
"Ada apa sayang?" Aku yang telah masuk kedalam pelukan mas Tama membuat mas Tama khawatir karena sepertinya mas Tama melihat dengan jelas bahwa aku menampar lelaki yang merupakan manager di showroom mobil ini.
"Maaf pak, ini hanya sedikit salah paham. Saya dan Rana saling mengenal". Mas Ardi mencoba menjelaskan pada mas Tama.
Terdengar jelas detak jantung mas Tama berdetak lebih cepat dan tubuhnya menegang. Aku menggenggam tangan mas Tama. Aku khawatir mas Tama salah tanggap dan berpikir yang tidak-tidak.
"Saya mengenal istri saya tuan, Saya tidak pernah melihat istri saya meninggikan suaranya, bahkan menyakiti orang lain seperti saat ini. Dan jika itu terjadi maka bisa saya pastikan bahwa istri saya merasa tersakiti bukan hanya fisik nya tetapi juga psikisnya". Suara mas Tama terdengar sedikit meninggi dan wajah nya terlihat menahan amarah.
"Saya bisa jelaskan pada anda. Namun ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Kirana, hanya saja situasi nya mungkin tidak pas" Mas Ardi kembali bersuara.
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi tuan, dari bedname anda dan dari perlakuan anda terhadap istri saya dan apa yang istri saya lakukan pada Anda sudah menjelaskan pada saya siapa anda. Anda adalah orang yang menyebabkan saya sempat ditolak oleh Kirana saat pertama kali saya ingin melamar nya. Karena mungkin sakit yang anda tinggalkan cukup membengkas"
Mas Tama melerai pelukan ku dan berjalan ke arah mas Ardi.
"Anda tahu, perjalanan kami menuju hubungan yang halal tidak seujung kuku pun aku menyentuh kulitnya karena belum halal nya dia untuk kusentuh. Tapi hari ini anda berani menggenggam tangan nya setelah dulu anda mencampakkan nya hanya karena ada yang lebih bisa anda nikmati mungkin seluruh bagian tubuhnya tuan Ardi Kurniawan. Jangan berani-berani lagi menyentuh istri saya, bukankah dia tidak cantik, tidak menarik Dimata anda?" Mas Tama mencengkram kerah baju mas Ardi dan wajah mereka terlihat sangat dekat.
Aku khawatir karena melihat mas Tama sepertinya begitu marah pada mas Ardi cepat ku raih tangan mas Tama agar tidak sampai kejadian dimana mas Tama memukul Tyo karena Tyo menyakiti Lilik terjadi kembali pada mas Ardi.
"Mas... Sudah... kita pulang saja ya... " pinta ku dengan menarik lengan mas Tama. Karena beberapa orang yang sedang berada di showroom itu melihat ke arah kami.
"Saya ingin bertemu dengan Bapak Adiguna!" Mas Tama menarik tangan ku dan berjalan ke arah lobi.
__ADS_1
Aku tidak tahu siapa Adiguna itu tetapi melihat mas Tama menuju lift dan menekan angka 4 lantai paling atas dari gedung showroom ini membuat aku meyakini bahwa yang ingin mas Tama temui adalah pimpinan di showroom ini.
Kami berjalan menuju ruangan paling ujung setelah pintu lift terbuka dan berhenti di depan pintu yang bertuliskan "Branch Manager".
"Mas..." aku seolah ingin bertanya dan berharap mas Tama meredakan emosinya. Karena dari napasnya terlihat suami ku ini sedang menahan gemuruh dihatinya yang baru pertama Kali ku lihat. Bahkan menatap wajahnya saja aku sedikit takut. perasaan di hati ku bercampur aduk. Antara takut, sedih dan bingung.
"Tidak Ran, Ini menyangkut harga diri mas. Mas tidak mau kejadian ini terulang lagi. Kamu istri mas, Mas ini lelaki. Mas bisa lihat tatapan matanya yang menatap mu bukan sebagai teman"
Aku tidak berani kembali bersuara. Suara mas Tama yang meninggi, wajahnya yang merah padam dan tatapan matanya seolah menunjukan pada ku bahwa dia betul-betul marah saat ini. Namun ada rasa sakit dalam hati ku karena ini kali pertama aku dibentak oleh suami ku. Aku mencoba menahan sekuat tenaga air mata yang berusaha menerobos di ujung pelupuk mata ku.
"Brak!" Mas Tama membuka pintu dan langsung mengarah ke meja terdapat seorang lelaki paruh baya sedang duduk menatap laptop di depan nya.
"Pak Bagus, ada perlu penting seperti nya" Suara bariton pria paruh baya itu terdengar cukup kaget.
"Ada apa pak Bagus, kalau ada masalah tolong dibicarakan baik-baik" suara lelaki di depan kami ini terlihat memelas seolah sedang berbicara kepada orang penting.
"Buka CCTV itu sekarang pak Adi atau tahun depan saya pastikan CV kami tidak akan bekerja sama dengan Showroom anda lagi jika ada tender pengadaan mobil!"
"Ba....baik. Baik pak Bagus. Sebentar"
Terlihat pria yang berkumis tebal itu sibuk menatap layar laptop di depan nya lalu memutar laptop ke arah kami. Dan terlihat mas Ardi yang membantu ku hampir terjatuh. Lalu mas Ardi menghalangi aku keluar dari mobil dan Kembali ditarik dan terakhir aku menampar wajahnya.
__ADS_1
"Anda lihat bagaimana karyawan anda bertindak tidak sopan kepada istri saya. Sayang sekali padahal hari ini saya kemari untuk membelikan hadiah ulang tahun istri saya dengan cash. Tetapi karyawan anda yang punya permasalahan pribadi dengan istri saya tidak bisa profesional pak Adi!"
Mas Tama kembali memutar layar laptop ke arah branch manager showroom ini.
"Sebentar pak... saya akan panggil yang bersangkutan". ucap pria itu ketika akan memencet tombol pada telpon yang ada di mejanya.
"Silahkan, tapi saya tidak tertarik berbicara dengannya. Pastikan dia tidak kembali mengganggu istri saya. Permisi"
"Tapi... pak Bagus..."
Mas Tama berjalan dengan menggenggam tangan ku dan memeluk pinggang ku. Kami berjalan sedikit tergesa-gesa dan terlihat branch manager tadi setengah berlari mengejar kami.
"Kirana...." mas Ardi yang berada di depan pintu itu memanggil ku.
"Jangan anda sebut nama istri saya dengan bibir anda yang tidak bertulang dan kotor itu!" Mas Tama mendorong mas Ardi dengan kasar hingga mas Ardi hampir terjatuh.
"Cepat kamu kejar pak Bagus... atau kamu saya pecat Ardi.....!" terdengar suara pria yang berkumis tadi membentak mas Ardi.
"Tapi pak..... siapa dia" suara mas Ardi lirih.
"Beliau Bagus Pratama, Investor di showroom kita dan yang pemilik CV Cahaya Gemilang kamu paham?" suara lelaki itu menggelegar diruangan dan masih terdengar jelas sebelum pintu lift yang kami masuki tertutup. Mas Tama masih tidak menghiraukan panggilan dari branch manager yang dari tadi berusaha menghentikan kami.
__ADS_1
Sesampai nya di parkiran mas Tama memberhentikan taksi dan membukakan pintu untuk ku lalu mengikuti masuk kedalam taksi berwarna silver ini.
"Hotel Dewinda pak" Pinta mas Tama pada sang sopir.