Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 44 PERANG BATIN


__ADS_3

"Kamu... kamu kenapa Ran.., kamu masuk angin?


Muntahkan saja..." Mas Tama membuka sebuah pintu disudut ruangan ini seperti nya kamar mandi.


Tanpa berpikir aku cepat berlari kearah pintu yang sudah dibuka mas Tama dan aku pun langsung memuntahkan isi perut ku namun nihil tidak ada yang keluar akan tetapi rasa mual yang kurasakan makin jadi. Dan mas Tama tanpa kuminta memijat perlahan Tengkuk ku dengan minyak kayu putih.


Beberapa menit aku mencoba memuntahkan semua isi perut ku karena diakibatkan rasa mual namun masih hanya cairan bening yang keluar. Seketika aku merasa mual hampir terduduk di sambil berpegang di westafel kamar mandi.


Mas Tama dengan cepat memegang pinggang ku dan dengan sigap menggendong ku Kembali ke kamar dan meletakan aku dengan lembut diatas ranjang serta dengan cepat dia membuka satu kancing baju kebaya ku dan melumuri minyak kayu putih di leher dan bagian dada ku. Setelah tersadar dengan tindakan tangannya karena panik mas Tama reflek menarik nya. Aku pun dengan kaget merapatkan baju yang kancingnya dibuka secara mendadak oleh mas Tama.


"Maaf Ran.... maaf.... mas cuma panik. Mas panggilkan ibu ya" Ucap nya sambil mengalihkan pandangan nya kearah tembok.


"Ndak usah mas, mungkin asam lambungnya kumat ini sudah jam satu lewat. Kayaknya di cover Rana Bawa obat asam lambungnya"


"Ya sudah biar mas ambilkan. trus mas ambilkan air hangat ya biar enakan perutnya"


Aku hanya mengangguk pelan karena tubuh ku betul-betul lemas seketika disebabkan muntah cairan bening.


Tidak lama mas Tama kembali dengan nampan yang berisi air hangat dan satu piring nasi. Diikuti ibu yang terlihat panik.


"Kamu ga apa-apa kan Rana? Ibu panggilkan dokter saja ya?" Kini buk Tatik sudah duduk di sebelah ku dan memeriksa kening ku dan mengelus-elus tangan ku.

__ADS_1


"Ndak papa buk... asam lambung nya kumat mungkin"


"Ya sudah ga usah keluar lagi. Dikamar saja ya.... biar ibu yang Nerima tamu. Tama kamu tungguin Rana saja ya. Nanti kalau ada tamu kamu baru ibu panggil kan ya"


"Ya bu" jawab mas Tama yang sekarang mengikuti ibu dan mengunci pintu.


"Makan dulu Ran, lagi dibuat kan bubur sama buk le Cahya nanti sekarang makan dulu sedikit buat ganjal perut" Mas Tama menyerahkan satu piring nasi dengan satu iris tempe bacem serta telur goreng setengah matang.


"Baru ada ini menu nya takut kalau yang lain ada bumbu mericanya takut asam lambung kamu tambah parah"


"Aku mengambil piring dari tangan mas Tama"


"mas Tama ga makan?" tanya ku karena dia pun belum makan siang sampai detik ini.


"Sini makan dulu walau sedikit, ini sudah lewat jam makan siang mas. Rana ga habis dengan porsi segini, kita sepiring berdua ya?"


Mas Tama duduk kembali dan menghadap ku. Aku pun menyendok kan nasi dan tempe bacem dan kusodorkan kan kearah mas Tama. Mas Tama masih terpaku seolah heran dengan tindakan ku. Beberapa detik kemudian mas Tama membukakan mulutnya serta mengunyah sesuap nasi yang telah mendarat dengan lembut di mulutnya.


Suara musik campur sari di luar terdengar begitu jelas dan keras namun tidak di ruangan ini. Aku menghabiskan satu piring nasi yang dibawakan mas Tama dengan menyuapkan isinya bergantian kepada mas Tama dan mulut ku. Suasana seolah teras begitu hening dengan kekikukan kami berdua dengan adegan makan satu piring berdua.


"Terima kasih Ran, kamu tahu perhatian yang kecil seperi ini yang mas nanti-nanti seminggu ini dan hari ini kamu memberikan nya. Mas seperti orang yang sedang berbuka puasa dibulan Ramadhan hehe..." Mas Tama terlihat bahagia. Kebahagiaan nya terpancar jelas dari mata dan wajah nya.

__ADS_1


"Kamu mau ganti baju dulu apa mas?" tanya nya kembali


"Mas saja dulu"


Terlihat mas Tama membuka lemari dan mengeluarkan beberapa celana dasar berwarna hitam dan kemeja berwarna navy. Lalu mas Tama membuka cover merah maroon terdapat baju ganti ku. dia mengambil gamis berwarna yang senada dengan kemeja nya dan dan jilbab yang berwarna silver serta yang membuat ku membulatkan bola mata ku Mas Tama mengambil underwear lengkap yang aku simpan di bagian tas paling kecil di depan cover.


"Mas..... biar Rana siapin sendiri" ucapku malu setelah mas Tama meletakan baju ganti ku di nakas sebelah ranjang kami.


"Kamu masih lemah. muka mu terlihat pucat Ran, kalau mau mandi di kamar mandi ada shower yang bisa langsung air hangat. tapi maaf kamar mandi nya tidak ada Bathtub room seperti di drama Korea, karena suami mu bukan CEO hehe...." mas Tama berlalu dan menghilang dibalik pintu kamar mandi dan tidak lama terdengar suara gemercik air.


Untuk kelas orang seperti aku , Aku merasa beruntung dan bahagia, mengingat aku hanyalah orang dari desa dan memiliki keluarga yang berjuang untuk hidup serta kuliah dari hasil berkebun yang hanya memiliki beberapa hektar mendapatkan suami seperti kamu, mertua seperti buk kades dan sekarang rumah mu bahkan jauh lebih nyaman dari rumah ku. Dimana terdapat pendingin ruangan di setiap ruangan dan kamar tidur pun dilengkapi kamar mandi.


Tak lama mas Tama sudah muncul dengan pakaian lengkapnya. dan menyisir rambut serta memakai parfum beraroma citrus yang segar.


"Mas keluar ya. kalau ada apa-apa telpon saja handphone nya mas buat mode getar"


Aku mengangguk an kepala dan berdiri untuk membersihkan diri serta mengganti pakaian ganti adat Jawa yang ku kenakan kini membuat aku sedikit susah berdiri. Mas Tama membatu ku berdiri.


"Mas mencintai mu Ran..... Jangan terlalu segan pada mas. Mas suami mu tunjukan sisi kemanjaan mu. Jangan malu apalagi meminta bantuan pada mas walau mas tahu kamu belum sepenuh hati menerima mas dihati kamu" Mas Tama kini berdiri dihadapan ku dan memegang kedua pundak ku serta mengecup kening ku cukup lama lalu keluar dari kamar meninggal kan aku sendiri.


Aku Kembali terduduk dan kini aku menggenggam erat pakai ganti yang sudah disiapkan mas Tama tadi dan aku merasa sesak di dada dan rasa ingin menangis.

__ADS_1


"Ayolah Rana.... buka hati kamu.... buang jauh ego mu.... dia laki-laki yang baik dan sedang menanti kamu....hikhik....hik.... haruskah kamu terus menjaga jarak dengan status mu saat ini....." batin ku seolah sedang berperang dengan logika dan ego ku Seketika aku menutup kedua wajah ku dengan baju dan jilbab yang tadi ku genggam erat.


__ADS_2