Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 18 TEMAN DEKAT NYA RANA


__ADS_3

Tak terasa sudah akhir semester 7 dan satu Minggu lagi akan Ujian semester, Kini aku sudah sedikit lega karena Judul skripsi yang ku ajukan pada dosen pembimbing ku diterima dengan sekali pengajuan. Itu berarti akhir tahun peluang ku untuk Wisudah semakin besar.


Sepulang nya dari kampus mengambil nomor ujian semester aku merapikan beberapa buku yang pagi tadi belum sempat ku bereskan karena terburu-buru sudah ditunggu Lilik di depan gang kostan ku.


Aku bersyukur sekali karena kami berlima bisa berjalan mudah proses pengajuan judul walau dosen pembimbing skripsi kami berbeda. Setidaknya impian kami untuk bisa bersama-sama mengenakan toga bisa terwujud.


Klunting!


Aku mengerutkan alis sebelah kanan ku. Nada itu. Kalau tidak salah aku sematkan untuk buk kades dan mas Tama. Aku membuka pesan wa yang baru saja masuk. Benar ternyata itu dari buk kades.


“Ran, besok ibu mau kekota. Boleh mampir ke kostan kamu Ran? Tapi ibu besok diantar sama Tama?”


Aku masih memikirkan jawaban apa yang akan ku katakan. Kebetulan besok tidak ada kuliah karena untuk satu Minggu kedepan adalah Minggu tenang untuk menghadapi ujian semester.


“Oh, iya buk silahkan kebetulan Rana juga tidak ada kuliah. Besok telpon saja buk kalau seumpama mas Tama lupa jalan arah ke kostan Rana bu” jawab ku


“Oh baiklah mbak Rana terima kasih ya”


“Sama-sama Bu”


Ada apa ya buk kades mau mampir ke kost an ku? Aku jadi bertanya-tanya


Semoga tidak membahas yang tempo hari pernah buk kades tanyakan padaku. Karena aku akan begitu sungkan jika harus kembali menolak mas Tama. Tetapi yang aku heran mas Tama itu mengatakan dengan yakin kalau dia menyukai aku. Tapi sekalipun dia tidak pernah mengirim pesan wa kepadaku bahkan saat itu kupikir dia yang menelpon ternyata ibunya yang ada keperluan. Laki-laki yang aneh. Dari matanya aku bisa lihat kesungguhan tapi melihat beberapa bulan dari dia meminta nomor handphone ku sedikit aneh saja jika dia tidak ada tindakan sama sekali apakah itu pertanda bahwa dia tidak serius dan buk kades sajalah yang mempunyai harapan lebih padaku. Ah kenapa aku jadi terlalu jauh memikirkan mas Tama bukan kan aku tidak memiliki rasa untuknya. Dan aku tidak akan membuka hati terlebih dahulu. Hati ini masih belum sembuh dari luka lama.


Akhirnya aku mematikan Lampu ruang kamar ku agar bisa terpejam karena malam sudah semakin larut.


Keesokan pagi nya aku menyiapkan kedatangan buk kades dengan membuat makan siang sedikit lebih, khawatir beliau kemari sampai saat makan siang daripada seperti waktu itu aku diajak makan dan duduk satu meja dengan mas Tama. Aku akan berusaha menghindar dari mas Tama dan tanpa berpikir terlalu lama aku sedikit mencium gelagat bahwa buk kades mau menjadi Mak comblang aku dan anaknya. Aneh memang dizaman seperti ini ada orang tua seperti buk kades tapi ternyata aku menemukan manusia langka seperti beliau.


Pukul sudah menunjukan 11.20 terdengar suara dari luar dan bisa ku pastikan bahwa suara itu adalah suara buk kades dengan logat Jawa tapi Jawa Ngapak.


“Owh yang itu ya buk yang nomor 5 ya, baik. Terima kasih” suara khas buk kades terdengar dari arah luar kost an ku.


Aku langsung menuju teras dan ternyata betul tebakan ku. Buk kades bersama Dwi dan mas Tama sedang berjalan ke arah Kost an ku terlihat membawa beberapa bungkusan. Di tangan mas Tama. Kemungkinan mereka pulang berbelanja.


“Assalamualaikum Rana....” ucap buk kades setelah sampai di depan teras ku dan langsung menyapa ku. Aku pun cepat menerima uluran tangan beliau dan ku cium tangan nya sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua yang selama ini kami mahasiswa KKN menganggapnya ibu bagi kami selama masa KKN didesa Wukirsari.


