Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 51 Ayla, Rekan bisnis atau Mantan Pacar?


__ADS_3

Bel pulang telah berbunyi. Aku sudah siap untuk pulang ketika sampai di gerbang sekolah dan kembali bertemu pak Cahyo. Karena tinggal satu komplek pak Cahyo mengajak ku pulang bersama. Mas Tama sepertinya berniat untuk menjemput tetapi ketika tahu pulang pukul 2 maka mas Tama tidak bisa karena mas Tama baru keluar dari kantor pukul 14.30.


Dan karena memang hubungan antara guru disekolah ini cukup baik dan hangat. Pak Cahyo yang suka bergurau, membuat semua guru pun tidak sungkan jika bertemu beliau. Aku berpikir cukup lama akhirnya aku iyakan toh beliau juga kenal dengan suami ku.


Selama diperjalanan pak Cahyo banyak bercerita tentang mas Tama. Dari cerita pak Cahyo sama persis dengan mas Tama yang kulihat saat akan melamar ku, orang yang baik hati, mandiri, sabar, bisa dipercaya namun cukup tegas serta berwibawa.


Setibanya di depan rumah aku mengucapkan terima kasih kepada pak Cahyo dan ketika aku memasuki pagar rumah terlihat mas Tama diatas balkon. Aku masuk lewat pintu garasi yang sedikit terbuka karena kulihat pintu depan tertutup.


"Assalamualaikum" ucap ku ketika sudah masuk ke dalam dapur.


"Walaikumsalam Ran... pulang sama pak Cahyo tadi?" tanya nya seolah basa basi karena dia jelas tahu persis dari atas balkon siapa yang mengantarku.


"Iya tadi pak Cahyo meminta karena satu arah dan satu komplek"


"Iya dia juga mengajar disekolah mu... kalau tidak salah pak Cahyo mengajar olahraga ya Ran.." Kini mas Tama sudah didepan kulkas dan membawa satu gelas air dingin.


"Iya mas.... mas mau makan?" tanya ku karena kulihat dia duduk diatas kursi meja makan.


"Ini minumlah dulu...." Mas Tama memberikan segelas air dingin kearah ku dan aku ikut duduk dihadapan nya.


"Terima kasih mas. Kenapa sudah pulang mas?"


"Sepertinya bukan aku yang cepat pulang tapi kamu yang terlambat" mas Tama melirik jam yang berada di dapur.


"Ya ampun.... tadi ada kecelakaan bus jadi cukup lama macetnya mas".


"Besok-besok biar mang Asep saja yang jemput kamu. dan untuk antar biar mas saja. Nanti kalau kamu ada jam kosong kita buat SIM jadi kamu bisa ke sekolah Bawa motor sendiri. Mas tidak mau kamu berboncengan dengan pria lain".

__ADS_1


"Pria lain mas... Mang Asep bukan pria?" tanya ku dengan kedua alis yang terangkat.


"Tetapi profesinya jelas tukang ojek selain itu bisa berbagi dengan menambah penghasilan mang Asep" jelas mas Tama.


"Mas cemburu?"


"Iya... mas tidak suka istri mas dekat dengan laki-laki lain. Apalagi berduaan diatas motor".


"Ayolah mas... jangan terlalu posesif...."


"Mas tidak posesif Ran... Mas hanya melindungi istri mas dari fitnah".


Aku yang seolah merasa waktu mas Tama membahas masalah ini tidak pas pada waktu dimana baru pulang dari sekolah menyulut rasa kesal ku yang beberapa hari ku tahan.


"Lalu menerima telpon dari perempuan di malam hari dan menjauh dari istrinya itu tidak menimbulkan fitnah mas??" Tanya ku dengan tatapan yang datar kali ini tatapan kami bertemu dan mas Tama mengerutkan keningnya.


"Hhhh.... kalian lelaki hanya terus merasa benar dan kami perempuan selalu seperti tersangka, bahkan ketika kalian berbuat salah pun seolah kalian selalu punya alasan yang tepat untuk menutupi kesalahan itu mas". aku menarik napas dalam memulai berbicara.


Aku beranjak pergi meninggalkan dapur namun mas Tama cepat menyambar tangan ku.


"Tunggu Ran..... Jangan mengelak lagi. Mari kita bahas apa yang terjadi. Mas tidak tahan melihat kamu bersikap seperti ini. Jangan ditunda-tunda lagi. seharian ini mas tidak bisa konsentrasi memikirkan apa yang terjadi sama kamu yang kamu rasakan....." Suara mas Tama lembut dan mengecup lembut punggung tangan ku.


