
Mak e hari ini sudah diperbolehkan pulang. Dan aku menunggu mas Tama menjemput. Mak e sedang terlelap karena baru saja ku suapi bubur dan minum obat.
Tiba-tiba Tiara muncul dari balik pintu. Wanita yang baru menjadi teman ku ini masuk membawa beberapa paper bag. dan menyerahkan nya pada ku.
"Ran, ini ada alat terapi punggung untuk Mak e. Insyaallah membantu agar tubuh Mak e tidak terasa pegal-pegal. Bisa digunakan 2 hari sekali."
Aku menerima paper bag itu dan melihat kedalam nya terdapat kotak putih dan bertuliskan bahasa Inggris.
"Terima kasih Ra. Harusnya tidak perlu repot-repot loh" Aku merasa sungkan karena baru beberapa hari dekat dengan Tiara tapi dia sudah berbuat lebih dan perhatian terhadap Mak e.
"Mulai sekarang kamu ga boleh sungkan-sungkan ya. Aku senang bisa kenal dengan kamu Ran. Ada banyak hal yang bikin aku nyaman dan belajar sama kamu. Terutama tentang ketulusan hehe...." senyum manis Tiara selalu mampu membuat wajahnya yang imut itu bertambah cantik.
Satu Minggu lagi aku harus kontrol Mak e dan dokter Tiara berharap agar hubungi dia dulu agar bisa didaftarkan terlebih dahulu. Jadi tidak terlalu lama antri.
"Berarti sekarang kalau apa-apa memang kudu ada orang dalam ya Ra. Urusan jadi lancar dan beres hehe..." Aku merasa selalu dipermudah beberapa hari ini dengan urusan apalagi ketika harus tebus resep yang kebetulan lagi kosong di apotik sini, maka Tiara lah yang akan mencari nya hanya dengan modal ponselnya.
"Ya sudah aku pamit dulu ya, sebentar lagi Pasien ku juga akan antri kalau aku kelamaan disini." Tiara mendekat ke arah ku dan memeluk ku.
Aku meletakkan paper bag yang dibawa Tiara diatas tas pakaian Mak e. Tidak lama mas Tama muncul hadir dengan wajah yang seperti nya sangat senang. Walau hati ku sebenarnya sedikit merasa tidak terima tapi mas Hardi selaku anak lelaki dan anak tua dari Mak e juga setuju. Mak e juga setuju ketika mas Hardi minta pendapat Mak e terkait bahwa mas Tama akan membawa Mak e ketempat yang lebih cocok untuk kondisi Mak e yang stroke itu daripada tinggal bersama dirumah nya dan ku. Mas Tama bilang aku pun boleh sementara tinggal disana jika aku menginginkan nya selama Mak e proses penyembuhan.
__ADS_1
Entahlah ada perasaan lesu menyambut kedatangan mas Tama untuk menjemput aku dan Mak e. aku menyalami tangannya dan berusaha menyembunyikan perasaan kecewa ku padanya. Namun pesan mas Hardi ketika akan pulang ke kampung membuat ku menahan gejolak dihati yang sedang meronta. Ya, hati ku meronta karena mas Tama dulu bilang aku boleh merawat Mak. Hari ini ternyata aku dihadapan kan satu sisi yang tidak bisa aku terima namun aku harus patuh akan keputusan nya selaku imam ku.
"Ran... mas tahu kamu kecewa pada mas. Maaf kan mas ya. Mohon sekali ini saja mengerti mas. Mas sangat yakin ini terbaik buat kamu, Mak e dan program kita untuk segera punya anak" mas Tama duduk disebelah ku dan mengecup kening ku.
"Tunggu Mak e bangun ya mas, kasihan kalau harus dibangunkan" ucapku malas menanggapi isi hati nya yang jelas-jelas hati ini menolaknya namun bibir dituntut untuk terkunci rapat.
"Ini apa Ran?" mas Tama melihat paperbag yang ada di atas tas Mak e."
"Owh itu tadi ada dokter Tiara yang aku ceritakan pada mas Tama beberapa hari lalu. Dia kasih ini buat Mak e. alat terapi pijat punggung agar Mak e tubuhnya tidak terasa pegal-pegal mas."
"Baik sekali teman mu itu. Baru beberapa hari bertemu. Untung dia wanita Ran. Jika tidak maka mungkin sekarang mas sedang menahan cemburu. Atau jangan-jangan dia suka sesama jenis?" mas Tama memicing kan matanya yang aku tahu maksud hatinya menggoda ku yang sedang dalam keadaan bad mood.
"Ih... mas Tama... kalau didengar orang nya gimana? orang nya memang baik kok mas. Tapi kemarin ternyata perjalanan hidupnya yang jika melihat sepintas dia wanita yang sempurna dan baik-baik saja."
