Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 27 SIAPA KAMU ? DIMANA KAMU JODOHKU ?


__ADS_3

Tepat satu tahun sudah aku menyandang gelar Sarjana pendidikan bahasa Inggris dan kini aku sudah menjadi seorang guru di salah satu sekolah menengah atas swasta dikotaku. Hari ini aku ada janji pada Lilik untuk menemaninya ke salah satu Toko kue. Aku masih menunggu jemputan Lilik di gerbang SMA Nusa Cendana. Ya, aku hampir satu tahun menjadi guru bahasa Inggris di sekolah ini.


Panas nya cuaca siang ini membuat ku memilih menunggu Lilik di bawah pohon beringin sambil menikmati es dawet Mas Yono. Hampir 25 menit aku menunggu Lilik akhirnya yang ditunggu hadir dengan motor maticnya yang berwarna pink dan kulihat dia pun masih menyandang tas laptop nya. Berbeda dengan diriku, Lilik malah bekerja di salah satu Bank Swasta di bagian Survey. Aneh memang ketika bergelar sarjana pendidikan tetapi bekerja di bidang yang tidak sejalan tetapi itulah realita dengan gelar yang kami sandang tuntutan untuk harus memiliki pekerjaan membuat kami yang menyandang gelas sarjana ini tidak akan tenang jika belum memiliki tempat bekerja.


"Maaf ya Ran, tadi tiba-tiba ada kepala cabang yang baru trus ya meeting sebentar jadi ga keburu kasih kabar ke kamu"


"Ya ga apa-apa asal traktir Bakso Bombaa nya jangan ditunda-tunda lagi"


"Beres... tapi kita ambil pesanan kue ibu dulu keburu diomelin aku. Terus baru kita cusss ke Bombaa dah itu temenin aku ambil baju kebaya dulu di butik langganan ibu baru aku antar kamu pulang ya"


"oke, kenapa ga sama Tyo aja si Lik?"


"Kan belum halal..... hahahaha.... ayo cepet ini cacing di perut sudah menari-nari menanti bakso Bomba" Lilik menyerahkan helm berwarna Biru dengan screen Doraemon.


""Nih dipakek, takut ada polisi no dilampu merah"


"Ye.... pakek helm bukan karena ada polisi. Tapi buat ngelindungi diri.... pantes cekcok mulu sama Tyo. Tuh cara berpikir masih ga berubah" ucapku sewot. Karena paham betul dengan sahabat ku satu yang memiliki karakter apa-apa ingin serba cepat, instant dan menggampangkan masalah atau hal-hal yang kadang penting.


Lilik melajukan motor matic nya dengan kecepatan sedang, selama di perjalanan kami banyak mengobrol seketika pikiran ku melayang ke 2 bulan lalu tentang realita Tyo yang melamar Lilik.


Flashback on


Hampir 1 bulan aku tidak bertemu dengan Lilik karena mengingat dia yang sedang dikejar target di tempat berkerja nya untuk 2 bulan kedepan. Namun hari ini tiba-tiba anak itu ke kost an ku dengan wajah seperti ingin menceritakan keluh kesahnya namu aku yang selalu menghargai setiap sahabat ku tidak pernah mendesak mereka untuk bercerita, biarkan lah jika mereka bercerita itu atas kemauan mereka. Bukan kah kadang kita harus ada privasi.


"Ran....."


"Hem...."


"Rana..... bisakah kamu meninggalkan laptopmu sebentar"


"Tidak bisa ku tinggalkan. Karena ini benda yang begitu berarti untuk peserta didik ku. Disini ada banyak materi untuk aku menyampaikan ilmu ku kepada peserta didik ku Ibu Lilik yang terhormat"


"Rana...... Aku serius ini!" Satu jarinya membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit turun dari posisi hidungnya.


