Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 31 JODOH TERBAIK


__ADS_3

Suana dirumah ku dari 2 hari yang lalu sampai dengan hari ini begitu riuh, beberapa sanak saudara dari pihak Mak e dan bapak ku sedang mempersiapkan untuk acara lamaran. Ya tepat seminggu yang lalu aku memberikan jawaban pada Mas Tama dan keputusan ku menerima mas Tama untuk menjadi Suami ku. Dan kesepakatan dibuat bahwa segera melakukan proses lamaran mengingat beberapa hari lagi aku akan kembali ke kota karena waktu libur sekolah hampir usai.


Saat ini aku sedang duduk didepan meja rias yang berukiran adat Jawa berwarna putih dan sedari tadi tetangga ku sibuk dengan berbagai alat kosmetiknya yang dipoles di wajah ku.


Mak e dan beberapa saudara memaksa untuk aku menyambut kehadiran mas Tama dan keluarga dengan mengenakan kebaya serta sedikit riasan di proses lamaran ini.


Aku tidak bisa menolak karena kalau sudah satu suara para tetua di keluarga ku aku memilih mengikuti selagi itu tidak melenceng dari Agama.


Aku kembali mengingat kejadian seminggu yang lalu dimana aku menghubungi mas Tama melalu pesan dan dia menelpon untuk mendengar langsung jawaban ku.


Flashback On


Send Message


“Assalamualaikum, Apa kabar mas?”


“Walaikumsalam. Alhamdulillah baik Ran. Kamu dan keluarga apa kabar?”


“Alhamdulilah baik mas, maaf mengganggu aku ingin memberikan jawaban atas kedatangan mas Tama beberapa hari yang lalu”


Drrrrt......drrrrttt...... Handphone ku yang dalam mode getar bergerak dan di layar menunjukan panggilan dari Mas Tama.


Mas Tama : “Assalamualaikum”

__ADS_1


Aku :”Walaikumsalam mas”


“...........” persekian detik seperti kami saling menunggu siapa yang ingin memulai berbicara.


“Ehem.... Katakan saja Ran aku sudah siap mendengarkan apapun hasil keputusan mu”


“Sebelumnya saya mohon maaf apabila sewaktu dulu masih ada rasa kecewa mas Tama terhadap keputusan Saya yang menolak lamaran mas Tama”


“Iya saya sudah memaafkan dan tidak ada lagi rasa kecewa mungkin semua memang sudah ditakdirkan oleh Allah termasuk dengan jawaban mu hari ini juga bagian dari suratan takdir tentang perjalanan hidup saya”.


“Dengan Bismillah...... Saya Mau mas Tama datang kemari dan melamar saya secara resmi mas” hhhh ada rasa plong ketika kata-kata ini terlontar dari bibirku.


“Alhamdulilah.....Ya Rabb... Terima kasih Ran. Saya akan kasih kabar sama ibu dan bapak. Kira-kira kapan kami bisa kesana Ran?”


“Kalau itu Rana sudah berbicara sama Mak e dan mas Hardi kalau tidak keberatan dalam minggu-minggu ini bisa mas? soalnya waktu libur sekolah tinggal 9 hari lagi"


"Aamiin"


"Em...... untuk proses lamarannya apakah harus cincin atau boleh kuberikan tanda yang lain Ran?"


"Kalau itu Rana terserah mas Tama yang penting jangan sampai memberatkan mas Tama dan terlihat pantas atau umumnya dimasyarakat mas"


"Baiklah nanti aku bisa ngobrol lagi dengan mas Hardi. Tolong kirim kan nomor handphone mas Hardi ya Ran, Aku akan menepati janji ku Ran"

__ADS_1


"Janji yang mana mas?"


"Aku akan menunggu kamu Sampai kamu siap untuk menjalankan ibadah yang menjadi hak bagi seorang suami dan insyaallah aku ikhlas dan mudah-mudahan aku bisa sabar menjalani nya"


"Terima kasih mas atas kebesaran hati mas Tama dan semoga waktu itu tidak lama karena Rana takut niat ingin mencari ladang pahala malah menjadi ladang dosa"


"Insyaallah tidak Ran, ya sudah mas mau menghubungi ibu dan bapak nanti mas kabarkan lagi. Salam buat Mak e dan mas Hardi. Assalamualaikum"


"walaikumsalam"


Flashback off


Terdengar suara pintu diketuk dari luar kamar. Dan ternyata Lilik yang muncul dengan kebaya pinknya.


"Tamunya 15 menit lagi Sampai Ran, kamu sudah siap?"


"Sudah Lik, bisa ambilkan aku minum Lik tenggorakan ku kering rasanya"


"Ya tuhan.... sabar tuan Puteri 15 menit lagi akan ada hujan yang membasahi tenggorokan mu hehehee.."


Aku memberikan kabar kepada ke 4 sahabatku, Lilik, kak Fhey Tyo dan rudi. Akan tetapi kak Fhey dan Rudi tidak bisa hadir karena bekerja. Beruntung Lilik yang sedang telah resign karena peraturan tidak boleh nya suami istri bekerja di bank yang sama maka Lilik memilih mundur dari bank swasta tersebut dan membiarkan Tyo masih tetap bekerja di bank swasta tersebut.


"Ini minumnya tuan putri, yang ini yang anget, yang ini yang dingin. Aku tidak mau bolak balik karena sepertinya pak kades dan bu kades beserta rombongan sudah Sampai" ucap Lilik seraya meletakkan air teh dan air putih di atas meja rias ku.

__ADS_1


Aku merasakan debar jantung ku sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya dan disertai kedua telapak tangan ku yang tiba-tiba ikut mengeluarkan keringat. Maka bisa kupastikan bahwa aku gugup dengan kondisi tangan basah keringat seperti ini.


"Mudah-mudahan dia memang jodoh terbaik yang Allah kirim kan buat ku ya Lik". Aku mencoba menghilangkan kegugupan ku dengan merangkul sahabat ku.


__ADS_2