
Suara ayam jantan yang berkokok dipagi ini membuat ku bangun lebih awal karena biasanya alarm di ponselnya lah yang akan membangunkan nya. Namun hari ini aku sedang menghabiskan waktu liburan setelah pembagian rapot kemarin. Aku ingin menghabiskan waktu liburan di desa bernama Mak e.
"Hem.... Mak e masak apa Mak?" tanya ku setelah sampai di dapur dan tercium aroma yang sedap dari baunya aku menduga menu pagi ini adalah Seruit.
"Makanan kesukaan anak gadis emak. Seruit"
"Wah... Rana jadi lapar ini Mak...." Seruit, ya ini adalah menu favorit ku dari kecil.
Seruit adalah salah satu makanan khas Lampung yang sering dihidangkan saat ada acara keluarga, pernikahan, acara adat serta acara keagamaan. Seruit merupakan sebuah makanan yang terbuat dari ikan bakar yang dicampur dengan berbagai sambal terasi khas kota Bandar Lampung seperti tempoyak ataupun ada pula yang menambahkan mangga.
"Nanti antar kerumah mas Hardi mu. Mak e masak banyak ini"
"Baik Mak...."
Aku sarapan bersama Mak e sambil mengobrol banyak hal. Mak e merasa senang sekarang aku telah bekerja walau masih Guru kontrak di salah satu SMA swasta. Tiba-tiba mak e bertanya tentang hal yang sempat membuat ku gundah pasca Lilik yang bertunangan dengan Tyo, Rudi pun yang bulan depan akan menikah dengan salah satu teman mengajarnya.
"Ran.... Kamu belum ada pandangan untuk menikah nduk?"
"Mak e... nanti kalau jodoh ya ketemu Mak. Sekarang Rana masih mau fokus mengajar saja dulu"
"Ingat umur sudah 27, Mak e cuma khawatir karena kalau perempuan itu akan mengalami proses hamil, melahirkan dan resikonya kalau melahirkan diusia yang sudah 30 tahun ke atas nduk.... Mak e Ndak mau kamu fokus dengan bekerja. Kemarin Pak le mu yang di Klitang tanya kamu mau Ndak kenalan sama saudara jauh dari istrinya. Katanya kebetulan itu ada yang cari jodoh tapi Ndak mau pacaran tapi Ndak mau cari yang cah pondok an. Nah pak le mu teringat kamu. Memangnya pak le belum menghubungi kamu Ran?"
"Belum Mak... soal jodoh Rana tahu Mak. Mak doakan Rana mudah-mudahan ada yang cocok sama Rana biar Rana cari sendiri saja Mak"
"Mak itu sama mas mu ayem kalau kamu sudah ada yang lamar, lah bayangkan selama 1 tahun ini mas mu sudah menolak 3 kali lamaran dari orang Ran.... khawatir disangka kita ini terlalu sombong"
"Mak.... Rana Ndak mau menikah jika di hati Rana Ndak ada rasa suka sedikit saja dengan calon suami Rana. Walau Rana Ndak mau pacaran tapi setidaknya ada rasa suka dan nyaman sama calon suami Rana. Ustad Abdul Mak tahu sendiri beliau memang berilmu tapi kalau sedang berbicara seolah dia sendiri yang paling benar. Anak pak Zaki memang baik, tampan juga pengusaha tapi Rana tidak suka dengan gaya nya itu loh Mak lah wong yang sugih(kaya) itu bapaknya dia yang sok sok an Gonta ganti kendaraan Rana Ndak suka tipe laki-laki begitu. Mas Ikbal memang kriteria Rana ada sedikit banyak sama mas Ikbal tapi orang tuanya itu kan Ndak suka sama keluarga kita dari dulu. Menikah itu Ndak cuma Rana Mak. Tapi nanti keluarga Rana dan keluarga Suami Rana akan menjadi satu. Rana Ndak mau ada hubungan yang tidak harmonis antara keluarga Rana dan keluarga suami. Dan yang paling penting Mak e. Rana ingin masih bisa berbakti sama Mak e setelah menikah. Maka dari itu Rana masih belum ketemu sama laki-laki yang pas kriteria Rana. bukan Rana sombong. Kalau kita memilih ya wajar lah Mak. Lah wong nggeh teman seumur hidup masak sembarangan" ucapku panjang lebar memberikan pengertian kepada Mak e tentang alasan ku menolak 3 pemuda yang pernah melamar ku lewat mas Hardi.