"Setiap manusia dimuka bumi ini pasti memiliki cobaan sendiri-sendiri Ran. Hanya saja itu akan terasa berat jika kita melihat alangkah enaknya orang itu... andai... maka kata andaikan itu harus kita hindari agar diri ini tidak putus asah" Jawab mas Tama yang sekarang sudah meletakan kepalanya diatas pangkuan ku.
"Kok jawab mas bisa sama ya... dia juga menyikapi begitu" aku ikut memicingkan mata pada mas Tama.
"Jangan-jangan dia mantan pacar mas, atau jangan-jangan dia selingkuh an mas Tama Ran?" mas Tama menatap ku sambil memunculkan lesung pipi nya dan mengedip-ngedipkan mata nya yang jelas menggoda ku.
__ADS_1
"Mas.....!. Ucapan doa loh mas. Punya niat buat selingkuh? lagian Tiara itu ga bakal suka sama mas Tama. Dia perempuan baik-baik dan paham agama." aku pun ikut memanasi mas Tama dan memegang kedua pipinya seolah memberi pengertian pada suami ku itu.
"Berarti mas bukan lelaki yang baik? sayang sekali nasib istri mas kalau begitu..." mas Tama tertawa melihat ekspresi ku yang langsung cemberut. Namun cepat mas Tama mengecup bibir ku. Membuat aku kaget karena khawatir Mak e bangun dan melihat apa yang barusan dilakukan mas Tama.
"Ih mas, kalau Mak e lihat bagaimana".
"Lagian beberapa hari ini kamu itu senyum nya ga dari hati. ibarat kata sayur asem tanpa garam. Ini hari pertama mas lihat kamu tersenyum dari hati setelah beberapa hari mas kehilangan senyum tulus dan cantik istri mas" mas Tama kini duduk dan memandang wajah ku.
"Mas... Rana hanya kecewa Mak e tidak boleh dirumah kita" aku mencoba sabar namun air mata yang beberapa hari lalu selalu menetes disaat mengingat keputusan mas Tama yang tak boleh Mak e tinggal dirumah kami. Dan hari ini air mata ini pertama kalinya muncul dihadapan sang pembuat suasana hati sendu hingga butir-butir hangat ini mengalir.
Mas Tama memeluk ku. Dia mengusap lembut kepala dan lalu punggung ku.
"Maaf sayang... maaf kan mas yang tidak bisa sempurna. Namun yakin lah mas menyayangi kamu, mas beruntung punya istri yang patuh pada suami nya. Bahkan mas tahu kamu begitu tegas dan punya prinsip. Tapi hari ini puncaknya mas tahu kalau kamu istri solehah. Kamu mampu menahan air mata mu. Kamu mampu menahan semua protes mu pada mas. Kamu mencoba untuk selalu bermuka manis, bersuara manja, berusaha melayani jasmani dan rohani mas dengan senang hati beberapa hari ini walau mas tahu hati mu sedang tidak baik-baik saja".
Aku menangis terisak didalam pelukan suami ku. Hanya ini yang mampu kulakukan. Rasa sesak yang beberapa hari ini ku tahan agar tak terdengar dan terlihat suami ku. Karena setelah mas Hardi yang memberikan nasihat dan pesan. Mak e juga tak ingin tinggal dirumah kami. Dan nasihat Tiara pada ku tentang bagaiman seorang istri ketika dihadapkan dalam waktu bersamaan untuk berbakti kepada orang tuanya atau mematuhi permintaan atau keputusan suami nya.
"Kamu tahu Ran, Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, hak siapakah yang harus diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab hak suaminya. Lalu, Aisyah kembali bertanya, sedangkan bagi suami hak siapakah yang lebih utama? Beliau menjawab ibunya. Dan kamu pasti paham, setelah orang tua kita mengucapkan saya nikahkan anak perempuan saya dengan engkau kemudian si suami menjawab saya terima nikahnya dengan mahar tersebut. Maka, seorang anak perempuan atau istri adalah milik suaminya. Maka, maka ia harus tunduk. Beda dengan seorang suami ketika ia dipanggil istrinya bersamaan dengan panggilan orang tuanya, maka yang pertama ia jawab adalah panggilan orang tuanya. Kemudian, jika seorang istri dipanggil bersamaan orang tuanya dan suaminya, maka yang harus ia dahulukan adalah panggilan suaminya. Namanya suami, ia adalah seorang pemimpin karena dia harus bertanggung jawab terhadap istrinya. Termasuk ketika kamu bilang ia meminta mu berjilbab dihari pertama kamu menjadi istri nya. Kamu beruntung memiliki suami seperti dia di akhir zaman seperti ini Ran"
Penjabaran dan nasihat Tiara membuat aku makin menutup rapat bibir untuk bertanya, membantah dan protes. Tapi hari ini biarlah air mata dan Isak tangis menjadi wakil semua isi hati ku beberapa hari ini.
__ADS_1