"Oke... oke Lilik... sepertinya hari ini ibu pemasaran kita ini ada masalah dan aku harus jadi pendengar atau penasehat?" Goda ku seraya menyingkirkan laptop ku dan kini aku sudah duduk berhadapan dengan Lilik.


"Dua duanya"

__ADS_1


"Begini Ran... Tapi janji jangan ketawa!" Ancam Lilik setelah meminta ku menjadi pendengar atau penasehat atas keluh kesah yang disampaikan nya padaku. Dari dulu ketika dia bercerita maka dia akan selalu marah jika aku memberi masukan atau pendapat seperti nasehat. dia akan mengatakan "Aku hanya ingin kamu jadi pendengar Kirana"


Maka sejak saat itu ketika dia curhat maka aku akan menggoda nya dengan kata pendengar atau penasehat.


"Janji" Ucapku sambil menyambutnya jari kelingkingnya dengan hari kelingking ku.


"Kemarin Tyo kerumah"


"Hem.... terus?"


"Dia kerumah itu ngobrol sama ibu"


"Terus.... "


"Rana......" Mata Lilik sudah melotot kearah ku setelah mendengar celetuk ku dengan ekspresi wajah ku setengah tersenyum tetapi ditahan dengan mata yang kusipit-sipitkan.


"Oke... orkes. Serius" ucap membenarkan posisi duduk ku yang kini bersila.


"Dia ngomong sama Ibu kalau dia pingin lamar aku.... Kan kurang ajar banget ngga Ran. Harusnya kan di tanya aku dulu bukan langsung ke ibu. Secara selama ini kan kami cuma berteman. Kamu tahu setelah dia pulang aku selalu di desak ibu untuk menerima Tyo. Dengan alasan dia pemuda yang baik. Dan aku yang dari dulu ga ada pacar setelah putus sama si brengsek itu"


"Harusnya kan dia itu nembak aku dulu, terus baru kami menjalin hubungan trus dia bilang sama ibu. Lah ini tahu-tahu dia bilang mau melamar aku dan kalau memang diizinkan mau ajak orang tua nya kan Norak banget Na...."


"Lilik.... Lilik... kamu itu kan sudah sering aku ingat kan. Tyo itu pria dewasa sedari kuliah dia tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun hanya aku atau kamu yang sering dia bonceng dan cara dia memperlakukan kamu itu menunjukan kalau dia Suka sama kamu dari masa-masa kita kuliah kamu aja yang ga peka udah diingatkan berkali-kali"


"Suka.... mana ada laki-laki suka sama Perempuan kalau ketemu bikin kita selalu emosi, selalu marah. Trus ga ada romantis-romantisnya" Sungut Lilik


"Setiap orang itu punya karakter berbeda-beda. Termasuk Tyo. Kamu lihat Tyo itu akan selalu entah main ponsel, entah menggambar entah apa yang dia buat jika kamu itu sudah hadir ditengah-tengah kita. Itu namanya kikuk.... canggung. Perasaan canggung itu biasa hadir ketika ada orang yang kita suka. Kamunya saja yang ga peka" jelas ku panjang lebar. Aku memang sedari masa kuliah mengamati Tyo dan ternyata hari ini terbukti firasatku bahwa Tyo menyukai Lilik.


"Tapi..... Kenapa dia tidak bilang sama aku langsung malah sama ibu. Harusnya kan kami penjajakan dahulu"


"Okez sekarang aku tanya sama kamu selama kurang lebih hampir 5 Tahun kita bersahabat coba katakan bagaimana Tyo Dimata mu?"


"Hem.....Baik, lucu, Pemalas, boros,pemakan segalanya, punya prinsip dan bertanggungjawab".


"Nah, kamu bisa menilainya bukan dengan kebersamaan kita. Begitupun dengan Tyo. 5 tahun bersahabat apa bukan penjajakan? Masalah dia langsung bilang sama ibu mu dan maksudnya untuk serius kejenjang lamaran itu malah bagus dong Lik. Berarti dibalik sifat-sifta negatifnya kemarin dia buktikan dia gentleman dan ingin serius membina hubungan dengan kamu. Ingat umur juga"


"Tapi....."

