
Apakah seperti ini yang dirasakan setiap pengantin yang masih di dalam kamar menanti calon pengantin pria mengucapkan ijab qobul? Rasa deg deg an, rasa penasaran siapa saja yang hadir dan apakah banyak tamu yang hadir, dan apakah ini betul-betul kenyataan atau mimpi.
Aku masih ditemani Lilik dan mbak Imah di dalam kamar ku. Karena aku baru bisa keluar ketika selesai proses ijab qobul yang akan sedang berlangsung diatas panggung pelaminan.
Aroma kembang mawar begitu kental di ruangan kamar ku disertai dekorasi hijau tosca yang kupilih karena warna favorit Ku.
"Wah.... ternyata yang namanya mas Tama itu tampan Ran... kalah jauh sama mantan 5 tahun." Lilik yang baru masuk ke kamar ku mengambil beberapa cemilan karena tadi pagi dia sampai belum sempat sarapan.
"Lik... Bisa tidak di saat-saat kek gini itu mulut di filter?" Ucap ku sedikit melotot.
'Ga kelihatan serem Ran... soalnya kamu hari ini manglingi ya kan mbak Imah?" Lilik masih berceloteh sesuai isi hati nya.
"Iya kamu tambah cantik dengan berkerudung jadi tambah manglingi." mbak Imah menepuk pelan pundak ku.
"tok... tok...."
Lilik membuka kan pintu.
"Sudah siap kan pengantin wanitanya?" tanya seseorang dari luar.
"Sudah kok Bu" jawab Lilik.
"Baik, siap-siap proses ijab nya sudah mau dimulai, ini Microphone nanti jaga-jaga siapa tahu dibutuhkan".
Tidak lama terdengar suara MC mulai terdengar memandu acar ijab qobul. Tahap demi tahap hingga pada acara yang paling ditunggu dari para tamu undangan yaitu akad nikah.
"Hadirin yang Kami hormati, tibalah saatnya kita menuju ke acara inti, yaitu akad nikah antara Bagus Pratama bin bapak Narso dengan Kirana Wijayanti bin Joko Prayitno.
Akad nikah ini akan dilaksanakan oleh Bapak Mukhlas. Kepada bapak Waktu dan tempat Kami persilahkan". Suara MC menyerahkan prosesi selanjutnya ke tangan petugas dari KUA yang bertugas sebagai kepala P3N.
Terdengar begitu jelas dari dalam kamar ku suara pak penghulu memimpin acara yang sakral bagi ku. Karena sebentar lagi aku akan berubah status dari lajang menjadi istri orang. Ya istri Bagus Pratama atau mas Tama.
Tidak lama terdengar suara Mas Hardi yang sedang membacakan ijab selaku wali diriku.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Bagus Pratama bin Bapak Narso dengan adik kandung saya yang bernama Kirana Wijayanti bin bapak Joko Prayitno dengan maskawin berupa Emas Antam 25 gram, dibayar Tunai.....”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kirana Wijayanti bin bapak Joko Prayitno dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”
"Bagaimana saksi?"
__ADS_1
"SAH....SAH...."
"Alhamdulilah......."
Seketika mbak Imah dan Lilik memeluk ku secara bersamaan. Entahlah perasaan apa ini, Ada rasa hangat dihati Ku. Dan ada butir-butir hangat yang ingin keluar dari sudut mata ku. Namun sekuat mungkin aku tahan.
Dan pintu kamar di ketuk dari luar. Aku diminta untuk naik ke panggung menemui seseorang yang telah sah menjadi suami ku. Dan menandatangani beberapa dokumen pernikahan dari pak penghulu.
Entah kenapa terasa jauh sekali posisi panggung itu kurasa padahal panggung itu berada tidak jauh dari teras rumah ku. Tepatnya berada di halaman rumah ku. Aku didampingi oleh Lilik dan mbak Imah naik keatas panggung dan kini telah duduk di samping mas Tama.
