Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 52 KESABARAN MU SELUAS SAMUDERA MAS


__ADS_3

Mas Tama terlihat kaget dan menatap ku. Seperti sedang mencari mata-kata yang tepat untuk disampaikan pada ku.


"Jangan dengarkan perkataan orang Ran.... Mantan ku bukan Ayla...." mas Tama berusaha menjelaskan.


"Pantas kalau begitu kamu biasa saja memasukan tamu yang mantan pacar kamu di dalam rumah sedangkan istri mu tidak ada mas... Dan berdua saja. Karena kamu tak perduli perkataan orang lain... Bahkan perasaan istri mu sendiri pun tidak kamu pikirkan... Aku penasaran apa yang kamu lakukan saat mantan pacarmu menangis tersedu-sedu menyatakan isi hati nya mas. Kamu memeluknya atau kamu memberikan sapu tangan? Aku menyesal membuka hati ku pada mu mas....." Aku cepat memotong perkataan mas Tama karena aku sudah cukup penat menahan rasa kecewa dan mungkin sebuah kata cemburu. Entah berapa kali aku mengambil napas untuk menuntaskan perkataan ku tadi.


"Kamu tahu kalau siang itu Aisha kemari Ran???" Tampak raut wajah khawatir diwajah mas Tama.


"Owh.... jadi namanya Aisha mas.... Seperti nya kamu terobsesi sekali dengan nama yang berbau Ay.... bahkan rekan bisnis pun kamu bernama sama"


"Kamu cemburu Ran....?" Mas Tama bertanya sambil tersenyum.


"Ran.... istighfar Ran..... mas akan jelaskan pada kamu. Mas tahu kamu tidak akan mudah percaya perkataan tanpa bukti. Sekarang kamu ikut mas"


Aku mengikuti mas Tama karena dia menggenggam tangan ku menuju kamar atas. Dengan cepat mas Tama membuka beberapa folder di laptop yang sudah dalam keadaan on. Dan terlihat Folder CCTV dan mas Tama memilih tanggal 2 hari lalu serta pukul 4 sore. Terlihat dari sebuah video ada 4 orang diruang tamu itu, 2 perempuan berjilbab dan satu lelaki paruh baya dan mas Tama.


Terlihat dari sebuah video itu perempuan yang duduk di sofa dekat pintu masuk seperti menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu. Dan Seorang wanita lainnya mendekati wanita yang menangis tersebut seperti coba menenangkan perempuan yang sedang menangis itu. Terlihat mas Tama tak bergeming dari tempat duduk nya selain ketika ke tiga orang tadi keluar dan meninggalkan rumah mas Tama terlihat mengantar tamu tersebut sampai pintu keluar.


"Mas tidak menyentuh nya, dan mas rasa kamu tahu jawaban apa yang mas berikan kepada perempuan itu dan mas tidak membawanya masuk seorang diri. Jadi kami tidak berdua-duan disaat istri mas tidak ada" Kini mas Tama memandang ku masih dengan keadaan setengah membungkuk kan badannya.


"Mas senang kamu cemburu Ran.... itu tanda nya kamu mulai membuka hati mu untuk mas. Berarti mas mulai ada di hati kamu walau kamu masih berat mengakuinya" Mas Tama menggenggam erat tangan ku.

__ADS_1


"Jadi dia Ay yang berbeda dengan yang semalam menelpon?" tanya ku yang masih fokus melihat video-video hasil rekaman CCTV dari layar laptop mas Tama.


"Sebenarnya ketika kita makan sate mas mau cerita sama kamu tentang kedatangan Aisha, tetapi ada seorang wanita cantik yang sedang memikirkan masalalu suaminya bilang masalalu tidak usah diingat, tidak usah dibahas kalau bikin sedih" Terlihat kedua alis mas Tama turun naik sudah tentu niat mengejek ku.


"Bukan begitu kupikir mas Tama bersedih karena ingat almarhumah ibu nya mas Tama...." Ucap ku pelan dan tertunduk.


"Tidak apa-apa mas tidak marah Ran.... mas hanya tidak tenang takut kalau sikap dan prilaku mas menyakiti istri mas. Sekarang kamu tidak kesal lagi? tidak jengkel lagi?"


