Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 12. AMBYAR


__ADS_3

Akhirnya kami benar-benar memesan 2 meja. yang berjarak kira-kira 3 meter dari meja buk kades dengan meja makan mas Tama dan aku.


"Kamu mau pesan apa Ran?" tanya mas Tama lembut pada ku dan menatap ku lalu mengalihkan pandangan nya ke menu yang ada diatas meja setelah tatap kami bertemu. entahlah laki-laki ini berwibawa, dewasa, lembut serta manis namun tidak ada getaran apapun yang aku rasakan hanya rasa nyaman saja karena mas Tama selalu menjaga pandangan nya ketika kami bertemu pandangan. dan itu pun ku lihat terjadi setiap dia bertemu dengan perempuan siapapun itu tapi tidak dengan yang memiliki hubungan darah atau keluarga nya. dia terlihat hangat dan ramah.


"Kamu ngelamun ya Ran?" tanya mas Tama melihat ku yang belum memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi


"Ehm, aku pesen tongseng ayam aja mas sama es jeruk" pinta ku setelah melihat daftar menu yang tertera di meja makan kami.


"Oke. saya pesen bebek goreng ya mbak sama tahu dan tempe goreng nya juga mbak minumnya teh hangat saja" ucap mas Tama pada pelayan yang telah berada disebelah meja kami.


Suasana desa nya begitu kental dan terdengar lagu Jawa yang disenandungkan oleh mas Didi kempot berjudul "ambyar"


Tidak lama pelayan tadi sudah datang lagi dan meletakan menu yang kami pesan lalu menuju meja buk kades aku hanya tersenyum membalas senyum buk kades ketika beliau melihat ku dari arah meja nya.


Aku tahu dari senyum beliau ada ketulusan tapi aku tidak tahu harua bagaimana jika mas Tama betul-betul mengatakan perasaannya sama seperti yang buk kades katakan bahwa mas Tama sudah lama memperhatikan ku dan mengenal ku.


"Dimakan Ran, jangan cuma dilihat. disini biasa nya rame kalau malam Minggu. tapi kebetulan ini malam Selasa jadi beruntung kita bisa makan tanpa banyak suara-suara atau penuh"


"Oh iya mas, saya pernah satu kali kemari diajak guru-guru MA ketika selesai kegiatan."


Ku perhatikan mas Tama makan dengan lahap menggunakan tangan nya dan sesekali mas Tama meminum teh nya. dan aku menghilangkan kekikukan ku dengan makan sambil melihat-lihat handphone ku.


"Kamu biasa makan sambil main handphone Ran?" mas Tama mengagetkan ku dengan pertanyaan nya


"Eh... ya kadang-kadang mas, kalau makannya pakai sendok" kata ku seraya menunjukan sendok yang kupakai untuk menikmati tongseng ayam ku.


"Kok kubisnya di singkirin? ga suka ya?"


"Eh iya mas aku kurang suka sama kubis " jawab ku sambil menyingkirkan sayur kubis yang ada di mangkok ku ke piring kecil alas mangkuk tongseng ku


Tiba-tiba aku kaget tidak percaya dan beberapa detik tidak mengedipkan mata ku karena mas Tama mengambil piring kecil yang berisi kubis tadi dan memindahkan kubis tadi ke dalam piring pecel lelenya.


"Loh.... loh.... mas kok ditaruh disitu?" tanya ku penasaran dan tidak percaya apa yang barusan kulihat.

__ADS_1


"Pamali buang-buang makanan mbak Rana. harusnya tadi pesen nya tanpa kubis. tapi untung aku suka sayur-sayuran Ran" jawabnya tanpa melihat ku dan melahap kubis beserta nasi yang ada di dalam piringnya


"Mas Tama ga risih? kan sendoknya bekas saya?"


"Emang mbak Rana punya sakit menular?" tanya Tama menatapku lalu mengalihkan pandangan nya lagi setelah kami kembali bertemu tatap.


