
Wukirsari, Ngunduh Mantu
Serangkaian acara dan proses ngunduh mantu telah dilaksanakan disaat proses resepsi telah dilaksanakan kini masuk acara Upacara Temon. Ngunduh mantu adalah sebuah prosesi adat tambahan yang biasanya dilakukan oleh pasangan pengantin berdarah Jawa. Ngunduh artinya panen atau memanen, sedangkan mantu yang berarti menantu. Dengan kata lain, ngunduh mantu dapat diartikan sebagai sebuah keluarga yang telah mendapatkan seorang menantu. Bila dalam pesta pernikahan pihak pengantin wanita lah yang akan mengadakan hajat, maka dalam ngunduh mantu, keluarga dari pengantin pria didaulat sebagai tuan rumahnya. Tradisi ini dilakukan guna menyambut kehadiran sang mempelai wanita sebagai anggota keluarga baru dari keluarga besar pihak mempelai laki-laki. Biasanya, acara ngunduh mantu digelar sekitar 5 hari setelah hari pernikahan usai.
Biasanya upacara Panggih atau Temon dilakukan di kediaman mempelai wanita namun karena saat acara di tempat ku tidak diadakan acara Temon ini. Ibunya mas Tama berinisiatif memilih acara ini di akhir serangkaian acara ngunduh mantu di kediaman nya. Namun saat acara dirumah ku, aku menolak adanya acara ini karena sudah tentu pengantin akan menjadi tontonan bagi keluarga juga para undangan mengingat acara ini cukup unik dan kental akan adat budaya.
Panggih atau Temon adalah Kata Panggih dalam bahasa Indonesia berarti ‘bertemu’. Dalam Prosesi Panggih ini mempertemukan mempelai laki-laki dan perempuan sebagai sepasang suami istri setelah sah secara agama dan Negara.
Suara nan indah dan berbau mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan tanaman Tarub.
Pengantin wanita, di antar oleh dua wanita yang dituakan, berjalan keluar dari kamar pengantin. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. Di depannya dua puteri disebut Patah, dengan membawa kipas. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. Satu orang wanita dari keluarga pengantin laki-laki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu mas Tama, sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara.
Dengan Memakai pakaian tradisional khas adat Jawa, Aku dan mas Tama dipertemukan di pelataran rumah mas Tama. Setelah itu, upacara Panggih akan segera dimulai dengan iringan gending Jawa gendingnya.
pada sesi balangan suruh Aku dan mas Tama diposisikan berhadap-hadapan kira-kira berjarak 1 sampai 1,5 meter dan kami sama-sama diberikan gulungan suruh/sirih. Suruh yang sudah digulung dan diikat dengan benang. Selanjutnya pengatur acara memerintahkan supaya dilempar ke badan mas Tama dan Aku. Dengan aba-aba dari pengatur acara kami bersama-sama melempar gulungan suruh ke badan pasangan masing-masing.
__ADS_1
Makna yang terkandung dalam prosesi ini adalah melambangkan rasa kasih dan kesetiaan mempelai baik dalam keadaan susah maupun senang selalu dilalui bersama-sama.
Pada sesi Jumeneng ing pasangan yaitu Berdiri berhadap-hadapan. Prosesi ini adalah lanjutan dari prosesi balangan suruh dengan tata cara prosesi ini aku dan mas Tama saling berdiri tegak berhadap-hadapan kira-kira berjarak 1sampai 1.5 meter. Aku menatap mas Tama entah kenapa makin hari aku merasakan pesona suami ku ini makin tampan.
Pada sesi ketiga yaitu Menginjak telur atau Midak tigan. Pengantin mas Tama menginjak telur dengan kaki kanan sampai pecah dengan harapan kami diberikan keturunan menurut pembawa acara Temon ini. dan selanjutnya aku mencuci kaki mas Tama dengan air bunga tujuh rupa. Sebagai bukti bakti kasih sayang dan kesetiaanya kepada suami dalam keadaan susah maupun senang serta kesiapan seorang suami untuk menjadi kepala keluarga yang bertanggung-jawab. Serta pengantin perempuan akan melayani setia suaminya hingga akhir hayatnya.
Kata-kata dari pembawa acara yang terakhir yaitu
"melayani suami hingga akhir hayat" menggetarkan hati ku pada saat aku membasuh kaki mas Tama entah kenapa dada ku bergejolak begitu hebat dan tiba-tiba ada butir-butir mutiara yang terasa panas mengalir dipipi ku. Aku teringat bagaimana dia dengan sabar untuk tidak menyentuh ku selama satu Minggu dimana harusnya itu kewajiban ku dan hak seorang suami terhadap istrinya.
dan pada sesi Sindur. Sindur dalah semacam selendang berwarna merah, berpinggir putih berliku-liku. kain Sindur ini dibentangkan di pundak Aku dan mas Tama oleh ibu pengantin ibunya mas tama. Berdasarkan penuturan pembawa acara Dapat diartikan bahwa pengantin Aku sudah diterima menjadi anak oleh pihak mas Tama. kemudian bapak mas Tama ‘menyeret’ kedua Aku dan mas Tama secara pelan-pelan menuju kedalam rumah, Mak e dan ibu ikut ‘mendorong’ dari belakang.
Dan sesi Bobot timbang dan Tanem Jero ditiadakan berhubung kami mengadakan acara Temon ini diacara ngunduh mantu.
Kami di tuntun hingga kedalam kamar pengantin sesampai di kamar pengantin sudah terdapat beberapa nasi kuning didalam sebuah nampan kecil dengan segala macam pelengkap lauk pauk nya.
__ADS_1
Pada sesi ini yaitu Dhahar Walimah atau makan bersama. Makna dari prosesi ini adalah kemantapan hati pasangan mempelai dalam berumah tangga. prosesi ini juga menggambarkan kerukunan suami istri akan mendatangkan kebahagiaan dalam keluarga yang akan dibangunnya kelak.
Pada sesi ini aku kembali rasa ingin menangis ketika mendapat kan suapan dari mas Tama. Tangan nya begitu lembut.... Dan senyuman nya pun semakin membuat hati ku bergetar. Aku pun menyuapi mas Tama dan entah sengaja atau tidak mas Tama sedikit menggigit ujung jari ku sambil tersenyum menggoda. Lalu kami saling memberikan minum dari gelas yang sudah disiapkan.
Setelah semua selesai kini kami diminta untuk istirahat sebentar karena sudah jam 1 dan kami belum makan siang. Setelah semua orang keluar dari kamar tinggalah aku berdua dengan mas Tama.
Aku yang sekarang duduk dihadapan cermin yang berada disebelah ranjang sedang berusaha membuka beberapa aksesori yang berada di kepala ku. Mas Tama tanpa ku minta mendekat dan mambantu melepaskan aksesoris tersebut hinggal tinggal jilbab hitam dan cream yang masih tersisa melilit dikepala dan leher ku.
"Capek Ran?" Tanya mas Tama yang berdiri dibelakang ku dengan kedua tangannya memijat kedua pundak ku.
"Sedikit mas" Aku masih fokus dengan jilbab ku namun hati ku merasa salah tingkah dengan sentuhan mas Tama di pundak ku.
"Sebentar lagi kok, sudah ganti satu baju sudah itu kita istirahat saja biar nanti aku bilang sama ibu"
"huek....hueeee....huek...." Tiba-tiba perut ku begitu mual.
__ADS_1
_______________________
#####Mengingat ini karya fiksi maka pada acara Temon ini ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan seharusnya adat Temon pada umumnya. Karena ini di acara ngunduh mantu jadi tidak sama dengan pada acara di Kediaman wanita.######