
Siang ini Aku dan Buk kades bertemu setelah aku menyelesaikan interview di sekolah swasta tadi aku ditelpon oleh buk kades dan dijemput di sekolah swasta tadi dan sekarang kami berada di salah satu saung Ikan bakar disalah satu pinggiran kota yang khas dengan pemandangan Padi serta keindahan alam nya.
Kami duduk di satu Gasebo yang terdapat ditengah-tengah sawah. Terlihat dari arah kolam ikan Dwi dan Mas Tama kembali ke Gasebo ini.
"Sudah dipesan Bu, sebentar lagi diantar. Dwi pesan menu double jumbo Bu...."
"Ibu sudah janji padanya kalau dia bisa menghafalkan separuh dari Juz Amma maka ibu akan menuruti satu Minggu permintaannya untuk menu favoritnya Tam,"
"Wow amazing baru sebentar ditinggal mas kamu sudah makin pintar... apa kamu mau menyaingi mas mu ini si gendut? hehehe..."
"Lihat saja ketika aku sudah dewasa seperti kakak maka bisa kupastikan tubuh ku ini akan lebih atletis dibanding mas, dan aku akan lebih pandai memikat gadis-gadis dengan ketampanan ku mas. tidak seperti mas Tama banyak yang ngincer, sekali ketemu yang cantik eh... ditinggal rabi...."
"Dwi! tidak sopan, hayo minta maaf sama mas Tama. Bunda tidak pernah mengajarkan hal seperti itu sama Dwi. Bercanda boleh tapi Ndak boleh kelewatan." Nada bicara buk kades sedikit meninggi tapi tidak terdengar seperti membentak dan tatapannya pun masih sangat lembut pada Dwi.
Dalam kondisi marah kepada anaknya pun buk kades masih dengan mode lembut begini. Aku tidak habis pikir bagaimana ada wanita bisa seperti ini, Mak e sendiri saja yang menurut ku wanita paling lembut dalam hidup ku akan menaikan oktaf suaranya dengan mata yang mendelik atau sebuah cubitan meluncur dipinggang ku ketika aku berbuat hal yang tidak sopan atau salah.
karena prinsip make sopan santun itu hal paling dasar dan utama yang harus ditanamkan pada anak-anaknya karena kalau sudah dewasa akan sulit menanamkan nya.
"Iya bunda... maaf mas Tama"
"Iya mas minta maaf juga suka panggil kamu gendut. Ternyata kemarin mas ikut seminar hindari bully pada anak di dunia pendidikan mas baru tahun bahwa kata Gendut yang mas sering arahkan kepada adik mas terchubby ini ternyata adalah salah satu tindakan bully. Mas malah mengulangi lagi tadi hehehe.." jelas Tama dengan tersenyum kepada Dwi.
Mas Tama memang terlihat tampan sekarang berbeda dengan penampilan nya pada saat pertama kami bertemu di waktu KKN. saat itu ia berkepala plontos dengan muka yang sedikit gosong serta kulitnya yang tampak sangat hitam. Namun sekarang rambutnya yang dengan gaya soft side parting terlihat macho. Hidung nya yang seperti orang Arab diikuti alisnya yang hitam tebal membuat ia bertambah tampan dan manis. Lesung pipi di kedua pipi nya menambah nilai plus ketika pria itu tersenyum.
Dengan semua perubahan pada mas Tama aku masih belum merasakan bahwa aku menyukai nya sebagai seorang perempuan hanya ada rasa nyaman berada didekatnya dan kagum.
"Bagaimana interview nya tadi Ran?" mas Tama bertanya kepada ku.
"Alhamdulilah berjalan lancar hanya saja pengumumannya masih satu Minggu lagi nanti dihubungi vya email"
"Alhamdulillah, semoga keterima ya di sana."
"Aamiin."
"kamu tidak berniat pulang kampung Ran?" buk kades bertanya kepada ku dengan menatap wajah ku teduh.
__ADS_1
"Belum Bu. Saya mau cari pengalaman dulu dikota. Khawatir kalau pulang kampung nanti menikah. Karena rata-rata begitu kita perempuan kalau sudah pulang kampung malah yang ada dilamar orang".
"Berarti kamu pun belum ada niat untuk menerima niat ibu sekeluarga untuk melamar kamu Ran?"
"Bu... kita makan dulu... ini makanan nya sudah datang Ndak enak kalau sudah dingin ngobrol ya bisa nanti kan?" Mas Tama memotong pertanyaan buk kades sebelum aku menjawabnya.
Hhh... rasanya aku bernapas lega karena mas Tama bisa mengalihkan pembicaraan untuk sesaat ini. Aku memang bingung dengan perasaan ku ini akan tetapi aku tidak ingin menikah dulu.
Kami menikmati suasana makan siang dengan mengobrol berbagai topik, topik tentang pak kades terpilih lagi menjadi kades serta suasana di desa saat ini. tentang kehidupan mas Tama dan kehidupan ku.
