
Aku berjalan menuju lobi toko bunga ini dengan menyembunyikan tangan kanan ku didalam jilbab. Terlihat mas Tama di pinggir pintu sedang berdiri menunggu ku.
"Aku mohon berhentilah memuji wanita itu di dalam mobil. Bukan karena aku, tapi karena ada Mak e. Hampir 2 tahun kita menikah aku tahu kamu tidak bohong jika wanita itu hebat di bidangnya. Aku mengenal mu mas walau ternyata aku kecolongan dibalik wajah lugu mu. Kita kesana dan lihat apakah dokter yang kamu katakan itu betul hebat mas'."
Baru berapa langkah aku berjalan meninggalkan mas Tama namun aku berhenti dan lanjut mengeluarkan suara.
"Dan jika memang nanti aku berkenan Mak dirawat oleh nya dan dia mampu menyembuhkan Mak e maka talak aku dan segera urus perceraian kita" tanpa melihat ke arah mas Tama yang ada dibelakang ku, aku bergegas berjalan meninggalkan mas Tama dan masuk ke dalam mobil.
Ku ukir senyum ku melihat Mak e di dalam mobil. Aku berharap ma e tidak tahu pembicaraan ku pada mas Tama barusan. Dan suasana hati ku yang saat ini sedang kacau.
Mas Tama membuka mobil dan memasukkan buket bunga ke kursi yang ada disebelahnya. Dimulai mengemudi Kembali, tidak ada obrolan sepanjang perjalanan. Tangan kiri ku menggenggam tangan kanan Mak e.
Tiba-tiba mas Tama mendadak berhenti mengemudikan mobil di tepi jalan yang masih terlihat ramai.
"Ciiittt...."
"Astaghfirullah...." Aku memeluk erat Mak e walau kami sama-sama mengenakan sabuk pengaman, namun tubuh kami sedikit terdorong ke depan ketika mas Tama mengehentikan mobil secara mendadak.
"Ran... jilbab mu berdarah... Darah apa Ran?" Mas Tama kini berbalik ke arah ku setelah dia membuka sabuk pengaman yang ada di tubuhnya.
Aku kaget karena pikiran ku yang tak berada disini dan aku tidak memperhatikan juga, aku kaget karena jilbab hijau tosca ku terlihat bercak darah yang cukup banyak namun tak sampai menetes. Setelah aku lihat ke arah perut terdapat beberapa bercak darah juga di gamis ku.
Mas Tama sudah keluar dari mobil dan membuka pintu mobil yang berada disamping ku. Mas Tama menarik tangan kanan ku yang dari tadi ku sembunyikan dibalik jilbab ku. Aku berusaha menahan tangan ku agar tetap berada di dalam jilbab.
Ini kali pertama selama pernikahan ku mas Tama berlaku kasar pada fisik ku. Dia menarik dengan kasar tangan kanan ku hingga tampak jelas darah yang keluar dari ruas jari-jari tangan kanan ku. Ada yang sudah mengering namun masih terlihat basah di bagian hari jempol dan telunjuk.
__ADS_1
"Ran.... ini kenapa?" aku diam tak menjawab pertanyaan mas Tama karena aku tidak ingin mak e tahu kejadian di toko tadi.
Mas Tama membuka sabuk pengaman ku dan menarik tangan ku keluar mobil. Lalu membuka pintu depan dan menyuruh ku masuk di kursi yang berada di sebelah kemudi namun dia memindahkan buket bunga ke belakang mobil.
Setelah menutup pintu mas Tama pun masuk kedalam mobil. Terlihat sudah ada kotak P3K ditangan nya. Mas Tama menarik kembali tangan yang kembali ku simpan dibalik jilbab ku.
"Sini mas obati dulu" aku hanya diam dan menatap kosong ke arah kaca depan. Entah karena ada Mak e atau aku sudah puas menangis dikamar mandi. Kini aku hanya merasa hampa, tidak berdaya, dan sedih.
Aku merasa ada tetesan hangat mengenai pergelangan tangan ku. Aku menoleh ke arah mas Tama dan terlihat lelaki ini menangis. Hal yang langka terjadi pada mas Tama. Terlihat tarikan napas nya yang dalam dan berat setelah ia selesai memperban tangan ku. Dan Isak tangis lelaki itu terdengar dengan wajah tertunduk memandangi telapak tangan ku yang telah terbungkus kain kasa.
"Maafkan mas Ran, maafkan mas.... Mas tidak bermaksud menyakiti kamu." ucapnya lirih dan mencium tangan kanan ku.