“Walaikummsalam , mari Bu mari Masuk. Ayo Dwi, mas Tama silahkan masuk tapi maaf ruangannya kalau kurang nyaman” ujar ku kepada buk kades dan keluarganya ketika mereka menuju kedalam kost an. Seperti ini lah kost an ku ketika malam ruang yang kami tempati ini akan menjadi kamar tetapi ketika siang tempat ini bisa menjadi tempat belajar, tempat ku ngobrol bersama teman-teman ku tentu khusus perempuan karena ibu kost melarang keras anak laki-laki masuk kedalam kost. Area tamu laki-laki hanya di teras jika hanya sendirian atau bukan keluarga.

__ADS_1


“Kamu itu Ran ya sama saja mau dimana yang pentingkan tidak kehujanan dan kepanasan” jawab buk kades.


“Sebentar ya buk saya ambil kan minum” pamit ku kearah dapur.


Tidak beberapa lama aku kembali dengan 3 Gelas Teh hangat dan sepiring brownies yang kupesan di toko roti depan gang kost an ku.


“Silahkan Bu, mas Tama dan Dwi di minum.” Aku mempersilahkan mereka untuk minum.


“Terima kasih Ran, untung kamu ga ada kuliah ya Rab jadi bisa ngobrol. Ibu sudah lama ingin mampir kemari tapi selalu Tama beralasan kamu sibuk kuliah, katanya kalau semester akhir itu sibuk sekali. Emang betul Ran?” tanya buk kades seakan menyelidiki apa betul yang dikatakan anak sulungnya.


“Eh, iya Bu,. Karena sudah mulai pengajuan judul skripsi dan mencari referensi untuk proposal dan juga kebetulan kami pulang KKN hanya berselang beberapa bulan sudah mau ujian semester dan Minggu ini adalah Minggu tenang sebelum menempuh ujian semester Bu.” Jelas ku seolah menyakinkan buk kades bahwa anak sulungnya betul-betul memberikan alasan yang berdasarkan realita bukan mengada-ada.


Aku akhirnya menjadi penasaran pada pria yang bernama Tama ini, bagaimana setelah mengungkap perasaan nya pada ku lalu dia meminta nomor ku dan tidak ada kelanjutan dari obrolan nya yang saat itu menyatakan isi hati nya. Begitu bertolak belakang sekali melihat sikapnya dengan isi hati nya yang sempat diutarakan padaku dan bisa ku lihat jelas pada saat itu dari wajah dan cara penyampaian nya bahwa dia tidak berbohong akan perasaannya.


“Maaf yang Ran jadi mengganggu waktu belajar dan istirahat kamu hari ini” ucap mas Tama setelah meminum teh yang ku sediakan tadi.


“Ah ga apa-apa kok mas lah wong liburan kok belajar, hehe” aku berkata diikut tawa karena merasa sedikit kikuk ketika mas Tama berbicara pada ku dan mata kami Kembali bertemu dalam satu pandangan.


“Berarti 2 bulan lagi sudah masuk semester akhir ya Ran? Dan wisuda nya akhir tahun atau awal tahun?” tanya mas Tama pada ku lagi


“Iya mas, sepertinya awal tahun depan. Mudah-mudahan dipermudah untuk sesuai target. Soalnya ini kemarin judul Skripsi nya diterima dan lanjut ke proposal mas.” Jawab ku.


“Ran ada yang nyariin kamu,” ujar nya padaku dan melihat ke arah seseorang yang berjalan menuju kemari


"Assalamualaikum" ucap pria itu ketika sudah di depan pintu.


"walaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh" ucap kami yang didalam ruangan bersama dan melihat pria itu masuk setelah ku persilahkan masuk.


"Ustad Abdul,.... silahkan masuk ustad maaf tidak ada kursi cuma lesehan" ucap ku dan tak lupa ku persilahkan bu Lusi untuk ikut duduk bersama namun beliau langsung pamit karena ada keperluan.


"Wah Ustad Abdul sendiri atau sama siapa kesini?" tanya ku pada ustad Abdul yang sekarang duduk disebelah mas Tama dan disebelah pintu masuk.


"Sendiri kebetulan tadi sowan ke Kyai yang didaerah sini, trus aku teringat kamu akhirnya aku coba mampir tapi tadi lupa yang mana kostan mu. sepertinya ibu kost mu cukup perhatian sehingga aku diantar langsung ke depan pintu kost an mu Ran."


"Owh maaf kalau ustad kurang berkenan, maklum kalau siang begini tidak ada satpam nya tad, dan ini kost an khusus putri jadi tamu laki-laki memang agak di perketat kalau bertamu." pinta ku karena terlihat seperti ustad Abdul merasa kurang nyaman diantar langsung oleh buk Lusi.


