
Tampak di depan rumah ku terdapat beberapa unit tenda yang berbalut kain dekorasi yang berwarna putih dan Hijau tosca warna favorit ku sengaja mas Hardi pesan untuk menyambut kedatangan mas Tama dan keluarga untuk proses lamaran pada hari ini.
Ada banyak orang di depan teras yang sedang duduk dan menikmati suguhan minum dan makanan yang disajikan untuk menyambut keluarga besar mas Tama dan diruang tamu pun telah dipadati beberapa keluarga besar ku dan mas Tama.
Aku pun telah duduk disebelah Mak e, dan Mak Imah serta Lilik di ruang tamu. Setelah acara proses lamaran dimulai oleh pembawa acara yaitu kepala dusun desa kami Pak Agus dan serangkaian kata sambutan baik dari pemerintah setempat maupun dari pihak keluarga mas Tama dan juga dari keluarga ku.
Maka tibalah pada proses intinya pertemuan kedua keluarga besar pada siang hari ini. Tampak perwakilan dari keluarga kami yang diwakilkan oleh Pak Le Yatno yang mewakil Mak e berbicara.
"Bagaimana Ran, ini Pak Narso dan keluarga nya jauh-jauh dari desa wukirsari kemari dengan niat melamar kamu seperti yang telah disampaikan pak Joko selaku wakil tuan rumah pak Narso. Apakah kamu menerima lamaran ini nduk?"
Suara pak le terdengar jelas dan tegas melalui speaker yang memang dipersiapkan untuk acara ini.
Masih dengan posisi menundukkan kepala aku menjawab pertanyaan pak le.
"Insyaallah saya menerima lamaran mas Tama pak le" jawab ku sedikit pelan dengan netra yang masih menatap ke jari-jari tangan ku yang ku kepalkan di atas pangkuan ku yang tentu saja sudah dibanjiri keringat dingin.
"alhamdulilah......" hampir bersamaan suara itu diucapkan oleh mereka yang berada diruangan ini dan di tenda serta dari arah dapur.
"Baiklah pak Joko sudah dengar sendiri keponakan saya menerima lamaran dari keponakan bapak" pak le kembali mempertegas atas jawaban ku barusan
"Ya pak Yatno, sebagai tanda keseriusan kami akan hubungan ini untuk menuju pernikahan kami kami akan memberikan tanda kepada Nak Kirana setidaknya pulang nya kami dari sini hati keponakan saya ini akan tenang karena sudah ada tanda kalau nak Rana itu sudah dilamar sehingga tidak ada pemuda-pemuda lain yang berani mendekati Rana..... hahahaha" suara pak lek Joko begitu jelas dan tawanya pun lepas, beliau suami buk Cahya staf TU di SMP sewaktu KKN aku mengajar.
Suara tawa dari seluruh yang hadir pun ikut mengiyakan apa yang pak le Joko ucapkan.
Tampak Buk kades, ah.... rasanya hati dan bibir ini terlalu nyaman memanggil beliau dengan sebutan buk kades.
__ADS_1
Beliau berjalan dengan lutut nya mendekat kearah ku beliau mengeluarkan sebuah kalung emas yang aku tidak tahu berapa gram beratnya namun ada sebuah liontin berbentuk love dan dipasangkan keleher ku oleh beliau kepada ku. setelah itu beliau memeluk ku dan terlihat jelas air mata menetas dari sudut matanya usai beliau melerai pelukan nya dariku.
"Terima kasih Ran... dan berjanji lah sama ibu kamu akan membagikan belahan hati ibu...." ucap beliau dengan membelai lembut punggung tangan ku.
Entah mengapa tiba-tiba hati ku terasa begitu hangat dan kedua mata ku pun terasa perih seketika bulir-bulir bening pun jatuh dengan lembutnya dipipi ku setelah ku anggukan kepala ku dihadapan beliau.
"Baiklah kalau begitu untuk acara pernikahannya ini kapan pak Yatno karena kami ini tadi saya di dapat bisikan dari mas Narso kalau Kopanakan saya ini sudah Ndak bisa jauh-jauh dari nak Rana harapan kami sekeluarga kalau bisa pernikahan bisa dilaksanakan satu bulan kedepan bagaimana menurut pak Yatno sekeluarga?"
Tiba saatnya membahas ke acara lebih sakral. Aku sedikit kaget mendengar permintaan keluarga mas Tama karena menurut ku terlalu cepat waktu satu bulan.
"Bagaimana Mbak yu dan Hardi?" pak le menanyakan kepada Mak e dan mas Hardi terkait permintaan keluarga mas Tama.
"Wah apa Ndak kecepatan ya pak?"
"Kalau menurut pak le tidak Har.... justru lebih cepat lebih baik. Lagi pula niat baik jangan ditunda-tunda" jawaban pak le seperti mengamini permintaan dari keluarga mas Tama.
"em.... Saya terserah mas Hardi sama Mak e. Untuk masalah pekerjaan kebetulan cuti untuk tahun ini belum Rana ambil, biar Rana bisa ambil cuti jika proses pernikahan akan dilaksanakan" jawab ku dengan menatap mas Hardi.
"Baiklah kalau begitu berarti kamu tidak keberatan Hardi jika satu bulan lagi proses pernikahannya?" pak le meminta kepastian lagi dari mas Hardi
"Tidak pak le. Insyaallah saya siap" jawaban cepat dan mantap terdengar dari mas Hardi.
