Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 8 MASIH PERAWAN


__ADS_3

Rudi: "akhirnya kita bisa pulang juga ke rumah tercinta kita beberapa hari lagi"


Lilik :"Dan gimana dengan si hitam manis kemarin Ran udah tukeran nomor wa belum?"


Kirana :"ga penting yang penting cepet pulang cepet ngurus skripsi, dan wisuda karena mamak ku di kampung kasihan kalau harus menambah satu semester lagi. pokok nya akhir tahun ini kita harus pakek toga bareng-bareng"


Tyo :"ya yang punya otak tokcer enak bisa buat prediksi sesuka hati, lah kita?"


Lilik :"kita? woy siapa kita? Lo aja yang ga ada otak kita di sini semua punya"


Tyo:"wanita tersadis di grub ini"


kak Fhey : "gampang Yo yang penting ada kemauan dan uang hahaha"


Kirana :"oke deh udah dulu ya ini mau prepare nanti malam mau pamitan sama anak-anak karang taruna"


Lilik :"karang taruna apa kakang Tama? uhuy hilang hitam kecut ketemu hitam manis aw wadidaw.... kabuuurrr"


Kirana:"daripada putih-putih bikin hati teriris ya mending hitam-hitam bikin hati tentram"


Aku langsung menyimpan handphone kedalam tas untuk bersiap melihat Snack untuk acara perpisahan dengan anak-anak karang taruna nanti ba'da magrib di balai desa.


Ba'da Isya


"Baiklah teman-teman demikian acara kita pada malam hari ini, apabila ada tutur kata saya yang kurang pantas atau menyakiti hati teman-teman semua saya selaku pembawa acara mohon maaf dan saya akhiri wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh" ucap ku menutup acara perpisahan dengan teman-teman karang taruna pada malam hari ini.


Kami membersihkan ruang balai desa dan merapikan kursi yang kami pakai seperti sediakala


"RAN nanti pulang kamu bisa sama mas Tama ga ya? soalnya aku sama yang lain mau ke rumah wasit untuk pertandingan sepak bola dan volly besok" ucab Broto padaku ketika aku akan menutup pintu balai desa.


"Loh Rina dan yang lainnya?"


"Wah mereka sudah duluan sekalian mengembalikan gelas dan ceret ke rumah pak Ujang tadi" jawab Broto yang sudah duduk diatas motornya


Kulihat mas Tama sudah mau menghidupkan motornya tetapi terlihat masih menunggu jawaban ku atas perkataan Broto pertama tadi untuk pulang bersamanya.


"Tapi To mau mas Tama bilang mau kerumah mbokde nya dulu, biar aku telpon Rina biar Zahra jemput aku lagi"


"Gaa papa kok mbak Rana biar besok saja kerumah mbokde lah wong kebetulan hari juga kayaknya mau hujan" mas Tama langsung memberikan penjelasan tanpa kuminta


"Maaf ya mas ngerepotin, soalnya takut ga sempat waktunya, besok pagi biasanya pak Hardi ke ladang untuk menyadap karet jadi biar clear buat besok karena waktu kami tinggal 2 hari lagi disini" jelas Broto seraya menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan kami berdua di depan balai desa


"Ayo mbak Rana takut hujan ini udah rintik rintik"


"Owh iya mas, maaf jadi ngerepotin mas Tama"


" Ndak papa kok mbak, lah wong rumah nya sebelahan juga, lagian didesa ga kayak dikota tinggal pakai grab atau gojek bisa. jam segini kalau sudah terdengar suara guntur dan kilat biasa nya sudah susah cari tumpangan motor yang lewat" jelas mas Tama yang sudah menghidupkan motornya dan menghadap ke arah pintu gerbang balai desa.


