
Pagi ini aku sudah siap-siap untuk berangkat ke SMP tempat Ku ditugaskan selama KKN ini kebetulan mendapat kan tugas selam 2 hari di SMP Negeri.
Aku lebih milih berjalan kaki untuk ke sekolah daripada diantar oleh teman ku dengan motor karena ingin menikmati pemandangan desa yang jarang ditemui di kota.
"Selamat pagi mbak Rana" sapa buk kades kepada ku dibonceng oleh pemuda hitam manis yang mengaku nama nya Tama kemarin
"Selamat pagi Bu" jawab ku sambil mengangguk kan kepala.
"Siapa si Tama itu, masa iya selingkuhan buk kades?" gumam ku dalam hati.
Karena kulihat pak kades pun baru keluar dari rumah dengan menggunakan motor trail ya lengkap dengan seragam seperti PNS.
15 menit kemudian aku sampai di sekolah dan kulihat sosok Mas Tama duduk di depan ruang TU.
"Selamat pagi mas, sapa ku pada pemuda itu, bagaimana pun aku disini mahasiswa KKN dan mas Tama sepertinya memiliki hubungan yang baik dengan buk kades.
"Selamat pagi mbak Rana" balas mas Tama sambil berdiri dari kursi kayu yang ia duduki.
"Mbak pasti masih jengkel atau masih kepikiran yang kemarin ya mbak?" selidik mas Tama saat melihat muka ku yang sedikit datar bahkan cuek dengan mas Tama usai kusapa.
"Ah, ga kok mas. saya cuma lagi kepikiran RPP saya saja belum di Print tadi" aku pun berusaha mencari alasan karena merasa seperti di baca pikiran ku terhadap sosok pemuda di hadapan ku ini,
"Emang ibu ga pernah cerita mbak?" tanya nya pada ku
__ADS_1
"Cerita apa ya mas?" tanya ku pada mas Tama
"Cerita tentang aku? soalnya ibu itu semalam sampai pagi tadi di motor pun yang diceritain mbak Rana, maka nya aku langsung hapal muka dan nama mbak nya. waktu besuk aku juga ibu sempat cerita tentang mbak Rana " jawab nya panjang
"hah??? emang mas siapanya ibu?" tanya ku penasaran
"Hem....saya anak nya buk kades yang tertua mbak, yang kemarin jangan diambil hati. takutnya mbak cerita malah jadi hoaks lagi hehehe..."
"Owh.... tapi kok bahasanya bisa begitu sama ibu nya terus kok ga mirip?
"Owh itu, mbak mau tau banget apa mau tau aja?" tanya nya sambil mendekatkan dirinya ke arah ku
"ehm ehm, yang baru pulang Diklat ga bisa lihat yang seger-seger...." Buk Cahya berkata sambil lewat didepan kami dan melangkah ke ruang TU
"Kapan kamu pulang Tam?"
"Kemaren mbokde, ini aku mau legalisir beberapa ijazah ku untuk kelengkapan siapa tahu besok pas di kota diperlukan jadi aku ga bolak balik mbokde. kemarin dipeseni sama senior soalnya"
"Yo wes ditinggal wae, mengko mbokde titipke Karo cah KKN Yo" (ya sudah ditinggal saja,nanti mbokde titip sama anak-anak KKN)
"Nggeh mbokde, kalau begitu Tama pamit dulu mbokde, insyaallah nanti malam main kerumah mbokde, assalamualaikum" pamit Tama seraya mencium tangan Buka Cahya dan pergi meninggalkan ruangan TU sambil melirik ke arahku.
"Ojo dilirik-lirik Ndak numbur tembok awakmu Tam" (jangan dilirik-lirik ga numbur tembok dirimu tam) goda buk Cahya yang memperhatikan mas Tama melirik ku sambil keluar ruangan dan mas Tama hanya tersenyum khas lesung pipi nya.
__ADS_1
Aku hanya bisa tertunduk sambil pura2 membaca buku pelajaran yang sebenarnya aku tersipu malu karena merasa digoda oleh buk Cahya.
"Tama itu keponakan ku Dan, dia pemuda yang baik, Sholeh, mandiri dan penyayang.baru lulus PNS dan tugas nya besok dikota mu kayaknya.masih bujang loh Ran" goda buk Cahya kepada ku
"Apa sih Bu, lah wong baru kenal kemarin saya juga baru tahu kalo mas Tama itu anaknya buk kades"
"Sebenarnya buk Tati itu sering memperhatikan kamu Ran" kata buk Cahya sambil mendekat dan duduk di bangku yang ada di sebelahku.
"Ah ibu jangan berlebihan buk, tapi emang benar buk mas Tama itu anaknya buk kades?" tanya ku penasaran
"Owh... kamu pasti bingung kok Tama itu ga mirip sama buk Tati , ga mirip juga sama bapaknya?"
"Ya maaf buk dari segi kulit dan muka kok ga mirip, kalau si Dwi sudah tidak diragukan dari badan nya mirip pak kades, mukanya juga kulitnya kayak buk kades" kata ku sambil sedikit tersenyum
Memang kalau dilihat dari kulit mas Tama yang berkulit hitam badannya juga sedikit tinggi serta matanya yang agak sipit tidak ada kemiripan sama buk kades dan pak kades berbeda dengan Rohman anak buk kades yang masih SD kelas 6 itu kulitnya kuning Langsat dan mukanya pun bundar seperti pak kades.
"Tama itu anak dari istri pertama pak kades ya adik ku kandung ku, dulu ketika melahirkan Tama adik ku meninggal. dan saat itu bapaknya Tama masih jadi supir ekspedisi kami keluarga nya mbak Nani masih di Jawa belum ada yang pindah kesini, zaman dulu belum ada HP hp an. nah Bu Tati itu yang merawat Tama selama bapaknya belum pulang dan mengurus semua pemakaman nya Nani adik ku. setelah meninggal pun Tama sering dititipkan dengan buk Tati karena buk Tati mempunyai warung sendiri walau masih gadis. akhirnya ayahnya Tama menikah dengan Buk Tati karena mengingat disini tidak punya keluarga dan Tama masih kecil butuh seorang ibu"
"Ding Ding Ding, waktu belajar telah dimulai, diharapkan kepada seluruh siswa untuk masuk kelas" speaker menandakan pelajar an telah dimulai
"Nanti kita sambung lagi ya Ran.... pokoknya kenalan aja dulu siapa tahu jodoh, KKN nya jadi Kisah Kasih Nyata" canda buk Cahya yang langsung cepat meninggalkan ruangan TU kearah ruang kepala sekolah.
Aku hanya menggeleng kan kepala dengan apa yang barusan aku dengar.
__ADS_1