"Eh.. ya ga ada sih mas. kita kan ga saling kenal dan dekat" jawab ku sambil tertunduk dan mencoba memakan tongseng yang mau nya terlihat nikmat akhirnya berubah tidak selera


"Kalau tidak kenal kita ga mungkin makan satu meja Ran, dan kamu yang tidak kenal aku. aku sebelumnya minta maaf apa yang ibu katakan benar. aku sering memperhatikan kamu kurang lebih hampir satu tahun aku sering memperhatikan kamu di fotocopy pak Agam dan di perempatan lampu merah. bahkan setiap ke kota aku selalu menyempatkan diri ke fotokopi pak Agam hanya untuk melihat atau mengamati kamu Ran tapi aku tidak ada alasan atau keberanian untuk berkenalan langsung padamu" jawab mas Tama panjang lebar tanpa ku minta.


"......" aku masih diam sesekali melihat mas Tama dan sesekali menundukkan pandangan ku.


"Nah ketika kamu KKN di desa ku sepertinya kita ada tali jodoh nya Ran. aku ingin mengenal kamu lebih dekat. tapi rasanya aku tidak mau mengenal kamu lewat status pacaran. entahlah aku pernah menjalani yang namanya pacaran dan endingnya terlalu menyakitkan. terlalu banyak kamuflase dalam kata pacaran itu" mas Tama mencuci tangannya dan mengelap dengan tisu yang telah disiapkan di atas meja kami


"Aku selalu menceritakan tentang kamu pada ibu Ran. dan beberapa kali ku ajak ibu ke fotokopi pak Agam dan ibu pun mulai paham wajah mu. sehingga ketika kamu KKN disini. ibu langsung mengunjungi aku yang sedang Diklat kemarin. intinya aku cuma mau bilang apa yang ibu bicarakan benar Ran dan kalau boleh kita berkenalan dan aku akan minta ibu dan bapak menemui keluarga mu"


"Jangaaaan.... kataku cepat dan kaget karena mas Tama mengatakan akan menemui ibu ku. tentu saja sebuah kekecewaan akan ibu dapatkan ketika tahu kuliah ku yang belu. selesai dan dilamar orang. belum lagi tetangga-tetangga ku yang kepo pastilah jadi beban ibu ku.


"Jadi kamu menolak ku Ran? tanya mas Tama


"Bukan begitu mas, aku betul-betul harus fokus ke kuliah ku dulu. karena aku tidak mau menambah beban mak ku jika harus menambah semester. Mak ku pasti kecewa ketika aku malah menikah disaat-saat harusnya aku menyelesaikan kuliah ku yang sudah didepan mata aku bisa menyelesaikannya" jawab ku pada mas Tama kali ini ku beranikan menatap wajahnya.


"Jadi kamu mau kita saling mengenal hanya lewat sebuah hubungan teman? atau pacaran?" entah pertanyaan entah sebuah pilihan maksud dari perkataan mas Tama tapi aku hanya bingung dengan merasa hal ini yang begitu tiba-tiba.


Aku bukan seseorang yang begitu cepat mengambil keputusan apalagi itu terkait sebuah keputusan untuk masa depan. jika sebua kata tunangan maka bisa dipastikan kalau akan ada sebuah pernikahan. sedangkan aku tidak begitu mengenal laki-laki didepan ku ini belum lagi hatiku yang luka karena mas Ardy belum sepenuhnya sembuh dan melupakan.


"Bagaimana Ran? kamu belum menjawab pertanyaan ku" kembali mas Tama bertanya kepadaku


"Sejujurnya aku tidak bisa menerima permintaan buk kades dan mas Tama untuk melamar ku mas. jika mas Tama melamar ku. maka sudah tentu diakhirnya akan ada sebuah pernikahan maka mana mungkin saya mau bermain-main dengan sesuatu yang sangat sakral itu. kalau tadi mas Tama mengenal ku lewat curi-curi pandang dan mengetahui aku lewat orang-orang yang mungkin tahu keseharian ku. maka setidaknya beri aku kesempatan mengenal mas Tama juga. baru lah bisa mas Tama mengajukan untuk melamar. aku pun tidak ingin pacaran untuk sementara waktu ini mas. aku harus menyelesaikan wisudah dan untuk lamaran aku tidak bisa" jawab ku panjang lebar setelah ku singkirkan mangkok tongseng yang sudah habis dari tadi.