" Baiklah berarti proses pernikahan akan dilaksanakan satu bulan kedepan masalah tanggal nanti akan kami kabarkan kembali kamu mau rundingan dulu dengan keluarga besar. Mengingat Rana ini dari sebelah bapak dan ibu nya lumayan punya keluarga besar. Jadi bagaimana pun kami harus meminta saran dan hari terbaik dari para tetua di keluarga kami mas Joko"
"Baiklah kalau begitu alhamdulilah, kami tunggu kabar baik dari keluarga Disini. Dan untuk mas kawin nanti biar Tama dan Nak Rana berbicara sendiri. Kami rasa mungkin cukup acara kita hari ini kepada pembawa acara Monggo kami persilahkan".
__ADS_1
Kembali acara dilanjutkan dengan doa serta acara makan siang bersama yang telah disediakan di meja yang berada di tenda. Disaat para keluarga besar menikmati hidangan nya buk Cahya memilih makan disebelah ku turut serta buk kades.
"Alhamdulilah Ran ibu bahagia sekali kamu bisa jodoh sama Tama.... secara keponakan mbokde itu anak yang baik. Khawatir kalau dapat jodoh cuma karena lihat kariernya atau harta orang tuanya" buk Cahya menikmati hidangan sambil mengobrol dengan diriku.
"Alhamdulilah doakan semoga lancar sampai proses ijab nya buk" pinta ku pada buk Cahya.
Tampak kehangatan kedua belah keluarga besar setelah acara makan masih mengobrol dan hal itu terlihat jelas dari cara Mak e dan buk kades mengobrol terlihat sekali bahwa kedua ibu itu sedang bahagia. Aku hanya bisa berharap tidak mengecewakan kedua orang tua yang saat ini mungkin menaruh harapan pada ku dan mas Tama agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
Setelah proses penutup acara dari pak Agus selaku pembawa acara. Rombongan keluarga mas Tama pun satu persatu meninggalkan kediamanku dan menaiki mobil yang parkir didepan rumah ku. kurang lebih terlihat ada sekitar 14 mobil. Seperti keluarga ku. Ternyata mas Tama juga terdiri dari keluarga besar. Keluarga pak kades, buk kades belum lagi keluarga Alm ibu nya mas Tama yang juga ikut hadir.
Sepeninggal rombongan mas Tama tampak beberapa saudara ikut serta Lilik dan mbak Imah memasukan buah tangan yang dibawakan oleh keluarga mas Tama terdapat kurang lebih belasan nampan buah tangan tersebut terdiri dari buah-buahan dan kue, bolu, brownies, lemper, Mendut serta sebuah kota kecil berisikan kotak merah dan ternyata disana terdapat surat dari kalung yang saat ini telah terpasang dileher jenjang ku. Sebagian adik beradik dari bapak dan Mak e masih mengobrol di ruang tamu aku pun masuk ke kamar untuk berganti pakaian karena terasa hawa panas memakai baju kebaya dicuaca siang hari. Terdengar obrolan dari arah ruang tamu yang ditangkap oleh telinga ku.
"Wah Kirana beruntung sekali, ini baru lamaran Bawak an nya udah kayak gini apalagi proses seserahan dan pernikahan belum lagi tanda pengikatnya kalung nya kelihatannya lebih dari 15 gram"
"Belum lagi sepertinya orang tuanya sangat suka sama Rana lah itu tadi ibunya Tama sampai nangis setelah kasih Rana kalung aku Yo Melu terharu" Kakak perempuan dari bapak ku dengan suara nya yang sedikit besar ikut menanggapi.
"Iya di desa ini kayaknya baru Kirana deh yang lamaran aja pengombyong nya bisa hampir 20 mobil gimana pas ijab. belum lagi oleh-olehnya.... A... sampeyan beruntung mbak yu dapat besan baik dan kayaknya anak nya juga pemuda yang baik" buk le Etin adik dari ibu ku ikut memberikan pujian kepada kedua orang tua mas Tama.
"Hhh... Alhamdulillah setidaknya aku Ndak bakal dengar lagi pembicaraan diluar sana kalau anak gadis ku di kota itu bergaul bebas. Aku kenal anak ku tetapi tetap ada rasa sakit ketika fitnah-fitnah dan prasangka-prasangka buruk ditujukan kepada anak ku. Belum lagi waktu tempo dulu nak Tama dan buk Tatik mengantar Rana pulang ketika aku sakit itu hampir satu bulan pembicaraan tetangga buang tidak-tidak sampai ada yang bilang awas nanti hamil duluan....Hhhhh" terdengar suara ibu lirih dan aku mendengar Isak tangis ibu dari balik kamar.
"Allah akan memberikan orang-orang terbaik jodoh yang juga baik bagi nya mbak. Maka kadang sering saya dawuh sama semua keponakau dan murid-murid tidak usah pusing mikirin jodoh atau sibuk pacaran. Cukup terus perbaiki diri dan pantaskan diri kita untuk jodoh yang diinginkan kita ya seperti sekarang mudah-mudahan Rana dan Tama berjodoh karena mereka telah sama-sama memantapkan diri untuk jodoh mereka masing-masing. Contoh ingin memiliki pasangan hidup sayang orang tua kita maka tidak akan ketemu jika kita sendiri tidak sayang pada orang tua terutama kamu Lia... Buk le sering mengingatkanmu bahkan dimedia sosial kamu" Buk le Fatimah pun terdengar ikut memberi petuah kepada sepupu ku Lia yang kuliah juga di kota namun memang sedikit berani dalam hal pamer kemesraan dengan pacarnya di medsos.
Lilik muncul dari balik pintu dan melihat ke arah ku.
"Semoga kamu bahagia ya Ran,..... aku ga nyangka malah kamu duluan yang menikah. "
__ADS_1
"Aamiinmmmmm..... ya ga apa-apa setidaknya ketika kamu menikah aku tidak bakal dibully oleh kalian karena masih sendiri dan ujung-ujungnya kalian jodohkan dengan kak Fhey hehehe..."