"Kamu kenapa tidak pulang Ran?" tanya ustad Abdul kepadaku.

__ADS_1


"Mungkin 2 minggu lagi tadz setelah ujian semester. Sekarang masih Minggu tenang. Memang nya ada apa tadz?" tanya ku penasaran karena ustad Abdul ini tidak pernah ke kost an ku seingat ku saat beliau kemari yaitu ketika diminta mas Hardi mengantar lemari dan itu menyewa mobil Pak Rohman ayah dari Ustad Abdul.


"Loh kamu tidak tahu kalau Buk Hafso di rawat dipuskesmas sudah hampir 3 hari?" tanya nya pada ku dan membuat tubuh ku lemah seketika dan menatap ustad Abdul seketika tanpa menundukkan pandangan ku ketika wajahnya mu menghadap ke arah ku. Akhirnya beliau yang menundukkan pandangannya karena aku masih menatapnya dengan air mata sudah berada diujung mata ku seakan meminta izin untuk turun ke pipi ku.


"Wah saya minta maaf, saya tidak tahu kalau kamu tidak tahu Ran. Kupikir kamu tidak ada tumpangan karena beberapa hari ini semua sopir dari desa kita tidak ada yang kekota karena ada banyaknya yang punya hajat, maka tadi aku berinisiatif untuk memberimu tumpangan" jelas ustad Abdul pada ku melihat ekspresi ku dan airmata yang tadi ku tahan sudah mengalir dengan bebas di kedua pipiku.


Buk Kades langsung menggenggam erat tangan ku seolah memberi kekuatan. dan memeluk ku seperti mengerti bahwa aku butuh tempat untuk menutupi air mata yang mengalir ini. Perasaan ku yang begitu merasa sedih, bingung kenapa tidak ada yang memberi kabar pada ku. Apa karena ibu tahu jadwal semester ku sebentar lagi.


"Maaf Ustad ini siapa nya Rana ya?" kudengar suara Mas Tama bertanya kepada ustad Abdul


"Owh saya... saya teman Mas nya Rana"


"Owh berarti tidak ada hubungan keluarga atau darah seperti itu dengan Rana?" tanya mas Tama kembali


"Itu.. iya tapi keluarga kami sudah seperti keluarga kebetulan Ayah saya itu teman ALM bapak nya Rana" Jelas Ustad Abdul pada mas Tama.


"Kamu mau pulang Ran?" tanya buk kades setelah aku mencoba mengelap air mataku dengan tissue.


Aku hanya mengangguk dan berpikir haruskah aku menerima tawaran Ustad Abdul atau meminta kak Fhey dan Rudi serta Lilik mengantar ku pulang kampung yang kira-kira jarak tempuhnya hampir 3 jam dari kota.


"Tam, kita antar Rana pulang ya? mohon maaf Ustad Kalau Rana pulang bersama ustad saya rasa Ndak pantas kalau kalian hanya berdua saja didalam mobil. Biar saya yang antar dan anak-anak saya sekalian saya besuk ibunya Rana" tanya buk kades pada mas Tama dan langsung memberikan penjelasan kepada ustad Abdul.


"Owh... kalau saya terserah Rana buk. Saya sama keluarga Rana ini sudah seperti keluarga" kilah ustad Abdul yang merasa tersentil akan ucapan buk kades.


"Gimana Ran?" tanya Buk kades padaku.


"Apa ga merepotkan ibu dan mas Tama?" tanya ku pada buk kades.


"Ya enggak lah Ran ibu malah senang bisa besuk ibu kamu yang lagi sakit, Dwi juga senang bisa jalan-jalan lihat suasana baru. Tama kebetulan pas Libur iya kan Tam?" tanya buk kades pada mas Tama.


"Iya Ran, saya memang lagi libur" jawab mas Tama singkat.


"Sudah cepat kamu siap-siap, mumpung masih siang" titah buk kades. Dan aku pun bersiap2 mengambil beberapa baju dan beberapa buku yang kurasa harus kubawa ke desa.


"Baiklah kalau begitu kita bisa bersama-sama pulang nya." ustad Abdul berkata kepada mas Tama. Dan kulihat anggukan dari mas Tama disertai senyuman


"Ngomong-ngomong mas nya Siapa nya Rana ya?" tanya ustad Abdul pada mas Tama

__ADS_1


Tiba-tiba buk kades langsung menjawab pertanyaan ustad Abdul.


"Teman dekat nya Rana!" jawab buk kades singkat dan penuh semangat.


__ADS_2