Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 23 KURIR PENGAMBIL PAKET


__ADS_3

Suasana tempat bermain di salah satu kota Lampung ini cukup padat mungkin karena ini akhir pekan sehingga begitu banyak keluarga yang mengajak anak-anak seusia Dwi dan kedua keponakan ku ke tempat bermain seperti ini.


Mas Tama telah memberikan sebuah kartu seperti kartu ATM pada Dwi dan ketiga bocah itu sudah masuk ke arena bermain dimana aku dan mas Tama memilih duduk di luar arena dan memesan beberapa cemilan. Kami memilih tempat duduk yang ditengah, namun sedikit ke arah pagar arena bermain terlihat ketiga anak tadi masuk ke arena bermain mobil-mobilan. Terlihat Dwi menggesek kartu yang diberikan Tama tadi ke 3 mobil yang mereka pilih aku mengabadikan dari tempat duduk ku melalu kamera handphone ku.


"Ini Ran dimakan dulu siomaynya keburu dingin ga Nikmat lagi"


"Terima kasih mas."


Aku menarik piring yang berisi siomay tadi dan kucoba melahap siomay yang berisi tahu lalu kulihat ada yang berisi kubis baru akan ku singkirkan, Mas Tama langsung mengambil nya dan memindahkan siomay yang berisi kubis tadi ke piringnya.


"Maaf kelupaan tadi harusnya jangan campur yang buat kamu. Aku ga tahu kalau ada kubisnya."


Mas Tama mengunyah siomay nya dan melihat ke arah ku tanpa disengaja tatapan kami bertemu mas Tama langsung membuang pandangannya kearah Arena bermain.


"Seusia mereka enak ya Ran masih belum banyak tanggungjawab."


Terlihat lesung pipi di kedua pipi mas Tama ketika melihat ke arena bermain dan kembali melihat ke arah ku.


"Iya setidaknya mereka masih bebas menangis, bebas bermain tanpa berpikir apakah yang dilakukan salah atau benar." Jawab ku.

__ADS_1


"Ran, Laki-laki seperti apa yang menjadi kriteria mu untuk menjadi Imam mu?"


"Uhuukk....uhk...." Aku tersedak mendengar pertanyaan mas Tama.


"Ini minum dulu." Mas Tama memberikan ku jus jeruk.


"Maaf Kalau pertanyaan nya buat kamu kaget, memang ada yang salah dari pertanyaan ku Ran? bukan kah kamu bilang kita perlu mengobrol untuk saling mengenal?"


"Iya mas tapi kaget saja. Entahlah mas aku sebenarnya masih belum terpikirkan karena terus terang saat akan KKN aku baru saja putus dari pacar ku dimana kami sudah cukup lama menjalin hubungan."


Jawab ku sambil sesekali menatap ke arah tiga bocah yang masih asik bermain kali ini mereka sudah pindah ke arah bola basket.


"Benarkah? Memang mas Tama juga diselingkuhin?"


Entah kepolosan atau kebodohan kata-kata itu meluncur bebas begitu saja dari bibir ku yang merah karena balutan lip gloss.


"Berarti kamu putus karena di selingkuhi Ran?"


Tanya mas Tama kembali

__ADS_1


Aku hanya mampu tersenyum dan mengangguk lalu mengalihkan pandangan ku kepiting siomay ku.


"Hhhhh.... Aku pacaran sama dia dari SMA kelas 1. Kami satu desa, Setelah tamat SMA aku melanjutkan kuliah di Jakarta dan kami LDR. Hubungan kami baik-baik saja. Ketika mas pulang libur semester seperti biasa mas main kerumahnya dan mas kaget karena orang tuanya tidak setuju dengan mas dan meminta mas menjauhi putri nya.


Dan tidak lama setelah kejadian itu ternyata dia di lamar oleh anak seorang pengusaha Jati dari desa sebelah yang juga kades. Saat itu bapak belum jadi kades keadaan ekonomi keluarga kami masih gonjang ganjing. Belum lagi tiap bulan orang bank akan datang karena bapak selalu terlambat membayar angsuran bank untuk menutupi biaya perawatan sawit dan biaya perawatan kebun sawit yang baru dirombak.


Disana kurasa titik permasalahannya sudut pandang orang tua nya tentang sebuah Hubungan dipandang dari sebuah kedudukan dan harta. Aku bersyukur setelah beberapa tahun mencoba menghilangkan rasa terhadap dia. Dan sekarang dia dan keluarga nya pindah ke kota karena dia malu kudengar dia bercerai dengan suami nya.


Tepat setelah selesai kuliah aku kembali ke desa untuk membantu bapak dan bapak mencalonkan diri jadi kades lalu terpilih. Bapak sering ada kebutuhan seperti buku-buku, nota-nota dan yang paling sering spanduk dari sana aku mengenal kamu Ran. Yang membuat aku jatuh hati pada kamu saat itu Ran ketika ada anak berbaju SD dan mengambil buku dari kamu lalu mengatakan kalau uang nya hilang sambil menangis lalu kamu memberikan saja dan setelah itu istri pak Agam memarahi kamu. "


"Tunggu, tunggu... kalau mas Tama sering ke toko kenapa tidak pernah terlintas diingatan ku kalau kita pernah bertemu."


Mas Tama membuka handphonenya dan menunjukan sebuah foto pada ku. Foto pemuda berjaket hitam, Helm hitam dan sarung tangan hitam dan terlihat hanya matanya saja.


"Owh..... Itu mas Tama?"


Aku memegang kedua bibir ku seolah tak percaya. Aku selalu mengingat pengemudi motor yang bodynya besar dengan sebuah box dibelakangnya pasti berhenti memberikan nota langsung pergi. Selalu seperti itu tidak ada komunikasi tapi hampir seminggu atau 2 Minggu sekali lali-laki serba hitam itu ke fotokopi pak Agam untuk mengambil pesanan.


"Kupikir pria itu kurir pengambil paket mas"

__ADS_1


Ucap ku sambil tersenyum dan mengembalikan handphone mas Tama.


__ADS_2