"Oke terima kasih mas," aku naik ke motor matic mas Tama yang biasa dipakai oleh buk kades ke pengajian-pengajian. terkadang aku sering dibonceng buk kades karena aku tidak bisa mengendarai motor serta beberapa teman ku yang malas ikut acara pengajian ibu-ibu karena alasan tidak bisa membaca Qur'an dan akulah yang jadi tumbal mereka dengan alasan aku yang paling bisa humble dimana pun berada.


"Wah.... gimana ini mbak hujan, deras lagi. kita menepi dulu ya mbak?"


"Iya ga papa mas"


"Aduh.... masih lumayan jauh, mudah-mudahan cepet reda hujan nya"


"Harusnya tadi berhenti di rumah mbak bela saja mas, disini malah gimana gitu kalau ada yang lihat."


Aku melipatkan tangan ke dada dan mengusap kedua lengan ku. dan merasa khawatir karena ini setahu ku rumah kosong yang lama ditinggal penghuni nya yang bercerai memang terdapat terasnya tetapi posisi rumah yang sedikit masuk kedalam tidak ada cahaya lampu membuat aku sedikit takut jika mas Tama khilaf bagaimanapun dia pria dewasa dan normal.


"Hujan deras begini mana ada yang akan lewat mbak, atau mbak nya mikir macam-macam tentang aku ya?


'"Hah? ga kok mas ga penak saja soalnya kita cuma berdua lagian ini tempatnya dari pinggir jalan ga kelihatan takut ada yang lihat timbul fitnah"


"Udah mbak ga apa-apa bentar kalau hujan nya reda kita akan pulang. aduh batere handphone saya lowbat ni mbak"


"Saya ga berani hidupkan handphone saat hujan gini mas, takut disambar petir"


"Sudah saya hidupkan motor aja biar ada cahayanya"


25 menit kemudian

__ADS_1


"Waduh gimana ni hujan nya tambah deras saja mana kilatnya masih seperti ini,lah lah ini motor kenapa tiba-tiba pakek mati segala"


"Abis bensin ny kali mas"


"Ndak kok tadi aku baru isi full, apa aki nya ya soalnya tadi sore ibu pesan buat ganti aki nya kemarin susah di starter"


"Kamu duduk di bangku itu aja Ran, biar aku disini. hujannya lumayan deras"


15 menit kemudian


"errrgggghh.... hhhhhh.....hhhh..."


"RAN, RAN, kamu tidur ya?"


"Hah betul anak ini pasti kelelehan sudah berapa hari ini kulihat mereka satu posko sibuk sekali."


"sayang sekali tidak ada lampu jadi tidak bisa melihat dari dekat wajah mu Rana"


05.55


"Tama..... tam bangun"


kulihat mas Tama tidur posisi duduk disebelah ku dan jaketnya menutupi tubuh ku


"Hah.... astaghfirullah... aku tertidur, maaf Ran aku tertidur, semalam kamu tertidur lalu aku selimuti tapi aku malah ikut tertidur maaf kalau lancang"


"ga papa mas, maaf ngerepoti"


"Aku kita pulang, teman teman ku pasti bingung mencari ku"


Aku dan mas Tama baru keluar dari teras rumah tua itu dan sampai di jalan kulihat 4 orang laki-lakimengendarai sepeda motor berhenti didepan motor kami.


"Nah ini dia anak nya yang bikin pusing warga satu desa, ternyata ya betul kata orang-orang rumah kosong ini untuk berbuat mesum oleh anak-anak mesum." kata seorang laki-laki yang kulihat ada tato di tangannya.


"Bapak kalau ngomong jangan sembarangan, semalam kami kehujanan jadi berteduh disini sampai kami ketiduran, jadi jangan nyebarin fitnah"


"Fitnah kamu bilang? saya tanya sama kalian bertiga kita ketemu Tama dimana? sama siapa dan lagi apa?"


"Kamu dengar sendiri apa kata mereka bertiga sebagai saksi?"


