 2 meja. setuju?"
"Setuju" ucap buk kades, Dwi dan Mas Tama berbarengan dan aku hanya diam bingung mau berkata apa. mau menolak bagaimana tapi ga ditolak jelas nanti aku salting ngobrol dengan mas Tama.
"Oke 4 banding satu. kita ikut suara terbanyak. dan rezeki ga boleh di tolak loh mbak Rana.pamali" ucap buk kades meyakinkan ku.
"Baik Bu, saya pamit dulu sama teman-teman posko"
"Ndak usah nanti biar bapak telpon Baskoro sekalian pulangnya nanti kita beliin buat teman satu posko mu Ran. kalau kamu pulang keposko dulu dijamin muka mu akan tambah merah di olok-olok teman mu." cegah pak kades yang langsung berjalan kedalam ruang tengah.
"Tinggal lah aku berdua dengan mas Tama, ayo kita tunggu di luar Ran"
Aku masih terlihat kikuk dan hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
Tidak lama pak kades sudah muncul di halaman dengan mobil Innova nya. lalu mas Tama naik kedalam mobil dan duduk disebelah pak kades sedang kan aku dan buk kades duduk di kursi belakang kemudi.
"Pintu sudah dikunci Bu?" tanya pak kades seraya menghidupkan mesin mobil kembali
"sudah pak, ayah Dompetnya sudah bawa? ibu ga bawa dompet ini"
"Bawak Bu, bapak lebih gelisah kalau ga bawa dompet daripada ga Bawak hp" jawab pak kades sambil tersenyum ke arah buk kades lewat kaca spion.
__ADS_1
"kalau dompet sama ibu gimana pak?" tanya Mas Tama pada pak kades
"ya tergantung"
"tergantung apa nya yah?" tanya buk kades penasaran
"tergantung mau kemana dulu. kalau kepasar atau kekota ya bapak pilih dompet, kalau kondangan ya pilih ibu karena kalau ibu ga ikut bisa habis isi dompet sama biduan nya hahaha....." jawab pak kades yang sambil mengendari mobil dengan kecepatan sedang
ternyata dibalik sosok yang berwibawa, bijaksana dan agak seram mukanya, pak kades ternyata humoris dan hangat dalam keluarga nya.
"huh ayah, ayah aja udah ibu bilang kalau udah kondangan gitu siapin uang Liam ribuan jadi bisa kasih biduannya. kantong ga kempes. gengsi kadesnya ga turun hehe..." jawab ibu sambil menatap kedepan
"ya ibu, biduan itu kan juga pekerjaan. kadang biduan itu ada yang janda dan menghidupi anak-anaknya Bu. hitung-hitung berbagi rezeki buk. ga boleh memvonis orang loh buk. belum tentu kita ini derajatnya lebih mulia Dimata Allah dibanding biduan-biduan itu."
"ga memvonis yah, kadang suka risih saja sama biduan yang bajunya kelewat kebuka dan goyangnya kelewat vulgar"
"coba ibu ingat-ingat semenjak bapak jadi kades biduan nya sekarang ya rata-rata masuk desa kita apa masih ada yang suka tarik-tarik suami orang sekedar buat minta saweran Bu?"
"iya yah, ibu tahu semua sudah jauh berubah. tapi kan kadang ibu kalau lagi kondangan pas ayah nyawer itu biduan walau ga joget atau nyanyi sama mereka itu ibu2ibu yang persis buk Tejo pasti jadi kompor bleduk nya ibu"
"kok malah bahas biduan sih buk, pak" kata Tama singkat.
"eh iya ya.... ini bapak sih dari kata tergantung"
"iya nanti juga tergantung dari belahan hati mu dapat menantu Mbak Rana atau ga buk. tergantung Kekasih hati mu yang selalu apa-apa dipendam" jawab pak kades yang melirik mas Tama yang sibuk dengan gadjetnya.
"berarti mas Tama akan nikah sama mbak Rana ya? duh senangnya kalau mbak Rana menikah sama mas Tama, Dwi jadi ga jauh-jauh les bahasa Inggrisnya"
"hus... anak kecil ga boleh ikut nyambung obrolan orang tua saru(tidak sopan)" mas Tama menatap ke arah Dwi yang sambil senyum mengejek.
tak terasa kami sudah sampai di warung makan pecel lele Jogja yang tempat makan nya lesehan.
__ADS_1
❤️❤️❤️bantu like dan komentar ya author lagi berjuang ini menyelesaikan novel ini❤️❤️❤️❤️
"