"Baiklah kepada mbak Kirana apakah meminta suami membacakan sighat ta'lik atau tidak?" pak penghulu bertanya pada ku dan menyodorkan Microphone ke arahku.
"Tidak usah" Jawab ku singkat dan masih dengan keadaan menundukkan kepala ku karena aku masih malu.
Ya aku memilih untuk mas Tama tidak membaca sighat ta'lik sesuai pesan dari pak Le Yatno.
Semalam pak le dan buk le Fatimah mengingatkan ku akan sighat ta'lik untuk tidak minta dibacakan jika penghulu menanyakan perihal ini.
Pak le Yatno menjelaskan kepada ku. Bahwa Sighat ta'lik adalah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang. Perjanjian taklik talak ini sebenarnya bukan suatu perjanjian yang wajib diadakan dalam setiap perkawinan, akan tetapi sekali taklik talak sudah diperjanjikan maka tidak dapat dicabut kembali. Jadi sighat taklik talak itu tidak harus dibaca dalam setiap kali perkawinan, tetapi kalau pihak isteri meminta pihak suami untuk membaca taklik talak maka suami harus membaca taklik talak.
Berdasar kan penjelasan pak le Yatno dalam sighat taklik talak tersebut mengandung 2 syarat, yaitu syarat alternatif dan syarat kumulatif. Syarat alternatif harus dilanggar oleh suami sedang syarat kumulatif harus dilakukan oleh isteri. Syarat alternatifnya adalah angka 1 sampai dengan angka 4. Apabila suami telah melakukan salah satu dari angka 1 sampai 4 atau semuanya, maka suami telah melanggar taklik talak yang alternatif. Tetapi itu belum cukup syarat untuk jatuhnya talak suami. Untuk jatuhnya talak suami maka isteri harus memenuhi syarat kumulatif, yaitu 1. isteri tidak ridho 2. mengajukan gugatan pada PA 3. gugatannya diterima dan 4. isteri menyerahkan uang iwadh Rp.10.000,-. Empat syarat kumulatif ini harus terpenuhi semuanya. Kalau 4 syarat kumulatif ini sudah terpenuhi semuanya, maka jatuhlah talak satu suaminya itu.
"Baiklah tidak ada pembacaan sighat ta'lik karena istri tidak meminta suami membacakannya. kita langsung ke proses penandatanganan dokumen dan penyerahan mas kawin kepada mempelai wanita"
Setelah penandatanganan beberapa dokumen termasuk buku nikah, lalu mas Tama memberikan aku sebuah kotak kaca yang didalamnya terdapat sebuah kepingan emas.
Ketika mas Tama menanyakan apa mas Kawin nya. Aku hanya meminta kira-kira pantas dan tidak memberatkan mas Tama sekeluarga dan bentuknya aku tidak meminta. Ternyata dirinya memilih mas Antam dengan alasan harga nya yang mungkin bisa untuk investasi diriku dalam jangka waktu panjang.
Aku menerima pemberian mas Tama dan mencium tangan kanan nya cukup lama karena permintaan dari fotografer untuk mengabadikan moment ini. Setelah selesai acara ini kami melanjutkan acara prosesi sungkeman dan kini aku sudah berdiri dan berjalan kearah tempat duduk Mak e dan mas Hardi. ya Mas Hardi duduk mendampingi Mak e diatas panggung menggantikan posisi bapak yang telah tiada.
Entah mengapa mas Tama meraih tangan ku dan menuntun tangan aku berjalan ke arah Mak e dan aku sedikit terkesima ketika kulihat laki-laki yang telah menjadi suami ku ini membantu ku berdiri dari posisi duduk untuk menuju Mak e.
Entahlah apa memang setiap acara pernikahan di prosesi sungkeman ini selalu dibuat seperti ini. Dimana ada kata-kata yang begitu pas apa yang aku rasakan dan seolah pembawa acara pun pandai memilih kan kata mewakili aku dan mas Tama.
