Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 33 SESAJEN


__ADS_3

Satu Minggu lagi telah ditetapkan proses pernikahan ku akan dilangsungkan pada tanggal 1 Juni 2024. Sesuai permintaan Mak e prosesi ijab akan dilaksanakan di rumah.


Para tetangga dan saudara pun dari beberapa hari sudah mulai berdatangan kerumah ku istilah adat kami yaitu adat Jawa dikatakan "rewang".


Rewang adalah tradisi khas pedesaan berwujud membantu tetangga yang sedang punya hajatan entah itu pernikahan, khitanan dsb. Rewang juga bagian dari ciri khas kegotongroyongan orang pedesaan.


Rewang juga sebagai bukti kesadaran membantu tetangga tanpa pamrih. Sehingga ketika dirinya punya hajatan maka otomatis tetangga yang lain juga akan membantu. Ekosistem semacam ini sangat bagus karena akan menumbuhkan simpati dan empati.


Orang pedesaan mengenalnya dengan prinsip "Urip Iku Urup" ( Hidup itu Nyala ) yang memiliki makna hidup itu hendaknya dapat memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita.


Dan aku bersyukur di desa ku prinsip Urip iku Urup masih dijunjung.


Undangan sudah disebar, bahkan aku sudah berada di kampung halaman ku setelah kemarin menghadap kepala sekolah untuk meminta izin cuti. Beruntung 2 guru bahasa Inggris lainnya tidak mengambil cuti jadi aku bisa mengambil cuti mengingat tahun ajaran baru masih terhitung berapa hari berjalan.


Tak lupa sahabat-sahabat ku termasuk ibunya Lilik, dan ibunya Rudi semua ku undang ke acara pernikahan ku. Dan Mas Hardi yang kulihat begitu repot pagi-pagi sekali sudah disini belum malam-malam masih berada dirumah Mak e mengingat sudah Mulai banyak nya bapak-bapak akan kerumah sekedar main gaplek. Nuansa gotong royong di desa ku begitu kental.


Dari proses mencari kayu bakar, mencari bambu untuk tenda di dapur serta proses masak memasak pun dilakukan. Dan tidak tanggung-tanggung mas Hardi menyiapkan satu sapi Betina yang akan di sembelih di acara pernikahan ku nanti karena itu sudah janji nya pada Mak e.


kembali mendekati 2 hari proses Ijab. Kediaman ku makin bertambah ramai dan setiap yang ada disini terlihat sibuk dengan urusan dan tanggung jawabnya masing-masing. Seperti malam hari ini para pemuda dan pemudi terlihat sibuk di dalam tenda dan tepatnya diatas panggung sedang membuat janur dan pernak pernik dekorasi pernikahan umumnya di desa kami.

__ADS_1


Tiba-tiba mas Hardi yang memanggil Mak e ke ara ruang mushola dengan penuh rasa seperti ada masalah aku pun segera mengekor Mak e kedalam ruangan itu.


"Mak, itu mbokde Een kok ya ndadak pakai sajen-sajen itu maksudnya gimana Mak.... Ndak kasihan bapak disana Mak. Kenapa Mak ga bilang jangan pakai sajen-sajen itu sama saja syirik Mak" Mas Hardi berbicara setengah berbisik namun aku yang berada didepan pintu ruang mushola bisa mendengar dengan sedikit jelas masalah apa yang membuat kakak ku itu sedikit memasang muka tegang dan tidak suka.


Ya mbokde Een adalah Kakak perempuan yang paling tua dari sebelah bapak. Dan memang pemahaman nya tentang hal-hal seperti itu masih cukup kental. Setiap acara dimana orang tua dari keluarga sudah tiada harus dibuatkan sajen agar keluarga yang meninggal tadi ikut merasakan kebahagiaan dan tidak ada musibah atau bencana selama proses acara atau hajat berlangsung.


"Di.... kamu tahu mbokde kamu itu begitu keras bahkan dengan pak le Yatno pun sering berselisih pendapat. Kamu lihat bagaimana pak le mu dengan mbokde mu apa pernah pak le mu yang punya pondok pesantren itu memarahi mbak yu nya? kalau mengingatkan iya tapi ketika mbokde sudah meninggikan suara menunjukan ketidaksukaan nya pak le mu lebih memilih diam."


Mak diam dan kembali melanjutkan perkataannya.


"Mak e sudah mengingatkan tetapi masih tak di gubris oleh Mbokde Mu."


"Biarkan mungkin itu kepercayaan dan cara mbokde mu untuk mendoakan Rana dihari bahagianya yang penting kita tidak mempercayai dan ikut memasang sesajen. Niatkan itu bentuk menjaga hubungan baik kita terhadap saudara almarhum bapak yang telah meninggal dunia."


"Betul, dulu bapak lah yang selalu mengingatkan pak le dan saudara-saudara bapak yang lain untuk tidak lupa bahwa mbokde adalah anak tertua si Mbah yang harus dihormati, dijaga perasaan nya. Kenapa Hardi bisa lupa amanat bapak untuk rukun, guyup dengan keluarga.... Maafkan Hardi Mak, baru mengikuti beberapa pengajian dan majelis membuat Hardi hampir kehilangan tata Krama kepada yang lebih tua"


Mas Hardi menunduk setelah mengatakan hal itu pada Mak e.


"Belum tentu orang-orang yang tidak pernah berangkat ke pengajian-pengajian atau majelis-majelis ilmu itu buruk bisa jadi saat orang-orang sedang belajar suatu ilmu agama Orang yang justru dianggap buruk tersebut justru sedang melakukan apa yang sedang orang lain pelajari di majelis.

__ADS_1


Contoh Menantu kesayangan Mak e, apa Imah pernah pergi ke majelis-majelis atau ikut pengajian-pengajian beberapa tahun ini? tidak bukan.... itu karena dia sedang menjalankan apa yang ada juga ilmu di majelis yaitu birrul walidain, ia merawat ibunya yang sudah sepuh dan dia sudah mempraktekkan langsung bukan lagi teori.


Dan tidak semua anak mampu meninggalkan kesempatan beasiswa S1 di Universitas negeri dan memutuskan menikah hanya karena ingin merawat ibunya yang sudah renta dan tidak mau ikut anak nya yang lain. Insyaallah surga menanti Imah dengan segala baktinya pada Mak e dan ibunya."


"Aamiin"


Ucapku bersamaan dengan mas Hardi mengamini doa Mak.


Kami terdiam cukup lama namun tiba-tiba mas Hardi memecahkan suasana hening kami dengan menggoda ku.


"Mak kalau Rana menikah Mak tidak bisa lagi mengatakan mantu kesayangan... pada Imah nanti ada yang cemburu suaminya juga mantu Mak e hehehehe."


"Mas Hardi.... sampai kapan kamu akan menggoda ku...."


"Sampai kamu sudah ada suami hehehehe...."


"Ya sudah Mak, Hardi mau kembali kebelakang takut ada yang butuh apa-apa. Dan kamu calon pengantin nya tolong buatkan mas e kopi dari pagi tadi kopi yang dibuat orang-orang tidak seenak kopi buatan istri dan adik nya mas"


"Siap yang penting besok jangan gugup dan menangis saja ketika proses ijab"

__ADS_1


Goda ku karena kulihat ketika proses ibu nya mas Tama mengalungkan kalung emas di leherku mas Hardi yang duduk di deretan ku ikut menundukkan kepala dan mengelap matanya dengan tisu. Kakak ku itu memiliki hati yang lembut walau pekerjaan sehari-hari nya lebih mengedepan kan tenaga.


__ADS_2