"Yo wes.... Mak cuma bisa berdoa semoga kamu cepet bertemu jodoh dan jodoh mu itu yang bisa membahagiakan kamu, menjaga kamu, semoga ketemu mertua yang baik yang sayang kamu"
"Aamiin..... sama kayak Mbak Imah... punya suami mas Hardi, punya mertua Mak e. Yo wes Rana Cuci piring dulu ya Mak"
Kutinggalkan Mak e di dapur ke arah tempat cuci piring. Aku mengingat sosok mbak Imah. Ya kakak ipar ku itu bagiku adalah sosok yang beruntung bisa menikah dengan mas Hardi yang baik, sabar, bertanggung jawab dan giat bekerja serta memberikan izin mbak Umar merawat kedua orang tuanya yang telah sepuh. Sampai Ayahnya mbak Imah meninggal di pelukan mbak Imah. Dan sekarang masih merawat Ibunya yang hanya berbaring di kasur karena faktor usia. Untuk makan, BAB dan BAK harus dilakukan di atas tempat tidur. Terkadang mas Hardi ikut membantu menggendong ibu mertuanya untuk sekedar berjemur dipagi hari. Belum lagi Mak e, setiap ada rezeki lebih pasti membelikan 2 perhiasan entah itu cincin, entah itu gelang, atau sekedar baju tidur dimana satu untuk mbak Imah satu untuk diriku.
__ADS_1
"Ah... semoga aku bisa mendapat kebahagian seperti mu mbak Imah" Gumam ku setelah selesai dengan aktifitas ku mencuci piring.
"Ran... Rana...."
Suara mas Hardi dari arah ruang depan. Aku setengah berlari karena mendengar panggilan mas Hardi.
"Iya mas.... Ada apa?" tanya ku setelah sampai diruang keluarga.
"Ini pak le yang di Klitang telpon mau ngobrol sama kamu. Dari semalam telpon katanya nomor mu susah dihubungi. Semalam mas ada undangan kenduri"
"Iya mas,"
"Halo.... Assalamualaikum pak le"
"Walaikumsalam Ran, piye kabare? wah sudah jadi buk guru keponakan pakle ini rupanya. Sibuk jadi tidak pernah telpon atau dolan-dolan (main) kemari"
"Maaf pak le namanya juga ngajar di sekolah swasta pak le sangat sibu pak le. alhamdulilah Rana sehat dan baik pak le. Pak le sendiri sama buk le piye kabare?"
"Alhamdulilah kami semua sehat. Ran, pak le ini ada perlu sama kamu. Kamu tahu sendiri setelah bapak mu Ndak ada Pak le tidak pernah lupa tanggungjawab kamu dan Hardi termasuk waktu itu pakle bertemu Mak mu dan Mak mu bercerita kalau kamu belum ketemu yang cocok untuk menikah diusia mu sekarang. Pak le paham kegelisahan Mak mu, Ini kebetulan ada Sepupu dari istri pak le sedang mencari jodoh anaknya tapi ketika pak le berikan beberapa santri nya pak le anaknya minta kalau bisa jangan dari kalangan pondok. Lah pak le bingung, tapi setelah Mak mu cerita tentang kamu pak le kok kepikiran ingin mengenalkan kamu sama anaknya sepupu buk le mu. Bagaimana Ran kamu mau Ndak kenalan. Orangnya ingin langsung ke pernikahan kalau memang cocok"
"Loh... sudah semua. Ya itu mereka kembali ke kamu dulu. Nah maksud pak le kalau kamu setuju pak le mau kasih tunjuk foto kamu sama anak nya dan nanti foto dia pak le kirim ke Hardi kalau dia cocok atau kamu cocok baru lusa pak le ajak orangnya ke rumah mu sekalian pak le mau hadir di acara nikahannya anak bik Salamah mu"
"Kalau memang mau kenalan enak langsung ketemu saja No, jadi bisa tahu kira-kira cocok apa ndak. lah kalau lewat foto itu kan kadang penampilan menipu"
Tiba-tiba mak e ikut nimbrung di obrolan vya ponsel yang dari tadi memang di loud speaker oleh mas Hardi.
