
Keesokan hari nya sesuai janji pada Mak e aku mengambil paket buah kiriman Mak e di terminal. Dan ternyata betul paket yang Mak e kirimkan lumayan banyak ada 7 peti buah dan sudah ditulisi oleh Mak e. Aku pun terpaksa mencari angkot yang bisa ku sewa untuk mengantar buah ini. Ku putuskan terlebih dahulu untuk kekostan memberikan paket ini untuk ibu kost ku dan bagian ku yang akan dibagi kepada teman-teman ku. Baru setelah itu aku ke Toko Pak Agam.
Setelah 30 menit aku akhirnya tiba di toko Pak Agam. Terlihat disana Tuti yang dulu sempat ku ajarkan cara mengoperasikan mesin fotokopi dan cara men jilid, memotong kertas menggunakan mesin otomatis. Serta mengajarinya cara menerima jika ada yang mau order cetak. Ternyata toko cukup sepi mengingat ini jam makan siang. Dan terlihat pak Agam yang duduk di meja kasir sambil fokus dengan sebuah buku.
"Assalamualaikum" sapa ku dengan suara sedikit kuat dari arah depan pintu toko
"Walaikumsalam...." jawab pak Agam dan Tuti hampir bersamaan
"Ya ampun, mbak Ranaaa.... apa kabarnya?" sapa Tuti antusias melihat ku.
"Alhamdulilah sehat, Tut tolong bantu aku dong." pinta ku pada Tuti".
"Apa itu mbak?" tanya Tuti penasaran. Dan pak Agam terlihat berjalan mengikuti Tuti keluar toko.
"Apa itu Ran?" tanya pak Agam.
"Oh, ini ada kiriman dari Mak E untuk bapak sekeluarga. Saya baru saja ambil dari terminal pak" jawab ku seraya membayar uang sewa mobil. Aku ingin mengobrol sebentar dengan pak Agam. Sudah lama tidak bertemu apalagi pak Agam adalah orang yang sudah membantu ku selama kurang lebih hampir 7 tahun aku bekerja setengah hari di tokonya. Dan penghasilan dari bekerja tersebut aku gunakan untuk keperluan ku kuliah. Mengingat Mak e hanya mencari nafkah sendiri ditemani mas Hardi yang juga sudah berkeluarga tentu memiliki tanggungjawab pada keluarganya.
"Duduk sini Ran, sudah selesai KKN nya?" tanya pak Agam sambil menyodorkan segelas air mineral padaku.
__ADS_1
"Terima kasih pak. Alhamdulilah lancar pak. dan ini juga lagi mau mengajukan judul skripsi pak mudah-mudahan tahu ini atau awal tahun depan bisa wisudah pak. Mohon doakan ya pak". pintaku pada pak Agam
"Owh tentu, bapak selalu mendoakan untuk kesuksesan mu. Almarhum bapak mu itu pasti bangga anaknya bisa mewujudkan keinginannya Ran, sayang sekali Hardi tidak mau meneruskan dulu untuk kuliah. Padahal kakak mu itu sama pintarnya dengan dirimu" jelas pak Agam
"Ya mungkin karena mikirin saya pak jadi mengalah, dan sekarang malah bersyukur beliau menikah dan istrinya alhamdulilah betul-betul baik hati Sholehah juga pak". Jelasku tentang kondisi mas Hardi sekarang
"Alhamdulillah kalau begitu berarti ibu setidaknya tinggal berharap kalau kamu selesai kuliah bisa dapat jodoh yang juga baik serta Sholeh".
"Aamiin".
"Sayang bapak tidak ada anak laki-lali kalau ada sudah pasti bapak jodohkan sama kamu Ran hahahaha" pak Agam pun tertawa sambil memegangi perutnya yang sekarang terlihat memang sedikit membesar.
"Ah Bapak, saya sudah ditolong bapak bertahun-tahun sudah merasa senang sekali pak Ndak mau berharap lebih. Tapi saya ga bakal lupa sama bapak sekeluarga karena jasa bapak setidaknya perjalanan saya menempuh pendidikan dipermudah" ucap ku berterima kasih atas kebaikan pak Agam pada ku.
"Bapak masukan ke mobil dulu oleh-oleh ibu mu. Sampaikan terima kasih ya Ran. Dan kamu Tut tunggu toko yang benar bapak mau ambil makan siang sambil jemput Ibu. Nanti pulang mampir kerumah nanti bapak mau kasih buat kamu olah-oleh Rana ini. Bapak ada pengajian siang ini. Maaf ya Rana bapak tinggal ini ibu sudah WA kamu tahu sendiri ibu kalau terlambat bapak jemput. Bakal konser tunggal ibu selama di mobil hehehe" Pak Agam berkata pada Tuti dan berpamitan kepada ku. Aku paham betul dengan istri pak Agam itu karena cukup lama aku bekerja di toko ini.
"Baik pak"
"Mbak Rana, kemarin ada yang nyariin mbak. Pemuda ganteng, keren, tanya mbak Rana" Sela Tuti ketika pak Agam memindahkan kotak tadi kedalam mobil nya.
__ADS_1
"Siapa Tut?" tanya ku penasaran. Apa mungkin mas Tama.
"Ga tahu mbak. Dia ga ninggalin pesan atau nama. Orangnya Hitam tapi manis, ganteng juga keren. Pakai mobil Silver kemarin mbak" jawab Tuti sambil memegang pelipisnya
"Dia nanya apa memangnya Tut?" tanya ku kembali seperti ya bukan mas Tama. Karena setahu ku Pak Kades punya dua mobil yang semuanya berwarna hitam. Dan mas Tama tentu berkepala plontos.
"Nanya mbak Rana ada? ku bilang mbak Rana sudah ga kerja lagi karena sekarang KKN tapi untuk seterusnya ga kerja disini lagi. Terus orangnya langsung pergi mbak" jawab Tuti kembali sambil berjalan ke arah orang yang sepertinya mau memfotokopi.
"Tut, mbak pamit ya mau ke kampus bentar lagi Takut ga dapat angkot pamit ku pada Tuti".
"Oh iya mbak. Hati-hati ya mbak dan sering-sering kesini ya mbak. Kan kapan-kapan bisa Tuti traktir. Mbak Rana yang banyak ngajarin saya eh mbak Rana belum nyicip gaji pertama saya kemarin." pintanya pada ku.
"Iya, insyaallah. Ditabung, Kalau ada peluang kuliah yang Sabtu Minggu ambil Tut. Pendidikan juga penting jangan mudah menyerah dengan kondisi ya." Ucapku sambil cipika dan cipiki dengan Tuti.
Selama dalam perjalanan menuju Kampus aku penasaran siapa yang dimaksud Tuti. Mas Tama atau Mas Ardi. Dan ada tujuan apa?
"Wis kebacut ambyar, ambyar koyo ngene
Manise janjimu jebule mung ono lambe"
__ADS_1
Tiba-tiba handphone ku berdering dan nada ini khusus ku sematkan untuk Mas Tama. Dan kulihat beberapa ibu-ibu dan mas-mas yang duduk didalam angkot tersenyum simpul menatap ke arah ku.
"Oh tuhan. Mengapa orang-orang ini menatap ku. Apa karena nada dering ini." Aku bergumam didalam hati seraya mencari handphone didalam tas ku.