Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 55 ADA APA DENGAN LILIIK


__ADS_3

Genap 6 bulan umur rumah tangga ku dengan mas Tama. Kami semakin mesra setiap harinya dan kami bukan hanya menjadi pasangan tetapi teman dalam urusan rumah tangga. Pagi ini kami cukup repot karena ibu dan bapak mas Tama akan menginap di sini. Aku sedang mempersiapkan menu untuk makan siang sedangkan mas Tama membantu ku menyapu dan mengepel lantai. Seperti inilah kegiatan kami sehari-hari kami akan mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama. Mas Tama tidak hanya mengandalkan aku sebagai istri harus menyelesaikan semua urusan di dalam rumah tangga. Terkadang mas Tama akan memasak untuk makan malam sedang kan aku menggosok baju.


Kami betul-betul seperti melewati masa-masa pacaran bahkan lebih romantis dari orang pacaran karena halal dan kapan pun dimana pun bisa menunjukan kasih sayang kepada pasangan kita tanpa rasa was was.


"Sayang, seprainya mau diganti ga yang dikamar bawah?" tanya mas Tama yang berjalan dari arah depan membawa alat pel.


"Diganti yang baru aja deh mas"


"Kamu aja yang ganti ya, mas ga bisa kalau urusan kasur... biar mas yang jemur pakaian di belakang"


"Ah beneran ga bisa urusan kasur? bukannya hampir tiap malam ga absen mas... hehe..." Goda ku pada mas Tama karena rasa cinta ku sudah tumbuh dan aku tahu pentingnya sebuah candaan atau godaan kepada pasangan kita. Ibarat tanaman maka sifat-sifat romantis adalah pupuk yang baik untuk sebuah rumah tangga.


"Hem.... Sekarang sudah kayak Lilik ya... udah pandai menggoda suami...." Mas Tama cepat berdiri di depan ku dan memencet hidung mancung ku serta menggerakkan nya ke kanan dan ke kiri.


"Drrrrt....drrrrt...." Suara handphone yang sedang ku charger bergetar.


Kulihat ada panggilan dari Lilik. lalu aku mendial tombol hijau.


"Halo, assalamualaikum Lik...."

__ADS_1


"Walaikumsalam salam Ran... kamu ada dirumah ga Ran?" terdengar suara Lilik seperti habis menangis di ujung sana.


"Ada Lik... aku kebetulan dirumah. Kamu kenap Lik...?" Aku penasaran karena aku cukup kenal nada suara Lilik ketika sedang atau habis menangis.


"Ran.. Aku kesana ya."


"Ya ga apa-apa kesini aja Lik...."


"Tut....Tut...."


"Kebiasaan nih anak.... langsung tutup aja"


"Lilik mas, kayaknya dia lagi ada masalah suara nya kayak habis nangis gitu"


"Owh... Oya tadi ibu wa. Ibu sama bapak ke kantor perpajakan sama dan Disbun dulu jadi rada sore baru kesini"


Aku Melanjutkan menyetrika dan mas Tama beristirahat dikamar tidak lama suara motor di depan rumah. Aku berjalan ke ruang tamu dan melihat ternyata Lilik sendirian dengan mata sembab nya.


"Rana......hiks...hiks...." Lilik memeluk ku dengan terisak-isak menangis.

__ADS_1


"Hey... ada apa Lik.... ayo masuk dulu... duduk dulu." aku coba menenangkan Lilik yang tampak begitu sedih dan tidak sabar ingin bercerita pada ku tentang isi hatinya.


"Mas Tama nya ada?"


Aku mengerutkan kening ku kenapa dia bertanya tentang mas Tama


"Ada lagi istirahat diatas. Kamu ada perlu sama mas Tama?" tanya ku penasaran.


"Ga kok... kita keluar Yo Ran... kemana kek... aku lagi halu banget...."


"Waduh aku ga bisa Lik, mertua ku sore nanti kesini. Ngobrol disini aja kenapa sih?"


"Tapi ceritanya sambil nonton drakor ya Ran... please...." Lilik memohon dengan menangkupkan kedua tangan nya.


"Ya sudah kita ngobrol dikamar itu aja kebetulan ada tv nya walau ga terlalu besar. Kamu tunggu aku disana aku mau ngomong sama mas Tama takut nanti ganggu edisi curhat mu" Aku sudah sangat yakin ada yang ingin diceritakan oleh Lilik pada ku.


"oke...deh... tapi Bawak cemilan ya Ran... aku lapar soalnya dari tadi nangis aja"


"Hu.... katanya sedih tapi urusan perut ga lupa..."

__ADS_1


Aku naik ke kamar atas untuk memberi tahu mas Tama bahwa ada Lilik di rumah dan kami akan mengobrol sambil menonton drama Korea dikamar Dwi.


__ADS_2