
Namun mas Tama malah tersenyum dan tertawa lalu menggenggam tangan ku.
Akhirnya aku hentikan tangis ku karena aku begitu jengkel dengan laki-laki ini. Kembali dia tertawa sedang aku manangis terisak.
"Rana..... Rana..... Serendah itu kah aku Dimata kamu? hehe.... aku mengatakan aku meminta sesuatu kepada mu sebagai suami mu Ran bukan berarti aku meminta hak kesucian mu. Aku masih mengingat janji ku pada mu"
Aku diam dan aku merasa aneh bukan kan dia mengatakan haknya sebagai suami tadi?
"Bukan kah mas berbicara tentang hak mas sebagai suami?"
"Kamu pikir hak suami itu hanya tentang Kegiatan di kasur? hehehe... Apa jangan-jangan kamu yang sudah membayangkan apa yang terjadi malam nanti" Mas Tama memicing
"Mas...." aku membulatkan mata ku
"Kamu tambah cantik kalau begini...."
"Jadi apa yang mas mau katakan. katakan dengan jelas"
"Maksud mas, mas mau kamu memakai jilbab keluar dari kamar ini tadi di ruang tengah dan di dapur masih banyak orang dan laki-laki lain" jelas mas Tama
"Kenapa mas? kenapa harus pakai jilbab"
"Ran, setelah proses ijab qobul tadi maka segala yang kamu perbuat akan menjadi tanggung jawab ku dan di hari akhir nanti seorang suami diminta pertanggungjawaban nya terhadap dosa-dosa istrinya. Salah satu nya ini.... Mas tidak mau aurat mu di nikmati dan dilihat orang lain dan itu menjadi dosa bagi mu Ran...". mas Tama memegang rambut ku yang sebatas bahu.
"Kenapa mas tidak mencari istri seorang santri atau seorang ustadzah saja mas.... Aku bukan orang yang paham agama, aku bukan orang yang alim... " rasa nya air mata ini ingin kembali turun ke pipi. Bagaimana bisa baru beberapa jam aku menajadi istri nya dia meminta aku mengenakan jilbab yang dari awal aku tidak mengenakan benda itu. Bahkan aku menyetujui permintaan akan baju pengantin yang hijab karena permintaannya. Tapi ini dia meminta aku mengenakan jilbab seterusnya.
"Ran.... mas tahu ini akan terjadi dan mas sudah bersiap jika kamu sedikit kaget. Mas bukan lah pemuda yang Alim mas juga bukan pemuda yang hapal Qur'an atau hadist dan mas juga bukan seorang ustad. tetapi bukankah kita menikah dengan niat beribadah? Hayo kita mulai dengan ibadah pertama.... Aku sebagai suami mengingatkan mu akan kewajiban menutup aurat mu dengan cara yang lemah lembut. Bukan kah kamu bilang kita akan sama-sama belajar menjadi insan yang lebih baik lagi?" Kini mas Tama duduk disebelah ku dan mengusap pundak ku. seketika ada ketenangan sehingga entah kenapa air mata yang tadi mengalir kini berhenti seketika.
Mas Tama melanjutkan penjelasannya lagi.
"Dalam surah Al-Ahzab ayat 59. Allah SWT berfirman, "Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali (menjadi identitas), dan karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
__ADS_1
Lalu mas Tama berjalan ke arah cover merah dan menarik nya sehingga sudah berada dihadapan ku dan membuka cover tersebut.
"Semua ini sudah aku persiapkan dengan meminta bantuan ibu. Ini bisa kamu pakai dan kalau ada yang tidak sesuai dengan selera mu nanti setelah kekota kita cari yang cocok dan nyaman kamu pakai.... Aku mohon Ran... Aku mencintai kamu dan aku tidak ingin kecantikan mu dan kulit putih mulus mu itu dinikmati laki-laki lain"
Satu persatu gamis dan jilbab dikeluarkan mas Tama dan diletakkan di atas tempat tidur oleh mas Tama.
Kini mas Tama masih dengan posisi duduk berjongkok menatap ku.
"Kamu masih marah sama mas?"