Aku menggeleng kan kepala. Dan karena seolah merasa malu karena dari kemarin sibuk dengan pikiran ku sendiri aku mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku mau ke dapur dulu ya mas.... lihat sayur dan nasinya masih cukup tidak untuk makan malam" Aku baru saja hendak berdiri namun mas Tama menahan pundak ku dengan kedua tangannya hingga aku kembali ke posisi semula.


Aku merasa malu, tetapi setidaknya aku belajar bahwa teori sebuah rumah tangga akan sangat mudah diucapkan tetapi sulit di praktekkan dalam realita.


"Kamu tahu... mas paham sikap mu seperti itu. Betul ternyata perempuan itu ingin dianggap menjadi ratu, ingin diperhatikan, di dengar disayang, di puji dan dicintai oleh suami nya"


"Dan berjanjilah mas juga tidak akan menceritakan perihal rumah tangga kita termasuk soal sensitif seperti urusan kamar kita salah satunya kepada siapapun termasuk ibu nya mas"


Mas Tama kebingungan dan mengernyitkan keningnya.


"Apakah mas pernah menceritakan perihal itu kepada ibu?"

__ADS_1


"Mas tidak ingat mas bercerita pada ibu perihal guling? dan pagi nya ibu pun meminta maaf pada ku. Aku malu mas... Berjanjilah mulai sekarang aku lah yang akan jadi teman cerita dan kita akan duduk bersama jika ada masalah atau rasa kurang nyaman diantara kita mas".


"Hhhmmmm....... Mas tahu sekarang awal mula nya. Semua ternyata Bersumber dari guling. Mas jadi ingat setelah malam itu besok-besoknya sampai sekarang kamu membangun tembok Cina diantar kita. Kamu salah paham lagi sayang......."


Mas Tama sudah menarik ku kepelukan nya.


"Kamu tahu yang aku katakan kepada ibu saat kita akan pulang ke acara ngunduh mantu?"


Aku diam dalam pelukan mas Tama ada rasa hangat detak jantung ini yang sudah satu Minggu lebih ingin aku dengar tapi karena ego dan rasa kesal ku mengalahkan hati ku yang mengatakan aku rindu aroma tubuh ini, aku rindu detak jantung ini, aku rindu deru napas ini.


"Mas menelpon ibu meminta untuk tidak disiapkan guling pada ibu. Karena mas bilang mas Tama sudah menyakiti kamu selama satu Minggu dirumah mu, mas Tama hanya memeluk guling saat tertidur".


"Padahal mas Tama sedang mencari alasan agar guling itu tidak lagi mengganggu mas untuk memeluk istri mas tapi kalau mas berbicara pada mu pastilah akan dianggap mas ingkar janji. Kamu menangis Ran.... Menangis lah.... Setidaknya mulai hari ini kamu tidak boleh menangis lagi karena kesalahpahaman diantara kita. Mas mencintai kamu Ran.... Maaf tidak bisa mengerti hati mu yang sedalam samudra ini....." Mas Tama mengecup kening dan Kepala ku bertubi-tubi


"Dan terima kasih atas Kesabaran mu yang seluas samudra dalam menghadapi istri mu ini mas......" Aku masih menangis dan merapatkan pelukan ku. Aku merasa beruntung karena selama seminggu ini suami ku begitu sabar, begitu lembut. Tidak ada kata marah, tidak pernah meninggikan suaranya dengan segala tingkah yang baru kusadari ternyata aku bersikap kekanakan ini yang malah berpikir negatif kepada suami ku.


Entah karena sudah sama-sama merindukan kegiatan satu Minggu lalu atau karena kami terbuai suasana mas Tama memberikan kecupan-kecupan nya dan menggendong ku ke arah ranjang. Aku sudah berada di kasur ini ketika mas Tama men**cup bibir ku Satu tangannya berusaha membuka kancing blazer ku dan ku tahan dengan tangan ku karena aku yakin jika itu terjadi akan berakhir dengan kegiatan panas sore ini.


"Aku belum mandi mas...." ucap ku pelan menatap wajahnya yang kini tepat berada di depan ku tanpa ada jarak.


"Kita akan mandi setelah kegiatan ini Sayang......" Mata mas Tama penuh gelora menatap ku dan Kembali melanjutkan kegiatan nya di setiap inci tubuh ku.

__ADS_1


__ADS_2