"Bapak jangan sembarangan bilang ya ga ada bukti yang bener bapak bertemu kamu diatas motor dari arah rumah kosong" bantah ku sambil melotot kearah bapak-bapak itu.


"Lah ini jaket siapa?" kata si bapak satu lagi


"Emmm..."


"Jaket itu punya anak karang taruna dan pasti ada namanya, jadi intinya kamu sudah berzinah di rumah kosong itu dengan anak pak kades ini yang terlihat sok alim" ujar laki-laki satu lagi yang berbadan gendut


"Pak Hamid jangan bicara sembarangan pak, saya tidak mungkin melakukan perbuatan kotor seperti itu" bantah mas Tama sambil mengepalkan tangan


"Sudah-sudah sekarang kamu pulang dulu Tama karena disana akan kita lihat kamu benar atau tidak?"


"Baik, saya tidak takut. saya merasa saya benar"


Setibanya di dekat rumah pak kades jantung ku berdetak kencang karena dari kejauhan bisa terlihat kalau begitu banyak warga di depan rumah pak kades.


"Nah itu mereka, uuuuuu enak-enakan indehoy kita satu desa ga bisa tidur nyari mereka" teriak beberapa warga ketika kami sampai di depan rumah pak kades


"Sebentar bapak-bapak, ini salah paham," jelas mas Tama saat memarkirkan motornya dan langsung turun berjalan kearah teras rumahnya.


"Salah paham apa? kamu jelas-jelas sedang bermesraan dengan anak KKN itu dirumah kosong masih mau berkilah, kamu sudah mengotori desa ini sama seperti dulu bapak dan ibu mu"


"Nikahkan saja"


"Diarak keliling desa saja"


"Buah jatuh ga jauh dari pohon ternyata"


"Kelihatannya sok alim ternyata kucing garong"


"Siapa yang ga mau sama anak pak kades, ganteng, kaya, PNS pula"

__ADS_1


Ada banyak suara yang keluar dari warga dan kudengar dengan samar-samar tapi begitu jelas. perasaan ku jadi campur aduk


"DIAM!!! semuanya diam"


"Biarkan mereka berdua masuk dulu dan menjelaskan apa yang menurut mereka kita tidak bisa menghakimi mereka tanpa mendengarkan perkataan mereka, bagaimanapun saya masi Kades di desa ini" pak kades berkata dengan sambil berjalan kearah laki-laki yang dari tadi menjadi profokator kemarahan warga


"Duduk dan jelaskan lah Tama pada mereka, Disni sudah ada tokoh agama, toko adat di desa kita dan bapak sebagai kepala desa tidak akan memihak sekalipun kamu anak bapak, bapak akan adil tapi bapak percaya kamu Tam"


Terlihat jelas pak kades begitu tenang tidak seperti buk kades yang kini duduk disebelah ku dan mas Tama terlihat kecemasan dan air mata yang ditahan diujung matanya


"Baiklah saya akan menjelaskan tapi tolong jangan dipotong sebelum saya selesai menceritakan yang sebenarnya."


Setelah beberapa menit mas Tama menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pria yang disebut mas Tama pak Hamid tadi kembali menjadi sumber yang menyulut kemarahan warga kepada kami


"Halah...... mereka ga ada saksi, ini kalau mau lihat saksi nya mereka bertiga"


"Mereka bohong pak, mereka kami temukan dirumah kosong sedang selesai melakukan hubungan suami istri"


"Iya itu mas Tama juga tadi baru Bagun tidur saya lihat"


"Dan mbak nya juga baru pakai baju masih berantakan ketika kami temukan di rumah kosong"


"TIDAK mereka bohong bapak-bapak saya dan mas Tama tidak melakukan hal sekotor itu" bantah ku sambil mengeluarkan air mata karena sudah tidak tahan dari tadi di sudutkan terus