Aku diam sesaat dan memandang baju dan jilbab yang begitu banyak di dalam cover merah itu. Ah.... cara mu mencintai ku begitu anggun mas.... Bahkan kamu membelikan aku baju gamis dan jilbab disaat aku belum menjadi istri mu. Aku menyerapi perkataan mas Tama dan ku tatap matanya ada permohonan yang begitu dalam dan ketulusan.
"Baiklah Rana akan memakai nya. Maafkan Rana yang sudah salah sangka pada mas dan sudah meninggikan suara Rana tadi"
"Tidak apa-apa... namanya juga baru beberapa jam jadi pasangan memang butuh penyusaian cara berpikir dan berbicara. Maf jika terkesan memaksa. Namun maaf yakin mas tidak salah pilih istri. Kamu adalah wanita yang berpribadi selalu ingin menjadi yang lebih baik. Sudah jangan nangis lagi cepat mandi mas tunggu di mushola ya..."
Aku memilih gamis Biru navy dan jilbab pashmina yang berwarna silver akan ku bawa ke kamar mandi namun tangan ku lagi ditahan mas Tama.
Mas Tama melepas tangan nya dari lengan ku. aku keluar dari kamar menuju kamar mandir namun diruang tengah aku bertemu dengan Mak e yang baru saja dari dapur tangan ku kembali ditarik tapi kali ini oleh Mak e yang menahan langkah ku.
"Rana..... kamu baik-baik saja nduk? Kalian tidak bertengkar kan??" Mak menatap wajah ku dan aku berusaha mengalihkan wajah ku dari tatapan Mak e.
"Tidak Mak.... Rana cuma kelilipan tadi ketika mau mandi...." kilah ku dan ingin segera kekamar mandi namun kembali ditahan oleh Mak e dan kini ditari kekamar Mak e yang berada diseberang kamar ku.
Mak menutup pintu dan duduk disebelah ku
"Kamu Ndak bisa bohong pada Mak e nduk... ada apa? kalian bertengkar? Tama menyakitimu nduk?" seperti itulah Mak e selalu bertanya dengan beruntun ketika penasaran.
"Tidak Mak...... kami tidak bertengkar, mas Tama tidak menyakiti ku Mak...."
"Jangan bohong Ran.... matamu tidak bisa bohong sama Mak e. kamu habis menangis dan dari mata mu ada kesedihan...."Mata 'Mak e kini terlihat memerah.
__ADS_1
"tidak Mak... sungguh.... sekarang coba Mak lihat Rana apa ada yang berbeda dari Rana?" tanya ku pada Mak e yang kini aku berdiri. Ya aku keluar kamar dengan menggunakan gamis putih serta jilbab berwarna oranye.
"apa Ran..." Mak sedikit lama menatap ku.
"Ini Mak... ini yang membuat Rana menangis" jelas ku karena Mak e belum bisa menebak apa yang berbeda dari diriku hari ini.
"Jilbab?" tanya Mak e bingung.
"Saat Rana mau keluar kamar mas Tama meminta Rana mengenakan hijab seterusnya Mak" jelasku
"Alhamdulilah..... Kamu tidak salah pilih suami nduk" Mak e kini sudah pad mode melow dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Lalu kenapa kamu menangis"
Aku tidak mungkin menceritakan kesalahpahaman ku pada mas Tama tadi pada Mak e aku pasti malu.
"Aku sedikit kecewa Mak karena kenapa dia tidak cari ustazah atau santri saja yang dari awal berhijab"
"Rana.... jangan lagi berpikiran seperti itu. Kamu beruntung ada suami yang mengingatkan kamu akan kewajiban mu."
"Tapi kamu sudah minta maaf pada suami mu?"
"Sudah Mak, Rana juga sadar Mak. mudah-mudahan ini awal Rana men jadi pribadi lebih baik"
"ya sudah. jangan berlari dari Masalah dan jangan biarkan masalah berlarut-larut. Komunikasi itu hal penting dalam rumah tangga"
"Baik Mak. Rana mandi dulu Mak. Sudah ditunggu mas Tama mau shalat ashar Mak"
"Ya sudah jangan lupa layani suami mu dengan baik Ran"
deg... kata-kata Mak e melayani Kembali membuat ku bergidik.
__ADS_1