
Tiba-tiba ada rasa sakit hati yang telah cukup lama terkubur kini seolah menganga di dalam hati ku. Wanita yang dulu merebut cinta pertama dan pacar ku yang selama 5 tahun kami berhubungan kini berada dihadapan ku untuk pertama kali nya setelah saat itu dengan sengaja dia menambahkan aku melalui akun medsos nya dengan menunjukan kemesraan di foto profilnya.
Mas Tama menggenggam tangan ku karena melihat aku tertegun menatap wanita berambut coklat yang berada di samping ku. Aku tersadar bahwa aku yang baru saja mengingat masalalu. Sedangkan kini aku berada di kenyataan dimana Tuhan memberikan ganti lelaki yang direbut oleh Melinda lebih baik bahkan sangat jauh lebih baik dari mas Ardi.
Hampir satu tahun aku menikah dengan mas Tama dia tidak berubah, masih lemah lembut, sabar, bijaksana dan selalu membuat aku berkali-kali jatuh cinta pada nya. Entah karena hubungan kami dulu berakhir tanpa bertemu satu sama lain atau apa hingga aku bisa merasa sakit saat mengingat mas Ardi. Aku mencoba tenang dan Kembali menatap kasir yang di depan ku.
"Ran...." Malinda memanggil ku dengan suara yang terdengar lirih dan manja. Entah kenapa aku jijik dan bulu kuduk ku merinding. Seolah dia memanggil sahabat nya saja. padahal ketika satu SMA dulu dia selalu acuh kepada siapa saja yang tidak selevel dengan nya.
Aku menoleh ke arahnya namun tetap memasang wajah santai.
"Bisa minta tolong?" tanya nya sedikit memajukan wajahnya ke arah ku.
"Bantu apa?" tanya ku singkat dan masih menatap nya.
__ADS_1
"Begini kartu kredit ku terblokir dan aku lupa bawa uang dan kartu debit. Aku akan meminta mas Ardi mentransfer ke rekening mu nanti"
Aku merasakan bahwa wanita didepan ku ini betul-betul tidak punya harga diri. Bagaimana bisa dia meminta bantuan ku sedang dulu dia dengan santai dan tanpa dosa merebut pacar ku yang jelas dia tahu kami sudah lama berpacaran. Ah... aku tidak mau mengingat masalalu namun melihat wanita ini mau tidak mau aku merasakan rasa sakit yang lama tidak aku rasakan dan aku ingat.
Aku menatap mas Tama dan terlihat mas Tama menatap ku.
"Terserah kamu sayang, kartu itu mas hanya bantu simpan dan bertugas mengisi nya untuk tugas menghabiskan nya itu tugas kamu sayang...." Mas Tama mengecup tangan ku. Aku sedikit aneh karena yang aku tahu mas Tama bukan tipe suami yang suka tebar kemesraan didepan umum. Dan saat ini dia dengan santainya memamerkan kemesraan dihadapan kasir dan Melinda.
"Ya sudah mbak, sekalian biaya mbak Melinda nya ya mbak" ucap ku pada sang kasir.
"Baik mbak"
Melinda menatap ku intens terlihat dari pantulan kaca yang berada dihadapan kami serta lirikan matanya ke arah mas Tama. Semoga kali ini dia tidak kembali merebut milik ku. Maka jika itu terjadi aku tidak akan sebodoh dulu dan selemah dulu. Mundur dengan sabar, mengikhlaskan apa yang kita miliki dalam waktu cukup lama.
__ADS_1
"Ehm...ehm..." aku bermaksud menyadarkan lirikan mata Melinda ke arah suami ku.
"Oh iya Ran... aku minta no rekening dan kontak mu atau suami kamu biar nanti aku transfer" Melinda tampak sedikit kikuk karena merasa aku mendapati lirikan matanya ke arah mas Tama.
"Tidak perlu, anggap saja ini hadiah dari ku
Ucapan terima kasih ku pada mu karena seandainya kamu tidak hadir di masalalu mungkin saat ini aku tidak akan menjadi seorang wanita yang beruntung dan sebahagia ini karena menikah dengan suami ku. Lelaki yang pandai merawat cinta, setia, tidak banyak menuntut serta mencintai dengan segala kekurangan ku bukan hanya kelebihan ku bahkan membuat aku menjadi sempurna karena dia menyempurnakan kekurangan ku itu. Dan suami begitu sempurna buat aku yang tidak sempurna ini" Aku mengambil kartu debit mas Tama dan berdiri sengaja ku genggam tangan mas Tama dan berjalan ke arah pintu keluar.
Ya saat aku kehilangan mas Ardi aku memang tidak sempurna dalam segi penampilan, dan kecantikan, aku tidak pernah melakukan perawatan jangan kan untuk perawatan ke salon atau spa seperti saat ini untuk membeli kosmetik atau scincare aku tidak tertarik karena uang yang ada hanya aku fokuskan untuk biaya kuliah dan hidup selama dikota. Aku sadar Mak e dan mas Hardi bukan orang beruang untuk aku membuang uang untuk hal yang bukan tujuan utama hidup ku. Tapi kini mas Tama menerima aku dengan apa adanya. Bahkan kini aku terlihat berbeda karena sering kesalon bahkan beberapa perawatan kulit dan wajah di bufet rias ku terlihat lengkap karena mertua ku selalu membelikan ku itu.
Mas Tama seolah mengerti apa yang aku maksud memindahkan tangannya ke pinggang ku dan merapatkannya. Kulihat dari kaca lobby bagaimana raut wajah wanita yang terlihat cantik, seksi itu menunjukkan wajah kesal nya entah karena perkataan ku atau sikap mas Tama yang memeluk ku intens dihadapan nya.
"Jangan harap kamu bisa merebut milik ku lagi dengan bermodal kecantikan dan keseksian mu itu. Kali ini aku pastikan aku tidak akan patah hati untuk kedua kalinya" batin ku seraya berjalan keluar dari lobby spa itu
__ADS_1