Dan kini aku dan mas Tama telah duduk bersimpuh dihadapan Mak e. Aku mencium tangan Mak e dan jika usai proses ijab tadi aku mampu membendung tangis ku. Tidak pada sesi acara sungkeman ini. Tangis ku pecah dihadapan mae. Tangan Mak e pun ikut basah karena air mataku. Tubuh ku sedikit berguncang karena sesegukan menangis. Dan hal yang sama aku rasakan pada Mak e.
"Ibu.. kini Aku Dan suami ku bersimpuh di pangkuanmu sebagai tanda bakti atas segala pengorbananmu. Terima kasih telah merawat ku hingga hari ini. Mohon ma’af bila aku selalu merepotkanmu. Kini aku harus menapaki hidup baru bersama suami ku. Menjalani sunah Rasul yang Mulia. Kini kami telah menjadi sepasang suami istri. Do’akan kami agar dapat mengarungi bahtera rumah tangga. Do’akan kami untuk dapat memecahkan seluruh masalah yang ada nantinya. Do’akan kami menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.Terima kasih, terima kasih Ibu
__ADS_1
Ibu.... Hari ini aku hadir tidak untuk mengambil putri mu menjadi milik ku seutuhnya. Dia masih putri mu. Aku tidak akan melarang nya untuk tetap berbakti kepada mu wahai ibu. Terima kasih telah mendidiknya, merawatnya hingga kini aku bisa menemukan nya dan menjadikannya istri ku dalam keadaan yang luar biasa indahnya. semua karena tangan lembut mu yang telah merawat dan mendidik nya wahai ibu".
Lalu dilanjutkan sungkeman ini kepada mas Hardi
"Kakak ku tercinta… terima kasih telah membantu ibu melindungi diriku menasehati ku dan engkau pikul tugas mu menggantikan almarhum bapak. Sungguh aku bersyukur karena bapak memiliki putera setangguh dirimu dan sesabar dirimu dalam menjaga ku menggantikan posisinya. Terima kasih telah menjadi kakak terbaik penuh tanggungjawab dan kasih sayang.... doakan yang terbaik untuk kami. Terima kasih telah memberikan pendidikan yang terbaik untuk ku. Kini kami harus merepotkanmu sekali lagi. Do’akan kami menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Do’akan kami mempunyai putra-putri yang sholeh dan sholehah nantinya
Kini aku telah menjadi Suami dari adik mu wahai kakak. Aku akan berusaha membahagiakan nya. Ingatkan dan bimbing aku. Karena diriku belum lah ada pengalaman dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dan terimalah aku menjadi adikmu bukan ipar mu wahai kakak."
Mas Hardi yang selalu terlihat tega kali ini kurasakan tangan yang menggenggam tangan ku ikut bergetar dan kudengar dengan jelas mas Hardi menangis dengan terisak.
"Kini dipersilahkan kepada kedua mempelai untuk berpindah memohon do’a restu kepada kedua mertua mbak Kirana" suara pemandu acara meminta kami untuk berpindah ke tempat dimana buk kades dan pak kades duduk. Entah kenapa kali ini mas Tama merangkul ku dan menuntun tangan ku ketika berpindah tempat.
Kini kami telah berada dihadapan buk kades dan pak kades.