Tibalah disaat semua santapan menu yang kami santap telah habis buk kades terlihat menaikan alisnya seraya melirik Tama dan kembali diarahkan lirikan mata diikuti alis yang terangkat mengarah kepada ku seolah memberi kode Mas Tama entah apa itu.
"Ran, ibu bayar tagihannya dulu sekalian mau pesan buat Bapak dirumah ya ayo Dwi katanya kamu ingin pilih menu juga" Ajak buk kades dengan Dwi yang terlihat berkeringat dan sibuk dengan layar ponselnya.
"Iya bunda tapi aku ingin lobster nya yang masih hidup biar bisa dianggap ayah pakai menu spesial ayah"
"Oke, ibu tinggal dulu Yan Ran... Tam..."
Setelah buk kades dan Dwi meninggalkan Gasebo ini menuju arah kasir yang berada cukup jauh dari Gasebo ini.
"Hem...ehem.... Ran, seperti yang aku katakan padamu satu bulan yang lalu sudah kah bisa aku mendapat kan kepastian mau dibawa kemana hubungan kita ini. Usia ku sudah matang untuk berumah tangga Ran. Apapun jawaban mu insyaallah aku menghargai".
Aku menarik napas panjang usai mengungkapkan isi hati ku pada mas Tama, Dan kuberanikan menatap wajah tampan mas Tama. Ada Keteduhan, kenyamanan memang menatap wajah pria ini tetapi itu saja tidak cukup bagi ku untuk menikah dengan dia. Aku tidak ingin saling menyakiti ketika menikah dengan Rasa cinta yang besar mas Tama pada ku dengan ku balas sekedar rasa kagum itu adalah prinsip ku dan keputusan ku.
"Hem.... baiklah Ran terima kasih untuk waktu yang kamu berikan. Mas senang bisa berkenalan dengan kamu. Ibu juga sering berpesan sekuat apapun kita memperjuangkan apa yang kita inginkan jika Allah tidak berkehendak maka apalah daya kita hanya hamba nya. Maaf jika selama perkenalan kita mas Tama ada salah kata atau sikap mas yang tidak nyaman dihati Rana dan keluarga. Mas menerima apapun keputusan mu Ran, mas juga tidak ingin jika menjalin hubungan pacaran. Dan jika menunggu terlalu lama mas tidak bisa mengingat usia"
"Semoga mas menemukan Yang bisa mencintai mas untuk diajak mengarungi bahtera rumah tangga bersama"
Buk kades tampak berjalan kearah kami dengan beberapa plastik dan meminta Tama membawanya.
"Hayo tam kita pulang kalian sudah selesai?" buk kades bertanya kepada mas Tama seolah beliau pergi tadi memang memberikan kami waktu untuk mendengar keputusan ku.
"Sudah bu....Hayo Ran kuantar pulang" Tama masih dengan mode lembutnya kepadaku. Tak ada gurat marah dari pancaran wajahnya dan masih keteduhan dan kesabaran kulihat di balik tampan nya wajah dari mas Tama.
"Ah... maafkan aku mas. Andai ada sedikit saja rasa debar-debar dihatiku maka aku menerima mu. Namun hati ini telah hilang separuh dan tidak bergetar ketika berada di dekatmu". gumam ku dalam hati sambil melangkah mengikuti Dwi dan mas Tama yang berjalan mendahului aku dan buk kades
__ADS_1
"Apapun keputusan kamu ibu tidak akan marah Ran walau memang kecewa karena menurut ibu kamu wanita yang baik dan cocok untuk mendampingi anak ibu" Buk kades seolah tahu apa yang aku katakan kepada sulungnya berkata sambil menggenggam tangan kiri ku yang berada disebelah buk kades lalu kami berjalan bersama.
"Terima kasih Bu, Kadang baik menurut kita belum tentu baik menurut Gusti Allah Bu" ucap ku menunduk menatap langkah kaki ku ke arah parkiran.
Dan seolah hati pengemudi mobil ini merasakan luka sepanjang perjalanan kami suara Khas Ariel Noah menggema dengan lagunya yang terdalam.
Buk kades seolah mengerti tentang makna lagu yang sedang mengalun melow tidak seperti biasanya beliau hanya diam menatap kearah luar mobil dan sesekali mengingatkan Dwi yang bermain ponsel.
Kulepas semua yang kuinginkan
Tak akan kuulangi
Maafkan jika kau kusayangi
Dan bila ku menanti
Pernahkah engkau coba mengerti?
Lihatlah ku di sini
Mungkinkah jika aku bermimpi?
Salahkah 'tuk menanti?
Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat kau tak kembali
'Kan kukenang di hati saja
Kau telah tinggalkan
Hati yang terdalam
__ADS_1
Hingga tiada cinta
Yang tersisa di jiwa