__ADS_1


"Kamu sudah tanyakan sama Tyo kenapa tidak berbicara dulu dengan kamu?"


"Sudah dia cuma bilang percuma soalnya aku apa-apa pasti Kembali ke orang tua maka dari itu dia lebih pilih bicara sama ibu dulu karena Ayah masih dikalimantan"


"Nah.... berarti Tyo sudah tahu betul kamu luar dan dalam Lik. Sampai dia sudah tahu bahwa kamu hampir setiap keputusan akan selalu berdiskusi dengan orang tua mu dan kamu juga tipe anak yang penurut dengan orang tua walau kadang sedikit ngeyel kalau dinasehati hehe"


"Trus aku gimana ni. Dia bilang kalau memang aku terima Minggu depan dia kerumah dengan keluarganya."


"Kamu tanyakan sama hati kamu. Apakah kriteria Tyo itu adalah kriteria lelaki yang kamu Inginkan untuk menjalani masa depan kamu?" Tangan ku membelai lembut tangan Lilik. Aku tahu sahabat ku ini hanyalah korban film drama Korea.


"Satu lagi ini dunia nyata Lilik, tidak sama dengan drakor-drakor- yang sering kamu tonton itu. Itu semua hanya rekayasa."


"Aku.... nyaman dengan Tyo tapi .... Aku ga tahu apakah cinta apa ga"


"Kembali ke kamu. Aku rasa kamu perlu mengobrol berdua dengan Tyo sebelum memberikan jawaban. Tujuan nya Agar kamu tahu apakah ada kecocokan dan sudut pandang kalian berdua tentang sebuah pernikahan"


"Baiklah.... Aku akan coba tapi temenin ya."


"Oke"


Flashback off


"Ran..... Ran.... turun woi... ngelamun i apa? jangan khawatir kamu pasti punya jodoh juga jadi ga usah galau begitu hehehe..." Teriak Lilik setelah motor maticnya telah diparkirkan namun aku masih duduk diatas motor karena membayangkan apa yang dulu terjadi hingga besok adalah acara lamaran Lilik dan Tyo.


"Betapa malangnya Tyo esok punya istri yang setiap hari akan berteriak Jika ada yang tidak sesuai dengan yang diinginkan nya..." aku yang jengkel di Teriaki mengejek Lilik sambil membuka helm dan menggantungnya di atas kaca spion.


"Dan alangkah malangnya juga jodoh mu kini jika tahu sebentar lagi tulang rusuk nya ini akan sendirian karena Sahabat-sahabat nya akan segera menikah dan dia masih sendiri. Atau sama Kak Fhey aja Ran.... Kan enak punya suami Pemborong"


"Kamu mau aku terkena kangker paru-paru menjodohkan aku dengan kak Fhey? Udah ah.... ayo ambil kue nya trus kita antar kerumah" Seraya mendorong kepala Lilik dengan jari telunjuk ku karena bisa-bisa nya dia punya pikiran aku dengan kak Fhey.


"oke... oke.... Pesan ku cuma satu cepet jemput jodoh mu kalau jodoh nya ga kunjung ngampiri tuh siapa.... ustad... ustad siapa ya lupa aku....."


"Lilik......!" Aku makin kesal dengan pembicaraan nya yang melebar kemana-mana.


Aku mengikuti Lilik menuju toko roti yang sudah menjadi langganan ibunya ketika ada acara-acara dirumahnya.


"Ah.... Siapa kamu? dimana kamu? rasanya aku memang haru memikirkan kamu jodoh ku" Gumam ku setelah duduk di Kursi Tunggu di toko Roti Denis menanti Lilik mengambil pesanan kue nya.

__ADS_1


__ADS_2