Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 48 MENANTI KEJUJURAN


__ADS_3

"Tega kamu mas.... belum satu bulan kita menikah sudah berkali-kali kamu buat aku kecewa. Dan hari ini kamu menerima tamu wanita dan kamu ajak kedalam rumah disaat istri mu tidak ada. Tidak bisakah kamu berbicara di teras dengan wanita itu. Dan kamu dengan mudahnya mengatakan mencintainya sedang kamu berstatus suami ku mas......" Aku menangis sejadi-jadinya di Pantai Kerang Mas.


Bahkan warna kutek ditangan ini pun masih begitu nyata mas....



Hhhh... satu jam aku mencoba bermonolog dengan hati ku. satu jam aku menetralkan isi kepala dan hati ku yang sama-sama berasa panas dan ingin pecah. Deru ombak di pantai Kerang Mas ini seolah ingin menjadi saksi tangis dan rasa sedih ku hari ini.



Setelah cukup aku menangis dan merasa tenang, aku memutuskan pulang. Bagaimana pun status ku masih istrinya dan aku tidak ingin membuat Mak e malu seakan aku tidak di didik, pergi dari rumah tanpa pamit suami. Aku akan diam dan tidak membahas apa yang terjadi. Aku akan melihat jika dia suami yang baik maka dia pasti akan menceritakan padaku kejadian sore ini.


Ketika aku ingin mencari ojek terdapat dua tangan yang menutupi mata ku. Dari tangan nya maka bisa kupastikan kalau ini tangan seorang wanita.


"Siapa...."


"Coba tebak...." suaranya

__ADS_1


"Lilik...... buruan deh... aku buru-buru...."


"hehe.... tau aja kamu Ran. pasti kangen ya sama sahabat mu ini. Mas Tama mana?"


"Ada diparkiran. Makanya aku ditunggu jadi buru-buru" jawab ku dan terlihat Tyo mendekat dan membawa es kelapa serta Kanton plastik hitam.


"Kamu tidak bohong kan???" Lilik memajukan wajahnya menatap lekat mata ku.


"Ih... apaan sih Lik..... sudah mau nikah aja masih pacaran..... sabar satu bulan lagi kan halal?" Aku mengganti topik pembicaraan karena sudah pasti sahabat ku ini melihat mata sembab ku.


"Ada diparkiran, udah deh aku mau pulang sudah dari tadi Disini. Kalau tahu tadi janjian kita ya..."Aku berbohong berharap kecurigaan Lilik pudar karena sahabat ku itu akan terus bertanya jika ada sesuatu yang aku sembunyikan.


Terlihat Tyo berjalan ke arah Gasebo yang barusan saja menjadi saksi keluh kesah dan air mata ku. Tetapi Lilik masih berdiri di dekat ku. Ketika aku akan pergi Lilik menarik tangan ku.


"Selama nya sahabat tetap sahabat Ran. Sekalipun kamu, aku sudah menikah.... ceritakan lah jika ada masalah. Pundak ku dan telinga ini masih akan tetap menjadi teman mu disaat kamu ada masalah.... Aku tunggu cerita mu Ran... Kamu tidak bisa berbohong pada ku Ran.... Dan., Semoga kamu bahagia sahabat ku.... Dan kamu tidak menyesal menikah dengan mas Tama tanpa cinta" Lilik memeluk ku dan Kalimat terkahir Lilik bisikan pada ku membuat netra ku kembali memerah. Aku mengangguk kan kepala dan cepat berjalan ke arah parkiran.


Hampir 25 menit aku tiba di bengkel tadi Dan beruntung motor yang ku tinggalkan tadi baru selesai diperbaiki dan mau diantar kerumah. Bersamaan dengan kedatangan ku akhirnya pemilik bengkel mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum....." ucap ku pelan memasuki ruang tamu yang pintunya terbuka. Ternyata mas Tama berada di kamar atas karena terdengar ia menjawab salam ku dari kamar atas.


Aku menuju dapur menyusun belanjaan ku kedalam kulkas serta menata sate yang ku beli di simpang tiga arah rumah mas Tama tadi karena bisa kupastikan mood ku untuk memasak sore ini sudah hilang.


"Loh Ran.... beli sate pak Dadang?" kamu jalan-jalan dulu ya? kan pak Dadang di perempatan biasa mangkal" Mas Tama tiba-tiba duduk di bangku meja makan dan melihat sate yang sedang ku tata diatas piring.


"Iya mas, tadi aku keliling dan dari wangi nya enak jadi aku beli sate saja untuk sore ini ga apa-apa kan?"


"Ga apa-apa. asal istri mas ini senang mas juga senang. Kamu tahu Ran... almarhumah ibu juga senang sekali dengan sate... kalau dulu bapak pulang dari ngantar barang itu pasti oleh-oleh nya sate...." Mas Tama tertunduk menatap sate yang ada dihadapannya.


"Sudahlah mas.... Kalau sekiranya membuat kamu bersedih... maka tidak membicarakan masalalu itu adalah yang terbaik bukan berarti kita melupakan masalalu kan?" Aku yang kini duduk menghadap sate ini sedang berpikir seharusnya aku pasti dengan semangat menghabiskan menu ini tetapi dengan suasana hati begini aku tidak selera makan tetapi pasti mas Tama akan curiga.


"Kamu betul..... Kita tidak akan membicarakan masalalu kita akan membicarakan masa depan....Ran.... Kamu habis menangis?" Selidik mas Tama mungkin melihat mata ku yang masih sembab.


"Tadi pas pulang aku ga pakai helm terus kelilipan. ini tadi aku langsung cuci muka malah tambah perih jadi aku rendam dalam bak matanya biar keluar kotoran yang masuk jadi kayak habis nangis...." Aku kembali berkilah. Aku menanti kejujuran mu mas. Kejujuran yang membuat air mata ini tadi mengalir tak terbendung.


Kami menghabiskan sate bersama lalu bersiap untuk mandi karena sebentar lagi magrib. Masih menanti mu bercerita siapa sore tadi kemari dan apa yang terjadi mas... Aku menanti kejujuran mu mas.... Batin ku dalam hati usai shalat magrib.

__ADS_1


__ADS_2