"Sudah nikahkan saja sekarang, pak kades jangan mentang-mentang anak bapak jadi ada keringanan. kalau yang lain pasti disuruh nikah dan sedekah bumi. eh anak sendiri dibela" kata seorang toko adat yang sudah tua duduk dihadapan pak kades sambil menyulut rokoknya


"Baik, saya tahu arah dari masalah ini. Tama dan mbak Kirana hanya korban dari ambisi orang-orang yang bermain politik kotor, saya mohon dengan pihak-pihak terkait untuk berpolitiklah dengan santun kalau memang warga dan saksi serta toko sesepuh, adat dan agama menganggap anak kami berzina dengan mbak Rana, sekarang saya minta beberapa ibu2 disini perwakilan tiap dusun maju"


"Apa hubungan nya pak ibu-ibu dan masalah ini?" tanya pak Abdul kepada pak kades selaku ketua tokoh agama di desanya


"Saya akan mencari kebenaran bapak-bapak sekalian"


"Baik silahkan beberapa ibu2 maju"


"Nah ibu-ibu yang sudah maju ini saya minta ikut dengan mobil, beserta mbak Kirana dan istri saya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut apakah betul mbak Kirana ini baru saja berhubungan badan dengan Tama" sekalian saya akan suruh pak Kapolsek dan istrinya ikut sekarang juga saya telpon beliau. biar clear masalah ini. karena mengingat mbak dan mas-mas KKN ini tinggal beberapa hari lagi disini agar tidak timbul fitnah berlarut-larut. bagaimana?"


"Setuju, kami setuju"


teriak beberapa warga bersamaan


"Halah.... situ kades jelas punya yang apa-apa bisa dibeli dengan uang" bantah pak Hamid


"Saya rasa tidak, saya akan ikut dalam menjadi saksi kasus ini" tiba-tiba muncul sosok perempuan berkerudung biru dengan baju batiknya berjalan dari arah kerumunan itu.


"Zainab? apa-apa an kamu. aku tidak mengizinkan"


"Aku tidak akan mengulangi kesalahan kedua kalinya dimasa lalu mas, sekalipun aku menjadi janda aku siap jika harus menebus kesalahan ku dimasa lalu yang berbohong atas sebuah kebenaran. Hari ini demi sebuah kebenaran saya ndak akan diam"


wanita itu sudah berada didekat buk kades dan memegang pundak buk kades.


Aku semakin bingung tapi aku khawatir pikiran ku tertuju pada mamak ku di desa jika Mak ku tahu aku menikah bagaimana perasaannya.


"Kirana, kamu setuju kan? demi kebaikan kamu dan Tama?" tanya pak kades


"Saya setuju pak jika dengan ini saya bisa membuktikan bahwa saya dan mas Tama tidak bersalah."


"Baik saya bersiap-siap dulu, Kirana kamu sarapan dulu didalam ayo Tama kamu juga kalian belum makan pasti ini sudah hampir jam 9 pagi" buk kades memegang tangan ku dan membimbing ku kedalam rumahnya


"Terima kasih Bu"


Setelah itu aku dan mas Tama sedang makan di dapur dengan meja makan khas orang Jawa. kulihat buk kades meninggal kan kami berdua katanya ingin menyiapkan apa-apa yang diperlukan nanti


"Ran, maaf boleh tanya sesuatu" tanya mas Tama pada ku


"Tanya apa mas?" aku masih menunduk sambil memasukan sesuap nasi ke mulut.


"Maaf sebelumnya apakah kamu masih perawan?"


"Uhuk uhuk....." aku terbatuk-batuk dan meletakkan sendok ditangan ku dan ku tatap wajah mas Tama tajam


"Mas Tama pikir aku perempuan murahan? jangan sembarangan kalau ngomong. aku memang dari kota tapi asal tahu aku dididik oleh ibu ku untuk menjaga kesucian ku hanya untuk suami ku" dan aku langsung meninggalkan mas Tama setelah menghabiskan minum ku.

__ADS_1


__ADS_2