Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 68 IBU MANTAN PACAR


__ADS_3

Mak e terbaring ruangan ICU (Intensive Care Unit). Mak e tergolek dalam keadaan tidak sadarkan diri di sebuah tempat tidur dan banyak nya alat medis yang tertempel pada tubuhnya, mulai dari ventilator, selang makan, dan kabal yang menghubungkan ke Patient Monitor, Serta jarum dipunggung tangannya yang menghubungkan ke selang infus.


Mak e sudah tiga hari terbaring di ruangan ini dalam kondisi tidak sadarkan diri. Benturan keras dikepala nya membuat Mak e mengalami TBI atau Cedera Otak Traumatis. Belum lagi tekanan darah Mak e yang tinggi serta Kolesterol Mak e yang cukup tinggi di khawatirkan dokter Mak e mengalami stroke. Namun dokter belum berani menyimpulkan lebih karena Mak e masih koma.


Aku bergantian menunggu Mak e dengan mas Hardi. Mas Hardi sendiri mengantar Mak e kekota karena mbak Imah harus tinggal dirumah untuk merawat ibunya yang juga sudah sepuh dan hanya tergeletak di tempat tidur. Karena usia nya yang hampir 90 tahun.


Seperti saat ini aku menunggu Mak e di luar ruang ICU dengan mas Tama. Mas Hardi kami suruh pulang karena sedari semalam mas Hardi menunggu Mak e.

__ADS_1


Setahu ku Mak e hanya punya asam lambung dan riwayat asma tidak pernah ada gejala kolesterol dan darah tinggi. Tapi hari ini dokter mendiagnosa bahwa Mak e terkena serangan jantung akibat tekanan darah dan kolesterol nya.


Ternyata menurut keterangan mas Hardi setelah asam lambung Mak e membaik, Mak e kembali menyantap makanan favorit Mak e yaitu semua makanan yang mengandung santan dan kue-kue yang kental rasa manis. Belum lagi Mak e tidak lagi keladang karena lebih sering menghabiskan waktu ke pengajian-pengajian atau dirumah sekedar berkebun sayur untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga aktifitas fisik tidak sepeti dulu ketika aku kuliah, Mak e bisa satu hari penuh beraktifitas. Dari menyadap karet, lalu ke sawah hingga sore.


Tiba-tiba beberapa dokter dan perawat terlihat mengerubungi bangsal Mak e. Lalu seorang dokter lelaki yang berkacamata keluar dan menemui kami.


"Mas ke ruangan adminstrasi dulu ya Ran. Mas minta ruangan VIP untuk Mak e. Kamu tunggu Mak e disini" Mas Tama berjalan ke arah lift yang ada diujung. Dan aku masih menatap Mae lewat kaca yang menjadi batas antara pasien dan keluarga yang menunggu.

__ADS_1


Tiba-tiba datang dari arah lift dua orang wanita dan terdengar suara 2 orang wanita itu menangis di sebelah ku. Seorang perempuan yang lebih tua dari ku dan seorang ibu-ibu yang kurang lebih seumuran dengan Mak e. Namun ketika aku melihat kesamping betapa kagetnya aku karena wanita paruh baya yang sedang menangis tersedu-sedu itu adalah ibunya mas Ardi dan mbak Lena, kakak perempuan nya mas Ardi.


Beberapa detik mereka menatap ku seolah mengingat sesuatu. Aku berjalan mendekati mereka dan bertanya siapa yang sedang mereka tangisi di ruang ICU ini.


"Ibu....mbak Lena" Aku meraih tangan ibu nya mas Ardi dan ku cium seperti biasa ku lakukan dulu ketika kerumah nya atau akan pamit pulang.


Ibunya mas Ardi terpaku menatap ku bingung dengan mata yang sembab. Namun mbak Lena mengingat aku. Mungkin karena penampilan ku yang sekarang berhijab dan juga aku yang sekarang terbiasa mengenakan make up walau tidak terlalu tebal membuat ibu mantan pacar ku itu pangling atau tidak mengenali aku.

__ADS_1


"Rana.,. kamu Kirana?" Suara mbak Lena serak dan menggenggam tangan ku yang sengaja ku ulurkan untuk menyalami nya.


__ADS_2