"Ibu…ini adalah persimpuhan kami yang pertama di pangkuanmu. Setelah kami syah jadi putra dan putrimu. Jangan bedakan kami dengan putra dan putrimu yang lain. Ingatkan kami jika kami salah. Dukung kami jika kami benar. Ibu... beritahu aku akan budaya dikeluarga mu. Ajarkan aku adat istiadat dikeluarga mu. Ajak aku beradaptasi dalam keluarga mu. Ibu.... anggap lah aku ini Puteri mu bukan menantu mu agar mudah diriku belajar bagaimana bisa membahagiakan orang yang sama-sama kita cintai. Percaya lah wahai ibu. Aku tidak akan merebut dirinya dari dirimu. Ijinkan aku menjadi yang kedua setelah dirimu menjadi wanita yang ia cintai ibu. Do’akan kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Ibu terima kasih karena lembutnya hati mu selama mendidik ku menjadi bekal ku esok bagaimana aku harus berkemah lembut kepada istri ku. Aku tidak akan hanya sibuk dengan istri ku ibu. Walau kini bertambah seseorang yang harus aku sayangi, aku perhatikan namun percayalah ibu aku tidak akan mengurangi rasa cinta dan bakti ku pada mu"
Tak berbeda dengan Mak e buk kades ikut terhanyut dengan suasana sungkeman itu. Dan aku merasakan hal yang sama ketika berada di hadapan Mak e. Dalam hati aku bermunajat semoga engkau tidak berubah Bu, tidak seperti kebanyakan cerita yang ku dengar tentang mertua.
lalu kami pindah ke hadapan Pak kades.
"Ayah, terimakasih atas restu yang kau berikan pada kami. Hari ini aku bersimpuh di kedua kakimu, memohon restu agar kami menjadi putra putrimu yang senantiasa menjagamu, berbakti kepadamu, Menyanyangimu, membalas budimu dan berbagi kebahagiaan denganmu...
Ayah, dimulai pada hari ini anggaplah Aku sebagai anak kandungmu. Tegur aku saat aku melakukan kesalahan, dukung kami saat melakukan kebaikan, bimbing kami saat kami menemui masalah, dan kuatkan kami dalam menjaga ikrar pernikahan... Ayah, kami sangat bahagia karena menjadi bagian dalam keluargamu. Keluarga yang dipenuhi canda tawa dan suka cita...
Ayah, ajari kami tentang arti kehidupan. Tentang kerasnya kehidupan, getirnya ujian, dan kuatnya kesabaran. Tuntun kami untuk saling memperdalam rasa kasih sayang, kepercayaan, saling melengkapi kekurangan, serta berbagi kebahagiaan dan senantiasa memberikan kedamaian....
Ayah, do’akan kami agar mendapatkan keberkahan dalam pernikahan kami dan menjadi keluarga yang bahagia sampai maut memisahkan. Juga do’akan kami agar senantiasa memberikan kebahagiaan pada hidupmu dan memberikan kebaikan bagi orang-orang disekitar kami"
Pak kades terlihat lebih tegar mata beliau hanya terlihat berkaca-kaca dan terus menepuk-nepuk pundak ku dan pundak mas Tama. Mungkin karena seringnya berurusan mengurus warga dengan berbagai macam masalah membuat beliau lebih tegar.
Setelah proses ijab qobul selesai diikuti proses sungkeman kini tibalah proses resepsi pernikahan. Betul yang dikatakan mas Tama hari ini kami menjadi raja dan ratu sehari. Kami duduk bersanding diatas panggung menanti sesi demi sesi acara resepsi. Dan sesekali fotographer memfoto kami.
Mas Tama terlihat tampan, kharisma dan kewibawaan nya makin kental dengan baju pengantin yang dipakai nya. Mas Tama menggunakan blangkon batik di kepala. Beskap hitamnya didasari surjan merah dan dipadu ronce melati. Baru kemudian ada jarik batik dan paling bawahnya sandal hitam berhias payet keemasan.
Ketika hampir selesai acara resepsi kami masih duduk di singgasana kami. Mas Tama membisikan sesuatu di telinga ku.
"Kamu cantik sekali Ran....."
__ADS_1
Bisikan itu seketika membuat ku tersipu entah karena aku malu, reflek aku mencubit pinggang nya mas Tama. Dan mas Tama melihat kearah ku dan sedikit meringis. Tindakan pertama yang kulakukan sebagai istrinya. Setelah kejadian itu terlihat beberapa pasang mata si bawah panggung menatap ku dengan berbagai ekspresi seperti nya mereka melihat apa yang barusan aku lakukan pada suami ku.... Ah ya suami ku.... siapa lagi kalau bukan para sahabat ku.