Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 66 JANGAN BERHENTI MENCINTAI KU


__ADS_3

Aku menatap ke jendela. Ku tahan rasa pedih dihati dan membiarkan air mata membasahi pipi. Mas Tama masih menggenggam tangan ku. Ada rasa sakit dihati ini, ini kali pertama nya mas Tama membentak ku dan beberapa kali dihadapan mas Ardi, dihadapan orang lain.


Selama ini aku bisa dengan mudah memberikan masukan dan nasihat kepada teman seprofesi ku dan Lilik untuk bersabar ketika suami mereka membentak atau meninggi kan suara kepada mereka. Tetapi ternyata inilah yang teman-teman ku keluhkan dan rasakan. Ternyata teori begitu mudah daripada praktek. Dan memberi nasehat kepada orang lain lebih mudah daripada untuk diri sendiri. Sakit, sakit sekali.


Tak lama taksi yang kami tumpangi berhenti di sebuah hotel. Mas Tama turun terlebih dahulu dan membukakan pintu. Lalu membayar taksi yang kami tumpangi. Aku turun dari mobil, ku palingkan wajah saat mas Tama menatap ku.


Aku mengikuti langkah mas Tama karena ia masih menggenggam tangan ku. Lalu kami naik kelantai dua terdapat sebuah restoran yang cukup ramai lalu mas Tama menarik aku kedalam lift dan menuju lantai 6. Didalam lift mas Tama menarik aku kedalam pelukannya.


Tangis ku pecah seketika, aku tidak bisa lagi menahan Isak tangis ku. Aku menangis di dekapannya, Entahlah belaian lembut pada kepala ku yang terlapis kerudung caramel ini biasa menentramkan kali ini tidak bisa menumbuhkan ketenangan, kenyamanan. Aku hanya ingin menangis sepuas-puasnya.

__ADS_1


"Menangis lah sayang..... Mas minta maaf karena membentak mu tadi. Mas salah... mas salah... mas minta maaf" suara mas Tama terdengar serak.


Ku angkat kepala ku dan melihat wajah suami ku. Wajahnya sendu, mata nya memerah dan seketika bulir-bulir bening mengalir dari ujung matanya dan membasahi pipi nya. Pertama kali aku melihat suami ku menangis, pertama kali aku mendengar nya terisak. Bahkan ketika proses ijab qobul suami ku ini masih bisa menahan air itu tidak jatuh walau terlihat jelas diujung netra nya bulir-bulir itu ingin mengalir.


Aku mengelap air mata suami ku dengan ujung jari. Aku menatap dalam netra nya. Dimanakah tatapan tajam tadi, dimanakah wajah yang penuh amarah tadi. Ternyata hati ku yang terbiasa diperlakukan dengan lembut sudah salah menduga. Tatapan tadi, amarah tadi bukan di tujukan pada ku. Melainkan pada lelaki yang telah menyentuh ku, Lelaki dari masalalu ku.


"Rana.... Rana takut mas Tama marah sama Rana mas..." Aku kembali memeluk mas Tama.


Ketika pintu lift terbuka mas Tama mengajak ku kesebuah kamar.

__ADS_1


"Kamu masih marah sama mas?" tanya mas Tama setelah kami duduk di sofa.


Aku menggeleng kan kepala lalu menangkupkan kedua tangan ku ke wajah mas Tama.


"Terima kasih untuk semuanya, untuk cinta mas Tama yang sempurna. Rana terlalu terbuai dengan kelembutan cinta mu mas. Hingga sekali melihat gelora cinta mas yang begitu besar dalam wujud amarah itu Rana mengira mas marah pada Rana. Jangan pernah berhenti mencintai ku mas... dengan semua kelembutan mu dan Menyempurnakan kekurangan istri mu ini"


Kami mengakhiri rasa sakit dihati kami dengan makan siang bersama didalam hotel ini. Dan ternyata mas Tama sengaja ke hotel ini ingin bertemu dengan teman bisnisnya yang merupakan pemilik hotel ini, namun melihat aku menangis tadi maka mas Tama mencoba menenangkan aku terlebih dahulu. Mas Tama meminta ku untuk istirahat dikamar hotel dulu sambil menunggu nya bertemu dengan rekan bisnis nya.


Aku berharap mas Tama tidak membahas masalah tadi karena kasihan mas Ardi jika betul-betul kata bosnya tadi akan dipecat.

__ADS_1


__ADS_2