"Owh... Yo wes nek ngunu mbak yu. Khawatir nek wes diajak bocahe ora ngerti ne Ga cocok jadi sengaja tak obrolke ndikek Karo Kirana mbak Yu"
"Gimana Na? Mas dan Mak terserah kamu. Cuma Mamas Ndak tega Mak e kalau sudah bahas kamu belum ketemu jodohnya" Mas Hardi ikut menanyakan pendapat ku.
Kutarik napas dengan berat dan dalam dari wajah ibu seperti nya jelas untuk tidak menolak apa yang diminta pak le.
"Hhh...... Yo wes pak le Ndak papa kenal dulu tapi Kalau memang Ndak cocok Ndak papa kan pak le?"
__ADS_1
"Hahahaha..... kamu itu lah wong nyari jodoh kok sudah mikir hasilnya negatif duluan.... Yo nek ga cocok Ndak papa lagi pula dia itu sudah 3 kali kenalan tapi Ndak ada yang cocok. Yang terakhir malah hampir lamaran ga ngerti nya Ndak jadi"
"Tapi pak le tadi kata pak le orangnya Ndak mau sama cah pondok an kenapa pak le?"
"owh kalau itu alasannya katanya dia Ndak mau istrinya lebih pintar dari dia soal ilmu agama. Karena dia dulu ya santri juga tapi santri kalong mondoknnya cuma malam wae. Yo wes lusa pak le kesana sama dia mungkin sekalian sama orang tuanya ya Ran ndak papa toh?"
"Ya ndak apa-apa pak le"
"No... dek Fatimah milu toh sesok?"
"Nggeh insyaallah Milu mbak. Yo wes mbak Iki aku Eneng undangan pengajian lain kali kita ngobrol lagi. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" ucap kami bersamaan.
Kini Mak duduk di kursi yang ada disebelah ku begitupun mas Hardi.
"Mudah-mudahan jodoh ya Ran...."
"Aamiin. Iya mak"
"Tapi aneh saja minta dicarikan jodoh sama pak le tapi Ndak mau cah pondok an. Sedangkan pak le itu punya pondok pesantren"
"Ya mungkin dia Ndak mau malu mas kalau sudah menikah ilmu istrinya lebih tinggi dari ilmu nya" jawab ku akan kebingungan mas Hardi.
"Bisa jadi, tapi mudah-mudah jodoh Mak e, lah yang satu 3 kali gagal lamaran, yang satu 3 kali menolak lamaran. Mudah-mudahan di usaha ke 4 ini berujung di KUA ya Mak hahahaha" Suara tawa mas Hardi dengan tatapan mengejek ku membuat aku mengerucutkan bibir ku seperti halnya saat dimasa-masa kecil aku akan menangis atau mengerucutkan bibir ku karena sering dijahili oleh mas Hardi.
"Aamiin paling tidak anak gadis Mak ini menikah sebelum umur 30 hehehe"
"Tapi kasihan Ustad Abdul Mak. Secara sekarang dia pak KUA nya lah jelas remuk itu Mak. Ngurus nikah orang yang sudah 2 kali nolak dia Mak hehehe" mas Hardi sepertinya senang sekali menggoda ku.
"Hus... lah wong ustad Abdul sudah nikah kok masih bahas dia. Ndak penak"
"Nanti temani ibu ya Ran kita belanja bahan kue buat nyambut pak le Ndak penak kalau Ndak ada kue"
__ADS_1
"Pak le apa calon mantu Mak....." mas Hardi menggoda Mak e yang terlihat bersemangat untuk menyambut kedatangan pak le Yatno dari Klitang.
"Ya dua-duanya maunya Mak e" Mak e menjawab pertanyaan mas Hardi seraya berjalan ke arah dapur.