"Baiklah kalau begitu Ran, berapa lama waktu untuk kita saling mengenal? tanya mas Tama lagi setelah melihat ke arah orang tuanya.


"Kalau berteman kita bisa selamanya mas, tapi kalau untuk proses ta'aruf yang mas Tama katakan tadi aku minta tunggulah setelah aku wisudah tahun depan" jawab ku

__ADS_1


"Tidak Ran ini bukan proses ta'aruf ini jauh dari kata ta'aruf karena aku lebih dulu memperhatikan mu. dan makan satu meja seperti ini,naik motor berdua ketika berpapasan dijalan mau pulang keposko serta mengantarku ke pengajian jika ibu tidak ada itu jauh dari kata ta'aruf, lebih ke kata mengagumi dan menyukai kamu dengan caraku" jawab mas Tama


Entahlah ada rasa hangat di hatiku diujung kalimat mas Tama tapi aku sudah mantap untuk fokus ke kuliah ku dulu.


"Kalau kita berteman maka aku minta nomor WA mu Ran. setidaknya seorang teman harus ada nomor kontak temannya kan?"


Mas Tama menyodorkan. handphonenya yang sudah berada di bagian masukan nomor telepon dan sudah tertulis nama Rana


"Kan mas Tama bisa minta sama ibu?" tanya ku sambil mengetik nomor handphone ku di hp mas Tama


"Aku tidak mau, aku mau langsung dari yang punya nomor jadi ketika aku mengirim pesan yang punya handphone tidak penasaran darimana dapat nomor nya" mas Tama mengambil handphone setelah ku sodorkan kearah nya.


"Terima kasih ya mas atas makan malam nya dan kebaikan mas Tama sekeluarga selama kami KK. disini" kataku setelah kami sama-sama meninggalkan meja karena melihat buk kades dan pak kades telah berjalan ke arah kasir dan menuju pintu keluar dari rumah makan pecel lele Jogja ini.


"Sama-sama"


mas Tama berjalan cepat dan mencubit pipi gembul Dwi yang berjalan di samping Buk kades


"Mas Tamaaaaa..... sakit... bunda... mas Tama selalu mencubit pipiku." teriak Dwi dan memeluk buk kades dari samping


"Tama nanti dia susah makan kalau dicubit pipinya terus"


"Ibu-ibu, dia itu bukan bayi lagi. dan kalau tidak mau makan bagus toh buk jadi irit uan.ng belanja buat beli ayam dan ibu tidak perlu repot--repot menyiapkan bekal porsi jumbo setiap pagi hahahaha...." goda Tama yang kembali mencubit perut adiknya Dwi....


"Kamu ini sudah jadi PNS tingkah laku nya masih kayak anak kecil,ga malu dilihat calon istri?" goda pak kades melirik aku yang sudah duduk disebelah buk kades didalam mobil.


"Bapak, ngarep banget.... lagu di rumah makannya tadi pas sama ending nya pak.."


Bu kades menatap ku dan mas Tama bergantian.


"Ambyaar maksud kamu Tam??" buk kades mengucapkan judul lagu yang dinyanyikan oleh Didi kempot sewaktu di rumah makan tadi.


"Nanti lebih detailnya Bu" jawab Tama sambil memasangkan headset ke telinganya. suasana di mobil sepi karena pak kades sibuk mengemudi dengan kecepatan sedang. dan Dwi sudah terlelap disebelah buk kades. begitu pun buk kades hanya sesekali melihat ke arah depan dan mengusap lembut rambut Dwi sesekali tersenyum pada ku namun buk kades menggenggam erat tangan ku ketika beliau melihat ku melamun kearah luar jendela.

__ADS_1


"Saling mengenal lah dulu Ran, ibu mohon" kata buk kades sambil menggenggam tangan ku lembut. kurasakan tangan hangatnya dan tatapan tulus dari seorang ibu.


__ADS_2