"HHhhh.... mas baru satu hari merasakan tidak tenang, mas baru merasakan satu hari memikirkan apa yang aku rasakan sedangkan aku sudah hampir satu Minggu mas.... satu Minggu aku aku mencoba tenang, mencoba bersabar, mencoba seolah tidak terjadi apa-apa, satu Minggu menanti kamu berbicara kejujuran...... Aku lelah mas.... aku lelah..." Aku menangis terisak dengan kembali duduk dikursi makan. Benteng pertahanan ku akhirnya jebol setelah sekian hari dengan bertubi-tubi nya peristiwa yang terjadi membuat aku stress.


Mas Tama merapatkan kepala ku di perutnya. Dan tangannya masih mengelus lembut kepala ku dan dia beberapa kali mengecup kepala ku.


"Maafkan mas Ran.... menangis lah jika dengan menangis kamu merasa sedikit tenang. Maafkan mas yang bodoh dalam menyelami hati istri mas yang sedalam samudra ini.... mas memang salah tidak peka dan belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu" kembali satu kecupan mendarat dikepala ku.

__ADS_1


"Katakanlah apa yang membuat hati mu tersakiti dengan tingkah laku mas" kini mas Tama menarik kursi dan duduk dihadapan ku.


Aku meminum air dan mengambil napas. Ya aku harus menceritakan setidak nya aku mendapatkan jawaban tidak sibuk dengan pemikiran ku sendiri.


"Katakan mas, kenapa hampir 2 Minggu aku menjadi istri mu aku tidak tahu kamu punya dua handphone, lalu siapa yang menelpon mu malam tadi?" tanya ku pada mas Tama yang kini kuberanikan menatap mata suami ku. Aku ingin mendengar penjelasan nya dan melihat kebohongan atau kejujuran dari matanya.


"Baiklah.... mas minta maaf karena tidak bercerita perihal handphone itu. Pertama.... mas sengaja meninggalkan handphone itu dirumah ini selama proses ijab dan ngunduh mantu. Karena handphone itu hanya untuk relasi bisnis mas. Mas punya beberapa usaha atau semacam menanam modal semacam saham dan ikut trading forex jadi mas menggunakan handphone itu untuk pekerjaan diluar status PNS mas. Karena mas tidak mau mengganggu waktu kita sebagai pengantin baru mas tidak membawanya. Mas minta maaf tidak menceritakan dari awal handphone itu sama kamu"


"Lantas kenapa harus keluar dari kamar dan menjauh saat ada yang menelpon malam tadi?"


"Karena kamu bilang kamu mau tidur, mas takut mengganggu kamu karena biasanya mas loud speaker jika menelpon panggilan dari Ayla karena sinyalnya terkadang jelek karena dia tinggal di pinggir an kota"


"Jadi nama perempuan itu Ayla mas...."


"Iya.. kamu tahu dia perempuan dari mana mas tidak mengatakannya"


"Dari namanya saja cukup menyatakan kalau dia perempuan mas. Lalu apa hubungan mu dengan Ayla?"


"Ayla rekan bisnis ku... dia membuka usaha sebuah hotel dan resto di pinggiran kota yang terdapat destinasi wisata pantai nya. dan mas menanam modal di usahanya 2 tahun yang lalu Dan 6 bulan sekali biasanya mas mendapatkan keuntungan dari laba yang diperoleh usahanya."


"Kamu yakin hanya rekan bisnis..... kamu tidak berbohong? kamu tidak pernah punya hubungan apapun dengan wanita bernama Ayla itu?"


Mas Tama memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya dan memajukan wajahnya ke arah ku.


"Lihat di mata mas apakah mas bohong apakah mas jujur. Ayla hanya rekan bisnis dimana dia istri orang dan sudah memiliki dua anak serta dia hanya teman satu organisasi saat di kampus dulu"


Ku tatap wajah mas Tama dan kucoba mencari kebenaran dari tatapan matanya memang tidak ada kebohongan, bukankah perempuan yang siang itu datang dan menyatakan perasaannya juga bernama Ay..... lantas apakah ada dua Ay....

__ADS_1


"Kamu yakin dia bukan mantan pacar mu mas?" ucap ku seketika dan seketika mas Tama melepaskan genggaman tangan nya dan dari wajahnya kulihat dia cukup terkejut dengan pertanyaan ku.


__ADS_2