"Mas berjanji tidak akan meninggalkan kamu untuk wanita manapun, Kamu adalah bidadari surga yang Allah kirimkan untuk mas" mas Tama mengangkat wajah nya dan menatap ku dengan wajah sendu dan sesal.
"Tidak usah berjanji jika tidak bisa menepati, tidak usah berjanji jika akhirnya hanya akan menyakiti" Ucap ku sebelum keluar dari mobil dan Kembali duduk di sebelah Mak e. Aku kembali memasang sabuk pengaman.
Aku menoleh ke arah mak e. Mak e menatap ke arah ku dengan wajah yang terlihat setengah bibirnya terangkat karena stroke yang di derita Mak e. Tangan kanan Mak e pun terlihat menggengam dan kaku.
"Mak, yakin ingin berobat di tempat yang mas Tama maksud? Mak yakin dengan dokter yang mas Tama maksud?" Aku berusaha mencari keputusan apa yang aku buat sebelum tiba di klinik dokter terapi yang mas Tama maksud.
"Aaa....u....." Mak susah payah mengeluarkan dua kata itu, terlihat Mak e mengangguk kan kepalanya dan mengedipkan matanya.
Aku memeluk Mak e dengan tangan kiri ku.
"Lanjutkan mas, keputusan ku masih masih sama di toko bunga tadi." Aku menatap ke depan dan sengaja aku menatap ke arah spion dan tatapan kami bertemu di spion itu. Aku menatap mas Tama dengan tajam namun lelaki itu menatap ku dengan sisa-sisa air mata serta tatapan sendu.
__ADS_1
Aku membuang pandangan ku ke sebelah kanan dan menatap ke arah luar jendela. Aku merasa jijik, aku berharap semua ini hanya lah mimpi namun tidak mungkin. Aku berharap ini adalah April mop namun ini bukan bulan April.
Hari ini ucapan dari wanita paruh baya guru Matematika teman mengajar ku di SMA swasta kemarin terbukti.
"Hati-hati buk Kirana, lelaki itu kadang Tunak dirumah belum tentu diluar. Mereka lelaki itu kadang bersifat baik, berkelakuan baik ternyata menutupi kelakuan bejatnya diluar. Aku loh ditipu mas Amir alasannya dinas luar, tahu nya main gila sama teman sekantor hampir 2 tahun."
Aku kembali meneteskan air mata dalam diam dan masih menatap ke sebelah kanan. Karena aku tidak ingin Mak e melihat. Ingin ku tahan namun tak berdaya, air mata ini mewakili suasana hati.
Terlihat kami telah memasuki sebuah rumah yang sangat besar bagi ku. Mas Tama memarkir kendaraannya di depan rumah itu. Aku masih menatap keluar dan dan memandangi rumah itu.
Wajar jika mungkin suami ku masih mencintai wanita itu, rumahnya yang sekaligus tempat prakteknya saja semegah ini, pasti wanita itu kaya, cantik dan pasti sepadan mendampingi mas Tama. Tiba-tiba hati ku menciut untuk keluar mobil, beberapa kal bertemu rekan bisnis mas Tama kadang membuat ku cukup minder namun kali ini aku akan bertemu mantan pacar mas Tama.
Terlihat mas Tama telah menunggu membuka pintu yang berada di sebelah Mak e dan menggendong Mak e, lalu meletakkan Mak e diatas kursi roda.
Lalu kembali ke pintu tadi dan melihat ke arah ku.
"Ayo Ran kita sudah ditunggu, kita masuk dulu. Apapun keputusan mu setelah bertemu dengan dia mas akan menyetujui nya. Hari ini mas Bahagia sekali karena memiliki istri Soleha, mas yakin kamu melakukan sesuatu dengan tangan mu, karena kamu merasa bersalah karena tangan itu menampar mas tadi. Maka mas akan melakukan hal yang sama pada bibir mas ini, jika keputusan kita setelah bertemu wanita yang mas cintai itu akan kembali menyakiti mu."
Mas Tama menutup pintu itu dan terlihat mendorong kursi roda Mak e dan sudah berada disebelah ku.
"Biar aku saja yang dorong mas, kamu ambilkan hadiah di toko bunga tadi untuk dokter itu. Aku meraih pegangan kursi roda Mak e.
Batin ku kembali bermonolog didalam hati.
"Apapun keputusan Rana Mak, yakinlah terbaik bagi Rana, Mak e dan dua orang yang saling mencintai Mak. Walau Rana menikah Berujung cinta pada mas Tama, namun kini cinta itu menyakiti Rana Mak...."
__ADS_1